Cirebon

Refleksi Hardiknas, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber Adakan Kajian Bulanan di Masjid Mujahidin

3
×

Refleksi Hardiknas, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber Adakan Kajian Bulanan di Masjid Mujahidin

Share this article
IMG 20260503 WA0041
Foto : Istimewa/GM

CIREBON, GM – Akhir-akhir ini dunia pendidikan Indonesia kerap mengalami berbagai masalah dan tantangan serius juga pelik. Guru dicela secara terbuka oleh para siswanya, mahasiswa tersangkut kasus amoral, oknum dosen terlibat kasus korupsi dan berbagai kasus lainnya.

Hal tersebut terungkap dalam acara Pengajian Bulanan Hari Ber-Muhammadiyah Keluarga Besar Muhammadiyah dan Aisyiyah Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang berlangsung di Masjid Mujahidin, Sumber, Cirebon, Jawa Barat, pada Ahad (3/5/2026).

Kegiatan ini dilangsungkan dalam rangka meneguhkan silaturahim keluarga besar Muhammadiyah dalam lingkup Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumber.

“Alhamdulillah kita bisa bertemu untuk kegiatan ini, kesempatan untuk silaturahim, dan mendapatkan penjelasan seputar materi yang dipaparkan oleh narasumber,” ungkap Irfan Sholahudin Gozali, M.E. selaku Ketua PCM Sumber.

Pada kajian yang bertema “Refleksi Hardiknas untuk Peradaban Keislaman dan Keindonesiaan” ini menghadirkan Prof. Dr. H. Hajam, MA., Wakil Rektor III UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon, sebagai narasumber tunggal.

Mengawali materinya Prof. Hajam menyampaikan betapa pentingnya pendidikan dalam memajukan bangsa, termasuk Indonesia. Namun demikian, dunia pendidikan sering mengalami berbagai masalah pelik, termasuk perubahan kurikulum yang masih kerap terjadi.

“Fenomena negara kita di Indonesia ini seringkali mengadakan perubahan kurikulum pendidikan, yang sedikit banyak mempengaruhi tingkat keberhasilannya,” ungkapnya.

Menurut dia, berbagai masalah pendidikan masih sering muncul belakangan ini. Tak sedikit guru yang dicela oleh muridnya hanya karena salah paham. Ada juga lembaga pendidikan yang mahasiswanya tersangkut kasus amoral.

Sebabnya lanjut dia, karena pendidikan kerap dipahami sekadar transfer pengetahuan, bukan membentuk karakter unggul. Bahkan ilmu sering dipahami secara sekuler, bukan integratif dan utuh.

“Semua itu menjadi refleksi kita. Ini terjadi karena belum menguatnya integrasi keilmuan dan pengamalan ilmu. Akal, hati dan tingkah laku itu saling terkait. Bila berlangsung dengan baik, maka karakter terbentuk, akhlaknya juga baik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Turnamen Esport Hari Jadi Cirebon ke-598 Siap Digelar, Total Hadiah Rp 15 Juta! Yuk Daftar Sekarang!

Pendidikan mencakup pendidikan keluarga, lingkungan dan formal. Secara khusus, pendidikan keluarga memiliki posisi penting. Di sinilah keteladanan menjadi penentu. Orangtua yang layak menjadi teladan beda kemungkinan akan dijadikan contoh oleh anak atau anggota keluarganya.

“Elemen penting pendidikan terutama pendidikan keluarga adalah keteladanan. Orangtua harus jadi teladan bagi anak-anaknya. Bila tidak, anak-anak akan mencari alternatif lain di luar rumah,” lanjutnya. (SK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *