Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi dan Tokoh
Alhamdulillah pada Ahad 26 April 2026, saya bisa silaturahim dengan Bapak KH. Asep Zaki Mulyatno, M.KM. atau KH. Abi Zaki, salah satu keturunan dari Bapak KH. Abdul Halim, pendiri ormas Persatuan Ummat Islam (PUI) di Kompleks Pondok Pesantren Asromo, Majalengka, Jawa Barat. Beliau merupakan Pimpinan atau Mudir Ponpes Santi Asromo.
KH. Abdul Halim adalah Pahlawan Nasional yang lahir 26 Juni 1887 dan wafat 7 Mei 1962. Beliau adalah tokoh yang mewariskan tradisi intelektual dan lembaga pendidikan kepada anak negeri dan para generasi penerusnya. Salah satunya adalah Ponpes Santi Asromo yang berlokasi di Desa Pasirayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Pesan Pertemuan
Dari pertemuan ini saya mendapatkan banyak cerita dan nasehat dari KH. Zaki. Pertama, berkaitan dengan risalah dan nasehat KH. Abdul Halim tentang urgensi pendidikan dan kaderisasi santri. Menurut beliau, “santri lucu” adalah salah satu konsep pendidikan warisan KH. Abdul Halim. Cirinya yaitu berilmu, mandiri dan berdampak atau banyak bermanfaat.
Kedua, pentingnya literasi, terutama menulis sebagai dokumen sejarah. Khusus untuk poin yang kedua ini menjadi konsen pertemuan selama 1 jam lebih ini. Menurut penjelasan beliau, ponpes warisan KH. Abdul Halim tersebut diwakafkan sejak 1932, kemudian masjid pertama yang ada di lingkungan pondok didirikan pada tahun 1938 silam.
Sepak terjang Santi Asromo dari waktu ke waktu sangat membanggakan. Pada tahun 2027 nanti, usia Santi Asromo sudah genap 95 tahun. Usia yang cukup tua untuk hitungan sebuah lembaga pendidikan berbasis Islam. Dalam rangka itu, saya diminta oleh beliau untuk berkolaborasi dalam penulisan naskah buku tentang refleksi 95 tahun tersebut.
Kolaborasi semacam ini merupakan sebuah anugerah dan kesempatan bagi saya untuk semakin mendalami dunia kepenulisan, terutama yang berkaitan dengan sejarah, sepak terjang dan perkembangan lembaga pendidikan seperti Santi Asromo. Sebagai pemula dalam dunia kepenulisan, bagi saya ini adalah momentum untuk belajar dan belajar.
Selebihnya, saya berpandangan bahwa menulis bukan sekadar mengumpulkan kata-kata menjadi satu naskah buku. Lebih dari itu, menulis adalah kerja peradaban. Ini adalah napak tilas spiritual dan intelektual yang dijalani dengan melakukan pendalaman atas berbagai dokumen yang tersedia sekaligus mengelaborasinya hingga menjadi buku.
Beberapa saat menjelang kembali ke Cirebon, ditemani oleh Pak Lili Solihin, salah seorang pengasuh senior di Santi Asromo, saya ziarah makam KH. Abdul Halim dan keluarga besarnya yang berada di lingkungan pondok. Hikmah dan pembelajarannya yaitu saya mesti mengingat mati dan persiapkan amal terbaik menuju kehidupan akhirat yanga abadi.
Jazakumullah dan terima kasih banyak saya sampaikan kepada keluarga besar Santi Asromo, terutama Pimpinan atau Mudir Ponpes Santi Asromo, Bapak KH. Zaky atas perkenan untuk silaturahim dan atas kepercayaannya kepada saya. Insyaa Allah amanah ini saya akan jadikan sebagai medium pembelajaran dan penguatan literasi. (*)






