Opini

Kiat-kiat Menghafal Al-Qur’an untuk Anak Usia Awal Sekolah Dasar

10
×

Kiat-kiat Menghafal Al-Qur’an untuk Anak Usia Awal Sekolah Dasar

Share this article
IMG 20260426 WA0052
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syabilah

Guru SDIT Tahfizh Sabilul Qur’an Kota Cirebon

ANAK usia Sekolah Dasar memiliki potensi dan keunikan tersendiri. Tak sedikit diantara mereka yang memiliki cita-cita untuk menghafal Al-Quran. Walaupun berbagai kendala kerap mengganggu, namun mereka seperti pada umumnya anak usia demikian, selalu hadir dengan lugu, lucu dan tulusnya. Mereka seperti sudah menjiwai bahwa Al-Quran bakal memberi syafaat bagi siapapun yang membacanya, bahkan menghafalnya.

Saya sendiri merupakan guru di SDIT Tahfizh Sabilul Qur’an Kota Cirebon yang sehari-hari bersama dan mengajar serta membimbing anak-anak khususnya kelas 1 untuk menghafal Al-Quran. Di tengah geliat mereka untuk menghafal, diantara hal yang sering mereka hadapi adalah kurang fokus saat menghafal, terutama bila kegiatan menghafal terlalu lama tanpa variasi.

Setelah ditelisik, saya menemukan fakta bahwa bila anak-anak kurang fokus saat menghafal, hal tersebut ternyata pertanda adanya kondisi atau sebab yang mendasarinya. Misalnya, proses pembelajaran yang kurang menarik. Proses semacam itu membuat mereka bosan dan jenuh, bahkan kurang konsentrasi dan kesulitan dalam menghafal Al-Quran. Bila kondisi demikian terjadi berulang kali, maka dampaknya anak-anak sering tersendat dalam menghafal.

Solusi Konkret

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, ternyata solusinya yaitu (1) kreatif dan telaten dalam menggunakan metode pembelajaran. Di sinilah perlunya guru memahami metode pembelajaran yang dipilih berdasarkan kebutuhan dan kondisi anak-anak. (2) proses pembelajaran didesain lebih menarik. Hal ini bakal menjadi magnet bagi anak-anak untuk menyenangi proses menghafal. Ketertarikan mereka berdampak pada geliat mereka untuk menghafal Al-Quran.

Berdasarkan pengalaman, berikut merupakan beberapa metode tahfizh cukup efektif yang saya gunakan di kelas selama ini. Pertama, Metode Talaqqi. Ia merupakan metode yang cukup efektif, terutama bagi siswa dengan gaya belajar auditori. Saya biasanya membacakan ayatnya terlebih dahulu, sejenak mereka mendengarkan lalu menirukan, dan diulang sebanyak 5 – 10 kali.

Baca Juga :  Strategi PPP Menuju Senayan 2029

Kedua, Metode Membaca Mandiri. Metode ini biasanya siswa membuka Al-Qur’an dan membaca sendiri ayat yang akan dihafal. Guru tetap menyimak dan membantu jika terdapat kesalahan dalam pelafalan dan harakat serta panjang-pendek bacaan. Metode ini membantu siswa mengenali bentuk tulisan ayat, sehingga mempermudah proses menghafal, terutama bagi siswa dengan gaya belajar visual.

Ketiga, Metode Tebak Ayat. Cara ini dilakukan dengan cara guru membaca potongan awal ayat, kemudian siswa melanjutkan. Metode ini cukup efektif karena dapat melatih daya ingat siswa sedikit demi sedikit. Saat saya menggunakan metode ini anak-anak terlihat lebih antusias, bahkan kerap berebutan untuk melanjutkan potongan ayat yang dibacakan.

Keempat, Metode Muroja’ah. Muroja’ah adalah kegiatan mengulang hafalan ayat Al-Qur’an yang telah dihafal sebelumnya dengan tujuan memperkuat hafalan siswa. Bagi siswa yang sudah memiliki hafalan, murojaah sangat penting dilakukan setiap hari agar hafalan tetap terjaga dan tidak mudah hilang. Metode mengulang ini sering dipilih oleh hampir semua usia, terutama usia anak-anak.

Dari pengalaman saya, siswa yang rutin muroja’ah biasanya lebih lancar dalam menghafal. Muroja’ah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus, karena menjaga hafalan sama pentingnya dengan menambah hafalan baru. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Peliharalah Al-Quran ini. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Sungguh, Al-Quran itu lebih muda lepas dibanding unta dari ikatannya.” (HR. Muslim).

Dari pengalaman yang saya lakukan di kelas, penggunaan beberapa metode di atas dalam menghafal Al-Qur’an sangat membantu siswa, terutama siswa usia awal SD. Metode-metode tersebut membuat siswa lebih mudah menghafal dan lebih kuat dalam mengingat ayat hafalannya. Oleh karena itu, ada baiknya para guru mencoba menggunakan metode tersebut atau metode yang menarik lainnya agar pembelajaran tahfizh dapat berjalan dengan baik dan melahirkan para penghafal Al-Quran sejak usia dini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *