Oleh: Suhaimi Makmun Asgar
Pengajar di Ponpes Nurul Hakim Lombok
DI tengah bentangan kearifan lokal Bayan yang sarat nilai adat, tradisi, dan spiritualitas yang mengakar kuat, hadir sosok ulama yang menempuh jalan berbeda dalam berdakwah. Namanya TGH. Safwan Hakim. Anak dari TGH. Abdul Karim (alm.) ini tidak memilih jalan konfrontasi, tidak pula tergesa dalam mengoreksi. Justru memilih langkah: merawat, memahami, lalu perlahan mengarahkan. Inilah yang menjadikan dakwahnya terasa sejuk; mengubah tanpa melukai, membimbing tanpa merendahkan.
Bayan merupakan salah satu daerah di salah satu kabupaten baru di NTB yaitu Kabupaten Lombok Utara atau KLU yang ada di Pulau Lombok. KLU bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang budaya yang hidup dengan harmoni antara adat dan keyakinan. Dalam konteks seperti ini, pendekatan keras justru berpotensi menciptakan jarak, bahkan konflik sosial di tengah masyarakat.
TGH. Safwan Hakim memahami betul bahwa masyarakat tidak bisa dipisahkan secara tiba-tiba dari akar tradisinya. Oleh karena itu, sosok ulama yang dikenal teduh ini memilih pendekatan gradual; mengganti tanpa mematikan, memperbaiki tanpa mempermalukan. Metode dakwah TGH. Safwan Hakim berangkat dari empati yaitu mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai.
Dalam setiap majelis ilmu, bahasa yang digunakan sederhana, dekat dengan keseharian masyarakat, dan tidak menghakimi. Kritik disampaikan dalam bentuk hikmah, bukan hujatan. Nasihat hadir sebagai pelukan, bukan tekanan. Dari sinilah tumbuh kepercayaan dan cinta yang tulus dari masyarakat, sebuah modal utama dalam perubahan sosial yang berkelanjutan.
Salah satu keistimewaan pendekatan TGH. Safwan Hakim adalah kemampuannya menyelaraskan nilai Islam dengan kearifan lokal. Alih-alih menolak tradisi secara frontal, TGH. Safwan Hakim memilah mana yang bisa dirawat dan mana yang perlu diluruskan. Tradisi yang masih selaras dengan nilai tauhid dibiarkan hidup sebagai jembatan dakwah, sementara praktik yang menyimpang diperbaiki secara perlahan melalui edukasi dan keteladanan.
Dalam prosesnya, TGH. Safwan Hakim tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga teladan hidup. Masyarakat tidak sekadar mendengar ceramahnya, tetapi menyaksikan langsung akhlaknya. Kesederhanaan, kesabaran, dan konsistensi TGH. Safwan Hakim menjadi dakwah yang paling kuat dampaknya di tengah masyarakat; dakwah yang tidak banyak kata, tetapi amal nyata sehingga dalam maknanya.
Lebih dari itu, TGH. Safwan Hakim membangun ruang dialog, bukan dominasi. Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk saling memahami. Dengan cara ini, masyarakat tidak merasa dipaksa berubah, melainkan diajak tumbuh bersama. Perubahan pun terjadi secara alami, tanpa gejolak yang merusak harmoni sosial.
Dakwah yang dijalani oleh TGH. Safwan Hakim yaitu dakwah tanpa luka. Tapi itu bukan berarti dakwah tanpa ketegasan. TGH. Safwan Hakim tetap memiliki prinsip yang kokoh dalam menjaga kemurnian ajaran. Namun ketegasan itu dibalut dengan kebijaksanaan; disampaikan pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, dan kepada hati yang siap menerimanya.
Apa yang dilakukan TGH. Safwan Hakim di Bayan menjadi pelajaran penting bagi dunia dakwah hari ini, bahwa perubahan sejati tidak selalu lahir dari suara yang keras, tetapi dari hati yang tulus dan pendekatan yang manusiawi. Bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga memastikan kebenaran itu dapat diterima tanpa menimbulkan luka.
Sejak akhir dekade 1980-an sampai hari ini langkah dakwah beliau tidak terhenti. Bahkan setelah TGH. Safwan Hakim meninggal dunia pada Rabu 20 Juni 2018, dakwah yang dijalani selama hidupnya dilanjutkan oleh para santrinya lintas generasi. Dari rahim Pondok Pesantren Nurul Hakim yang berada di Kediri, Lombok Barat, TGH. Safwan Hakim mengirim para da’i muda ke wilayah Bayan, juga daerah lainnya.
Di Bayan dan berbagai daerah itu para santri TGH. Safwan Hakim bukan sekadar untuk singgah, tetapi untuk menetap, berbaur, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Para da’i ini hidup bersama warga, merasakan denyut keseharian mereka, dan membangun hubungan yang tulus dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, dakwah yang membangun adalah dakwah yang menjaga iman, ilmu dan amal juga martabat manusia. Dan, kita harus mengakui secara jujur bahwa di tangan TGH. Safwan Hakim, dakwah menjadi seni yaitu seni merangkul, seni memahami, dan seni mengubah tanpa harus menghancurkan. (*)






