Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
ADA orang-orang yang hidupnya tidak diukur dari panjangnya waktu, tapi dari dalamnya jejak. Mas Ahmad Zaki Ali salah satunya. Kemarin, Jumat, 21 Agustus 2026, Mas Zaki masih sempat sujud berjamaah dengan para korban gempa di Dampek. Masih sempat menyalami, masih sempat menanyakan “Sudah makan belum?” dengan suara yang sama hangatnya seperti saat pertama kali datang. Sosok yang selalu berbagi senyuman, termasuk pada yang belum diajak kenalan.
Beberapa jam kemudian, kabar duka itu sampai: “Ahmad Zaki Ali, Founder Yayasan Gerak Bareng, meninggal di tengah misi kemanusiaan, Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 16.40 WITA di Manggarai Timur, NTT.” Berita menyebar dalam hitungan menit bahkan detik ke berbagai akun dan grup media sosial. Pertanda bahwa kepergiannya adalah kehilangan yang sangat. Bukan soal usia nadinya, tapi nadi lakonnya di dunia kepedulian atas nama kemanusiaan.
Jejak Kebaikan untuk NTT
Setiap siang Mas Zaki bolak-balik Reo–Dampek. Jalan yang rusak, debu, dan lelah tidak pernah cukup untuk menghentikan langkahnya. Siang untuk mengangkat reruntuhan dan mengangkat hati orang. Malam untuk berteduh di Masjid Nurul Huda Reo, beristirahat sebentar sebelum kembali lagi ke medan yang sama keesokan harinya. Itulah caranya mencintai manusia: tidak dengan pidato, tapi dengan hadir.
Di tengah reruntuhan Flores, di tengah gempa bumi NTT, ada satu orang yang memilih tinggal lebih lama. Memastikan tidak ada yang merasa sendirian. Memastikan doa dan logistik sampai ke tangan yang gemetar. Memastikan bahwa bencana tidak berhasil membuat kita lupa bahwa kita bersaudara. Bahwa tak boleh ada duka dan luka yang dialami sesama tanpa ada pelukan hangat dari yang lain di luar sana.
Rekam jejaknya di pemulihan pasca gempa NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026 NTT memang membanggakan. Sejak awal Mas Zaki tidak bisa diam saat orang lain sedang runtuh: rumah dan harapan. Para relawan sering bilang, “Kami hanya titipan tenaga.” Mas Zaki membuktikan itu dengan cara yang paling utuh. Tenaganya dititipkan, waktunya dititipkan, bahkan nyawanya pun ia titipkan di tempat yang paling membutuhkan.
Melalui akun Instagram pribadinya @ahmadzaki_ali, Mas Zaki mengabarkan bahwa dirinya telah enam hari berada di wilayah terdampak gempa. Ia dan rombongan sudah di NTT sejak Ahad 16 Agustus 2026. “Alhamdulillah, sekarang Jumat tanggal 21 Agustus 2026, saya sudah enam hari berada di NTT, dan alhamdulillah sebagian besar amanah kawan-kawan baik telah tersampaikan, tersalurkan ke ratusan keluarga yang terdampak gempa,” ucapnya.
Flores hari ini kehilangan satu penolong yang tulus. NTT saat kehilangan satu pejuang autentik. Relawan kemanusiaan yang melangkah melampaui batas-batas suku, ras dan latar belakang lainnya. Tapi langit hari ini bertambah satu penjaga. Namanya bakal terkenang, bukan saja oleh sesama relawan kemanusiaan, tapi juga oleh warga yang tangan dan dukanya pernah tersentuh oleh Mas Zaki dan kolegany
Terima Kasih dan Selamat Jalan!
Selamat jalan Mas Zaki. Terima kasih karena sudah mengajarkan kami arti “Gerak Bareng” yang sesungguhnya: bergerak meski takut, bergerak meski lelah, bergerak sampai napas terakhir karena ada orang lain yang masih menunggu. Semoga setiap langkahmu dari Reo ke Dampek dicatat sebagai ibadah. Semoga setiap sujudmu di masjid darurat menjadi cahaya. Semoga setiap pelukanmu untuk para korban menjadi saksi di hadapan-Nya!
Kami yang ditinggal akan melanjutkan. Kami akan mengangkat kardus, membagi air, dan duduk menemani para korban gempa seperti yang sering Mas Zaki lakukan. Agar nama Gerak Bareng tidak berhenti di nama yayasan, tapi hidup di setiap tangan yang mau menolong. Walau berbeda latar dan lapak, kita tetap mengerjakan hal sama demi kemanusiaan. Namanya bisa berbeda tapi intinya sama: Bantu dan tolong sesama.
“Selamat jalan, Bang Zaki. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa kebaikan tak mengenal jarak, tak mengenal lelah, tak mengenal batas. Engkau datang dari Jakarta ke Flores hanya untuk menolong, dan kini engkau pulang membawa pahala yang tak terukur. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan kesabaran yang tak terhingga. Semoga Allah membalas setiap langkah perjuanganmu dengan Surga-Nya. Aamiin!,” tulis akun Facebook Baiq Yeni Rina.
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Kita adalah milik Allah dan bakal kembali lagi kepada-Nya. Selamat jalan, Mas Zaki. Pengabdianmu di tengah bencana NTT akan selalu kami kenang. Dan cinta tidak pernah mati, ia hanya pindah tempat: dari dadamu, ke dada kami semua. Dari dadamu ke dada para korban gempa yang hingga kini masih menanti kepedulian dan kehadiran siapapun yang hatinya tulus, matanya melihat dan kakinya melangkah. (*)






