Opini

Jadikan Dunia Sebagai Lapak Amal!

6
×

Jadikan Dunia Sebagai Lapak Amal!

Share this article
IMG 20261004 WA0009
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu” dan Bidang Humas DKM Maslicha

Ahad, 4 Oktober 2026, Masjid Maslicha Perumahan Arumsari, Talun, Cirebon, Jawa Barat. Udara pagi masih sejuk dan lembab, sisa embun subuh masih menggantung di ujung daun. Jamaah berdatangan dengan langkah pelan, membawa rindu yang tak bersuara. Lampu masjid menyala hangat, seperti pelukan yang menenangkan jiwa. Suasana Ahad penuh khidmat, hening, penuh berkah yang turun perlahan. Semua hadir bukan sekadar duduk, tapi ingin pulang dengan hati yang lebih hidup.

Masjid Maslicha mulai ramai oleh jamaah yang mencintai subuh. Kajian dimulai pukul empat empat lima, saat langit masih setengah terjaga. Drs. H. Muslim Mukhlas hadir, membawa tausiyah yang lembut namun menghujam. Temanya sederhana, namun dalam: hidup seperti musafir yang hanya singgah. Pesan itu jatuh tepat di hati yang sering lupa arah pulang. Jamaah menyimak dengan khusyuk, seolah sedang bercermin pada dirinya sendiri.

Pada pertemuan itu beliau titipkan tiga bekal penting untuk perjalanan pulang. Poin pertama, hiduplah seperti musafir yang tahu ia hanya singgah sebentar. Poin kedua, ingatlah mati, karena ia adalah nasihat yang paling jujur. Poin ketiga, berbekal-lah dengan taqwa, karena hanya itu bekal yang tidak akan hilang. Tiga poin itu saling bertaut, seperti akar yang menguatkan pohon. Inilah inti tausiyah pagi yang pelan-pelan menyalakan cahaya di dada.

Hidup di dunia ini ternyata hanya sebentar, secepat embun yang menguap. Kita hanyalah musafir yang menumpang teduh, lalu melanjutkan perjalanan abadi. Waktu kita pendek, bahkan lebih pendek dari yang kita kira. Tak ada yang tahu kapan ajal mengetuk pintu dengan lembut. Semua hanya Allah yang menentukan, dengan kasih dan hikmah-Nya. Kesadaran ini membuat hati tawadhu, tak lagi silau oleh gemerlap yang fana.

Baca Juga :  Isyarat al-Quran dan Bencana Kepalsuan

Dunia ini hanyalah ladang, bukan rumah untuk menetap selamanya. Apa yang kita tanam dengan ikhlas, itulah yang akan kita tuai di akhirat. Jangan kejar dunia sampai lupa untuk apa kita diciptakan. Bekerjalah secukupnya, dengan niat ibadah yang tulus karena Allah. Cukup saat dibutuhkan, itulah nikmat yang hakiki dan menenangkan. Itulah rezeki yang membawa pulang, bukan yang menahan kita di persinggahan.

Allah berfirman dengan janji yang indah: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Nahl: 97). Hidup baik bukan tentang harta yang menumpuk tinggi. Hidup baik adalah hati yang merasa cukup, damai, dan pandai bersyukur. Cukup adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh waktu. Maka kejarlah rasa cukup, bukan rasa tamak yang tak pernah kenyang.

Mari bertanya pelan ke dalam hati kita sendiri yang paling jujur. Kehidupan ini sebenarnya akan kita bawa kemana pada akhirnya. Jika untuk urusan kerja saja kita takut terlambat sedetik. Mengapa untuk panggilan masjid kita berani menunda-nunda tanpa rasa malu. Padahal panggilan itu datang dari Pemilik dunia dan seisinya. Malulah jika kita lebih patuh pada atasan, daripada pada yang menciptakan kita.

Hidup sebagai musafir berarti tahu jalan pulang dan tidak buta arah. Seorang musafir tidak akan membangun istana di tempat persinggahan. Ia hanya membawa bekal ringan, sekadar cukup untuk sampai tujuan. Bekal itu adalah amal yang ikhlas dan niat yang lurus karena Allah. Jangan sampai kita tersesat karena terlalu mencintai tempat singgah. Ingatlah, tujuan kita bukan di sini, tapi di rumah yang abadi.

Pesan kedua adalah mengingat mati dengan kesadaran yang penuh cinta. Setiap perjalanan pasti ada ujungnya, seindah apa pun jalannya. Mengingat mati bukan membuat kita putus asa menjalani hidup. Mengingat mati justru melembutkan hati yang keras dan lalai. Ia membuat waspada, membuat rindu untuk segera kembali dan bertaubat. Taubat adalah pintu yang selalu terbuka, seluas ampunan Allah.

Baca Juga :  Ingat Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Orang yang bertaubat akan selalu ingin memperbaiki dirinya setiap hari. Perbuatan buruk pasti dicatat malaikat dengan teliti tanpa terlewat. Perbuatan baik belum tentu diterima tanpa keikhlasan yang murni. Maka berbuat baiklah hanya karena Allah, bukan karena ingin dilihat manusia. Lakukan dengan ikhlas, dengan kesadaran iman yang tulus dan rendah hati. Karena Allah Maha Melihat, bahkan niat yang tersembunyi di dalam dada.

Lihat shalat kita, maka kita akan melihat hidup kita yang sebenarnya. Shalat yang baik akan membuat hidup kita juga baik dan tertata. Shalat adalah cermin bening yang memantulkan bersihnya jiwa. Jagalah shalat tepat waktu, dengan khusyuk dan penuh cinta. Kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita akan menjaga langkah dari maksiat. Itulah kunci hidup yang selamat, sampai ke garis akhir.

Pesan ketiga adalah berbekal dengan taqwa yang terbaik, karena Allah berfirman: “Berbekal-lah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah: 197). Sebaik-baik bekal adalah taqwa kepada Allah Yang Maha dibatas segalanya. Harta dan pangkat akan tertinggal di kubur yang sempit dan gelap. Hanya taqwa yang setia menemani, bahkan ketika semua pergi. Semoga Allah membimbing kita untuk terus memeluk taqwa dengan ikhlas. Taqwa itulah wujud cinta sejati seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kajian Ahad pagi ditutup dengan doa yang lirih dan penuh harap. Embun masih menggantung di pelataran Masjid Maslicha yang sejuk. Langkah jamaah pulang terasa lebih ringan, lebih terarah, lebih yakin. Kita pulang sebagai musafir yang kini tahu ke mana harus kembali. Semoga perjalanan singkat di lapak amal dunia ini berbuah panen abadi. Itulah harapan setiap hati beriman yang rindu akan surga.

Baca Juga :  SDIT Ibnu Abbas Sukses Masuk Final Turnamen Futsal Tingkat Kecamatan Talun

Semoga Allah membimbing kita agar istiqomah di jalan pulang yang diridhai. Semoga subuh kita tidak hanya tepat waktu, tapi juga membawa cahaya ke dalam hati. Semoga kerja kita menjadi ibadah, bukan kelalaian yang menjauhkan dari-Nya. Semoga setiap detik sebagai musafir ini bernilai taqwa di sisi Allah. Dan semoga akhir persinggahan kita adalah husnul khatimah yang indah, untuk perjalanan pulang yang paling kita rindukan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *