Opini

Mengenang Pua Abdul Tahami

6
×

Mengenang Pua Abdul Tahami

Share this article
IMG 20260613 WA0006
Buku Mengenang Pua Abdul Tahami Oleh: Syamsudin Kadir Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Anak ke-4 Bapak Abdul Tahami

MENGENANG sosok yang berjasa besar dalam kehidupan kita merupakan bagian dari cara kita menghormati, menghargai dan mencintainya. Melanjutkan dan mengikuti jejak baiknya serta akrab dengan keluarganya adalah tradisi baik yang mesti dijaga. Kebaikan yang dilakoni selama hidup bakal berdampak luas bila kebaikan tersebut ditebar ke banyak orang, baik sebagai inspirasi maupun sebagai motivasi. Dan, saya sangat percaya itu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menegaskan bahwa bila anak cucu Adam atau manusia meninggal maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal yaitu ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah dan anak soleh yang selalu mendoakannya. Hadits ini menjadi penegas yang paling apik betapa seorang yang beriman, lalu meninggal dunia, bakal mendapatkan dampak baik di akhirat dari tiga hal tersebut yang ia miliki dan lakoni selama hidup di dunia.

Tentang Buku Ini

Buku ini adalah dokumen dan saksi bahwa kata dapat menjadi penjelas yang runut tentang sosok yang kita cinta, termasuk ayah kita. Buku yang berjudul “Abdul Tahami; Ayah, Guru dan Pemimpin Inspiratif” ini merupakan kumpulan tulisan saya tentang ayah saya sendiri Bapak Abdul Tahami selama beberapa tahun terakhir, baik di blog pribadi maupun akun Facebook saya. Termasuk yang tersimpan rapih di buku dan catatan harian saya selama tiga dekade lebih.

Pua, demikian akrab saya menyapa beliau, lahir tahun 1948 di Cereng, sebuah kampung di Golo Sengang, Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT. Beliau menikah dengan Ibu Siti Jemami pada tahun 1975. Beliau wafat pada Oktober 2020 lalu. Pua adalah sosok ayah yang membimbing, mengasuh dan melindungi. Beliau juga guru teladan yang cerdas, disiplin dan telaten. Dan, beliau juga pemimpin yang amanah, apik dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Eksistensi MUI: Refleksi dan Rekomendasi

Buku setebal 350-an halaman ini saya susun secara runut dari sisi Pua sebagai ayah bagi kami 9 anak beliau, 6 perempuan dan 3 laki-laki. Kemudian menjelaskan beliau dari sepak terjangnya saat menjadi guru selama beberapa tahun di SDK Naga. Dan terakhir, saya mengulas tentang beliau dari aspek kepemimpinan saat menjadi kepala desa Golo Sengang beberapa tahun. Juga sepak terjang Pua di berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Sang Literat

Hal yang paling melekat dalam ingatan saya tentang Pua adalah sosoknya yang melek literasi. Bukan saja buku yang lahap dibaca, tapi juga koran dan majalah era itu. Seingat saya, Pua aktif membaca koran Dian, salah satu koran bernyawa Katolik namun memuat informasi dalam berbagai isu dan tema. Salah satu yang paling disukai Pua adalah halaman wawancara tokoh dan ulasan seputar pertanian di NTT dan Indonesia kala itu.

Hal lain, Pua juga suka mendengar siaran radio, baik saat berita nasional dan daerah maupun kegiatan sosial kemasyarakatan dan diskusi yang kerap disiarkan oleh RRI Makasar kala itu. Tentu saja termasuk radio lokal Manggarai yang berkantor di Ruteng, sebelum kelak terbagi menjadi tiga kabupaten yaitu Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Selain itu, Pua juga suka mendengar ceramah keagamaan Islam di RRI. Intinya, Pua sosok literat yang giat.

Bukan itu saja, Pua juga aktif mendengar diskusi nasional seputar pemerintahan, kepemimpinan, dinamika politik, penegakan hukum, kasus korupsi, ekonomi dan berbagai macam tema. Uniknya, setiap mendengar hal-hal yang dianggap perlu, Pua langsung menulisnya di buku harian atau kertas kecil yang sengaja beliau sediakan di atas meja atau di samping radio dan gelas berisi air gula merah hangat yang sering disediakan oleh istrinya, Ibu Siti Jemami.

Baca Juga :  Menggapai Hudan, Syifa dan Syafa’at al-Qur’an

Refleksi

Tulisan ini tentu tidak cukup untuk mengulas secara detail tentang apa yang saya ulas dalam buku yang saya tulis selama satu tahun terakhir ini. Buku ini juga belum tentu mewakili seluruh rekam jejak dan sepak terjang Pua selama hidup, baik sebagai kepala keluarga dan guru maupun sebagai tokoh masyarakat dan pemimpin desa kala itu. Namun demikian, buku ini dapat menghilangkan sedikit dahaga bagi mereka yang penasaran tentang sosoknya.

Buku ini dapat menjadi pengingat bagi saya sebagai anak dan delapan anak lainnya tentang Pua yang telah berjasa besar bagi kehidupan keluarga kecil kami. Kami adalah Ahmad Kahir, Siti Marwia, Siti Mardia, Syamsudin Kadir, Siti Murti, Siti Nurfi Isya, Siti Nurfa Jamila, Rafiq Jumalik dan Siti Harmiyati. Selain itu, ada puluhan cucu dan satu cicit beliau. Insyaa Allah semuanya menjadi generasi yang selalu mendoakan Pua juga istrinya, semoga mendapat jatah surga terbaik dari Allah.

Dengan pengetahuan yang sangat terbatas tentang sosok Pua, pada buku ini saya berupa mengulas apa yang saya ingat, lihat dan alami juga dengar. Saya berharap buku ini bukan saja menjadi kado untuk anak, cucu dan cicit serta keluarga besar beliau, tapi juga menjadi hadiah bagi siapapun yang pernah berinteraksi dan hendak mengambil inspirasi dari gagasan, perjalanan hidup dan pengalamannya. Semoga buku ini menjadi salah satu dari amal yang tersambung manfaatnya untuk saya, Pua dan keluarga besar serta siapapun di luar sana. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *