Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh Lokal dan Nasional
DARI tanah Manggarai Barat, NTT, terdapat sebuah ungkapan tua yang menenangkan jiwa. “Olo la’it pa’it, detak nggera, ito po ita di’a”. First the bitter and salty, then the sweet. Kalimatnya pendek, namun maknanya sedalam samudera. Di dalamnya terkandung falsafah hidup yang jujur dan mendalam. Bahwa setiap manusia harus merasakan pahit dan asin terlebih dahulu, sebelum manis itu datang menyapa.
Hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mudah dan lapang. Di awal perjalanan, Tuhan sering menyuruh kita menelan pahit yang menyesakkan dada. Kaki harus berdarah menapaki jalan terjal yang tak bertepi. Keringat harus jatuh bukan karena kita lemah, melainkan karena kita sedang dibentuk menjadi kuat. Di titik itulah kesabaran diuji, apakah kita tetap bertahan atau memilih pulang sebelum sampai.
Padahal di dalam pahit yang kita benci itulah, Tuhan sedang bekerja dengan cinta yang senyap. Pahit tidak datang untuk meruntuhkan, melainkan untuk membersihkan hati dari debu kesombongan. Asinnya air mata dan peluh adalah tanda bahwa kita masih hidup dan masih setia pada perjuangan. Setiap luka yang kita simpan diam-diam adalah doa yang tumbuh tanpa suara. Dan dari luka-luka itulah, jiwa yang rapuh perlahan menjelma menjadi cahaya yang tangguh.
Karena itu, jangan membenci proses yang melelahkan itu, peluklah ia dengan lapang dada. Jangan mengutuk hari ini hanya karena hasilnya belum kau genggam. Setiap benih yang kau tanam dengan cinta memiliki waktunya sendiri untuk berbunga. Tuhan tidak pernah terlambat, kitalah yang sering tergesa ingin segera sampai. Tugas kita hanya satu, menjaga hati tetap lurus dan langkah tetap setia menuju cahaya.
Pelajaran ini bisa kita lihat dari petani di pematang yang sepi sebelum fajar menyingsing. Ia menabur benih bukan dengan kepastian, melainkan dengan harapan yang dititipkan pada langit. Ia tidak marah pada tanah ketika tunas belum juga menyembul esok hari. Ia merawat, membersihkan, bertahan dalam terik yang membakar dan hujan yang mengguyur tubuhnya. Ia paham betul, kesabaran hari ini adalah pelukan panen yang akan datang esok hari.
Begitu pula kita yang sedang berjuang dalam senyap yang tak dilihat manusia. Pahit yang kita telan hari ini bukanlah hukuman, melainkan pupuk yang menyuburkan jiwa. Air mata yang jatuh tanpa suara malam ini adalah saksi paling jujur bahwa kita sungguh-sungguh hidup. Tidak ada ikhtiar tulus yang akan hilang di hadapan semesta. Semua akan kembali, dengan cara yang jauh lebih indah dari yang pernah kita pinta.
Kebenaran itulah yang saya temukan secara nyata ketika menulis belasan buku biografi tokoh. Tidak ada kemuliaan yang dibangun di atas jalan yang instan dan mudah. Semua harus melewati lorong pahit, asin, dan sepi yang panjang. Seperti Pak Aminudin Ridwan dengan permen jahe 61 yang merintis dari dapur kecil dengan keyakinan sebesar langit. Beliau mengajarkan bahwa kesabaran merawat proses jauh lebih mahal dari sekadar memburu hasil.
Seperti Pak Lalu Pathul Bahri Bupati Lombok Tengah yang meniti jalan pengabdian dengan luka dan fitnah yang tak terhitung. Jalan pengabdiannya tidak manis di awal, ia harus membayarnya dengan kesabaran yang tak pernah putus. Seperti Pak Arief yang pernah mengemban amanah sebagai Kepala Badan Pangan Nasional. Ia ditempa oleh kerja-kerja senyap dan tekanan yang berat sebelum dipercaya memikul harapan banyak orang. Dan seperti Bang Heldy Agustian Walikota Cilegon serta banyak jiwa hebat lain yang mengajarkan, hidup yang manis selalu lahir dari keberanian mencicipi pahit.
Dari rangkaian kisah itu, kita belajar satu hal yang paling penting. Jika hari ini dada kita sesak dan berat, jangan berhenti melangkah. Jika hari ini usaha kita belum juga berbuah, jangan berhenti belajar dan memperbaiki diri. Jika jalan di depan kita terasa panjang, gelap dan sepi, jangan berbalik hanya karena takut dan lelah. Bisa jadi kita sedang berada di titik paling pahit dari kisah kita sendiri. Dan percayalah, tepat setelah pahit inilah, Tuhan sedang menulis bab paling manis untuk hidup kita.
Kita memang sering tergoda ingin segera sampai tanpa mau memeluk perjalanannya. Padahal keindahan hidup bukan terletak pada garis finis, melainkan pada luka-luka di sepanjang jalan. Tanpa pernah mengenal pahit, bagaimana mungkin kita tahu mengapa manis harus disyukuri. Tanpa pernah merasakan asin keringat sendiri, bagaimana mungkin kita mengerti berharganya sebuah keberhasilan. Di sanalah hidup mengajarkan keseimbangan, agar kita tak pongah saat di atas dan tak hancur saat di bawah.
Ingatlah dengan hati yang jernih, Tuhan tidak menciptakan pahit untuk melukai kita. Ia menitipkan pahit agar hati kita belajar merendah dan menghargai hal-hal kecil. Ia menghadirkan asin agar kita tahu setiap tetes perjuangan itu suci dan bermakna. Semua rasa itu datang silih berganti bukan untuk melemahkan, tapi untuk mendewasakan jiwa kita. Agar kelak ketika manis itu tiba, kita menjadi manusia yang lebih bersyukur, lebih kuat, dan lebih memanusiakan manusia.
Olo la’it pa’it, detak nggera, ito po ita di’a. Jalani setiap prosesnya dengan sabar dan syukur yang paling dalam. Nikmati setiap perihnya dengan hati yang lapang dan ikhlas. Percayalah sepenuhnya pada waktu dan cara Tuhan yang Maha Sempurna. Karena hidup yang pahit hari ini sedang menyiapkan bahagia yang manis di kemudian hari. Tetaplah kuat, tetaplah rendah hati, dan tetaplah berjalan, sampai manis yang kita tunggu itu datang memeluk kita dengan bangga. (*)






