Opini

Menjadi Suami dan Ayah Siaga

10
×

Menjadi Suami dan Ayah Siaga

Share this article
IMG 20260509 WA0013
Foto : Syamsudin Kadir/Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Muhammadiyah: Ide, Narasi dan Karya”

Pada Ahad 3 Mei 2026 lalu saya berkesempatan menghadiri acara Pengajian Bulanan Hari Ber-Muhammadiyah Keluarga Besar Muhammadiyah dan Aisyiyah Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang berlangsung di Masjid Mujahidin, Sumber, Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan ini dilangsungkan dalam rangka meneguhkan silaturahim keluarga besar Muhammadiyah dalam lingkup Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumber.

Pada kajian yang bertema “Refleksi Hardiknas untuk Peradaban Keislaman dan Keindonesiaan” ini menghadirkan Prof. Dr. H. Hajam, MA., Wakil Rektor III UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon, sebagai narasumber tunggal. Mengawali materinya Prof. Hajam, demikian ia akrab disapa, menyampaikan betapa pentingnya pendidikan dalam memajukan bangsa, termasuk dalam perjalanan sejarah bangsa kita: Indonesia, yang pada 17 Agustus 2026 nanti genap berusia 81 tahun.

Ada banyak poin materi yang disampaikan oleh Prof. Hajam saat itu. Misalnya, kurikulum pendidikan, tantangan dunia pendidikan dan kewenangan elemen tertentu yang memang memiliki tugas dan fungsi untuk itu. Prof. Hajam juga mengulas seputar fenomena dunia pendidikan dan berbagai masalah di luar lembaga pendidikan yang berdampak dan punya pengaruh pada dunia pendidikan secara umum.

Hal yang menarik lagi, Prof. Hajam menegaskan bahwa pemahaman yang keliru disebabkan oleh proses belajar yang keliru. Di sinilah perlunya penguatan keilmuan secara integratif, sehingga bisa berdampak pada pengamalan yang benar dan berdampak baik. Ilmu yang benar akan menyentuh akal, hati dan tingkah laku. Karena itu, tiga hal tersebut saling terkait dan mesti mendapat perhatian yang sama. Bila berlangsung dengan baik, maka terbentuk karakter dan akhlak baik. Ujungnya akan terlahir generasi emas bar

Urgensi Pendidikan Keluarga

Baca Juga :  Konsolidasi PPP Menuju Pemilu 2029

Nah, ini yang benar-benar poin sangat penting. Prof. Hajam juga menyampaikan bahwa pendidikan mencakup pendidikan keluarga, lingkungan dan formal seperti sekolah. Secara khusus, pendidikan keluarga memiliki posisi penting. Di sinilah keteladanan menjadi urgen dan menentukan. Orangtua yang layak menjadi teladan besar kemungkinan akan dijadikan contoh oleh anak atau anggota keluarganya. Baik dalam perkataan dan perbuatan maupun dalam sikap sehari-hari.

Nah, salah satu perjalanan Prof. Hajam yang membuat hati saya semakin tersentuh adalah ketika beliau menyampaikan bahwa bila pendidikan keluarga sudah dilingkupi keteladan yang baik, maka besar kemungkinan akan memberi dampak baik bagi kemajuan keluarga bahkan bagi masyarakat juga bangsa. Bila proses pendidikan di keluarga berlangsung dengan baik, maka akan terbentuk keluarga yang beradab dan kelak menjadi batu bata terbentuknya bangsa dan negara yang berkemajuan.

Dari situ saya menjadi teringat dan terus terngiang dengan firman Allah dalam surat at-Tahriim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ya, betapa besar kewajiban dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang suami atau ayah. Salah satu tugas besar seorang suami atau ayah adalah menjadi teladan kebaikan bagi istri dan anak-anaknya. Ayat di atas benar-benar mengetuk pintu hati saya, bahwa menjadi kepala keluarga itu benar-benar berat tapi mulia. Di situlah letak pentingnya literasi keluarga atau parenting, misalnya, memahami psikologi keluarga, tips menjadi ayah hebat, cara mendengar istri, cara menemani anak, dan sebagainya.

Baca Juga :  MUI Sebagai Rumah Umat Islam Indonesia

Masyaa Allah, mesti banyak belajar nih, biar jadi suami atau ayah siaga yaitu yang lebih layak dicontoh dan diikuti serta jadi inspirasi bagi istri dan anak-anak. Bukan untuk pamer kebaikan, tapi biar kebaikan berlipat ganda dan menyebar ke mana-mana, minimal pada orang terdekat. Ya Allah, Engkau Maha Baik. Dalam kondisi apapun, Engkau hadirkan orang-orang baik untukku. Alhamdulillah, selain banyak orang baik di luar sana, bahkan yang utama adalah mereka yang sangat dekat denganku, seperti istri dan anak-anakku. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *