Opini

Miq Iqbal dan Malam di Dampek

20
×

Miq Iqbal dan Malam di Dampek

Share this article
IMG 20260821 WA0061
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA! : Daro Reruntuhan Ke Harapan”

KAMIS malam, 20 Agustus 2026, lampu tenda di Dampek, Manggarai Timur, tidak padam. Di antara deretan terpal yang masih menahan dingin, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal duduk bersila. Miq Iqbal, tidak datang membawa pidato. Ia datang membawa malam yang sama dengan warga: malam yang panjang karena gempa belum mau selesai di dalam dada.

Siangnya ia berjalan bersama Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Dua nama, dua provinsi, satu napas kerja sama. Bali, NTB, NTT, diikat dalam Kerjasama Regional Bali-NTB-NTT (KR-BNN), bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, tapi langkah yang mampir ke dapur, ke tenda, ke wajah-wajah yang belum berani pulang. Solidaritas diukur bukan dari jarak ibukota, melainkan dari seberapa dekat kita mau duduk di tanah orang.

“Sobat, kami tahu perjalanan ini tidak mudah. Ada begitu banyak ujian, air mata, dan perjuangan yang harus dilewati. Namun percayalah, Bapak Gubernur NTT tidak sendiri. Kami akan tetap membersamai, menguatkan, dan berdiri bersama dalam setiap langkah,” ucap Miq Iqbal dengan nada haru.

Tanah Dampek masih berbau debu. Retakan kecil di dinding rumah warga seperti garis-garis yang belum selesai ditulis. Di sinilah trauma menetap, bukan di berita. Di sinilah pertanyaan berulang: “Apakah aman pulang?”, dijawab dengan diam dan pelukan, bukan janji.

Di dalam tenda, anak-anak tidur dengan satu mata terbuka. Orang tua menumpuk kardus sebagai bantal, bukan karena tidak ada kasur, tapi karena takut. Trauma tidak butuh undangan untuk tinggal. Gempa susulan belum datang, tapi bayangannya sudah lebih dulu menempati sudut. Iqbal menatap itu lama. Kadang memimpin berarti diam dan menemani, membiarkan keheningan menjadi selimut.

Baca Juga :  Kepala Daerah, Kapan Berhenti Korupsi?

Tak jauh dari situ, asap mengepul dari Dapur Umum. Petugas Dinas Sosial NTB mengaduk panci besar. Relawan Tagana menakar beras. Warga ikut memotong sayur, seolah ingin memastikan bahwa tangan mereka masih berguna. Ribuan porsi makanan lahir dari situ setiap hari. Bukan makanan mewah. Nasi, lauk sederhana, air bersih. Tapi di masa darurat, hangatnya lebih dari cukup untuk mengingatkan kita bahwa kita masih diurus, masih diingat.

Ada satu hal kecil yang tidak kalah penting: colokan listrik. Kabel-kabel menjuntai dari genset, menjadi urat nadi baru. Warga mengisi daya gawai mereka. Ponsel menyala lagi. Kabar bisa dikirim. Doa bisa diteruskan. Di tengah reruntuh, komunikasi adalah bentuk lain dari bertahan. Petugas pun bisa berkoordinasi. Rasa takut sedikit berkurang ketika kita tahu dunia luar masih mendengar.

Malam itu Miq Iqbal bermalam di posko. Ia memilih menginap dan mendengar suara angin menampar terpal, suara sendok beradu di panci, suara doa lirih sebelum tidur. Mungkin itu cara paling jujur untuk memahami luka: tinggal sebentar di tempat luka itu menginap. Tidur di bawah atap yang sama membuat jarak antara pemimpin dan warga menjadi setipis selimut.

Di tengah malam seperti itu, kehadiran menjadi bahasa. Tidak perlu banyak kata. Cukup duduk, cukup bertanya “bagaimana kabar?”, “sudah makan?”, “salam kenal”, dan cukup memastikan lampu tetap menyala. Karena yang paling ditunggu warga bukan janji besar, tapi kepastian kecil bahwa mereka tidak sendiri menghadapi gelap.

Dampek mengajari kita bahwa bencana mempertemukan, bukan memisahkan. Di dapur yang sama, NTB dan NTT mengaduk rasa. Di tenda yang sama, takut dan harapan tidur berdampingan. Dan kini gempa itu mempertebal persaudaraan kita, lebih dari sekadar satu nusa.

Baca Juga :  60 Tahun Dr. Adian Husaini; Sepak Terjang dan Karya Monumental

Kehadiran, dapur, air bersih, dan tenaga yang dikirimkan bukan hanya bantuan, tapi bukti bahwa persaudaraan KR-BNN nyata. Karena kadang, kerja sama regional bukan soal proyek besar. Ia adalah segelas air, seporsi nasi. Dan seseorang yang mau duduk menemani sampai pagi kala dilanda duka.

“Atas nama rakyat dan pemerintah NTT, kami menyampaikan terima kasih. Dukungan dari saudara-saudara kami di NTB dan Bali sangat berarti bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit ini,” ujar Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena disela-sela mendampingi Miq Iqbal mengunjungi korban gempa di Manggarai Timur, Kamis 20 Agustus 2026.

Terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Gubernur Bali I Wayan Koster. Terima kasih juga kepada Miq Iqbal dan seluruh jajaran Pemerintah Provinsi NTB. Bagai Rinjani yang meneduhkan, bagai laut yang merangkul pulau-pulau, kebijakan Miq Iqbal menjadi arah yang baik bagi NTT untuk melangkah.

Terima kasih pula untuk kerja, untuk keringat, dan untuk mimpi yang dirawat bersama selama ini. Semoga NTB terus menjadi rumah yang hangat dan tempat tenun harapan tak pernah putus bagi para pelajar, mahasiswa dan perantau asal NTT. Hormat dan doa kami dari NTT selalu menyertai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *