Opini

Merajut Kepedulian di Tenda Darurat

13
×

Merajut Kepedulian di Tenda Darurat

Share this article
IMG 20260822 WA0026
Foto : Ist/GM

Oleh: Kanisius Jehabut

Anggota DPRD dan Politikus Gerindra Manggarai Barat

SEJAK 15 Agustus 2026 lalu, Flores, NTT, tidak lagi bangun dengan suara ayam dan tawa pagi. Gempa datang, dan bersamanya kampung-kampung berubah rupa. Di halaman, di ladang, di pinggir jalan, tenda-tenda darurat berdiri berjajar. Warnanya pucat, bentuknya sederhana, seperti payung-payung kecil yang dipaksa menahan bukan hanya hujan, tetapi juga gemetar di dalam dada.

Malam di tenda berbeda dengan malam di rumah. Tidak ada saklar yang bisa mematikan gelap, tidak ada pintu yang bisa menahan angin. Yang ada hanya suara: desir terpal, tangis anak yang mencari tidurnya, dan bisik-bisik warga yang bergiliran berjaga. Tikar tipis menjadi alas, langit-langit plastik menjadi atap, dan dingin merayap masuk dari sela-sela yang tidak bisa kita tutup.

Dulu kita mengira yang membuat sulit tidur adalah nyamuk. Ternyata bukan. Dulu kita kira yang membuat menggigil adalah udara. Ternyata bukan juga. Yang paling berisik di malam hari adalah kecemasan. Kecemasan akan guncangan susulan yang entah kapan datang, seperti tamu yang tidak diundang tapi selalu diingat, duduk di pojok tenda dan menolak pulang.

Ada rumah-rumah yang kini hanya menyisakan puing dan kenangan. Ada juga rumah yang masih utuh, dindingnya masih berdiri, atapnya masih meneduh. Tapi penghuninya memilih di luar. Bukan karena tidak punya tempat, melainkan karena keberanian untuk masuk sudah retak duluan. Rumah yang dulu kita sebut tempat berlindung, kini dipandang seperti orang asing yang pernah menyakiti.

Di sinilah saya baru mengerti. Kasur empuk, lampu kuning di kamar, dinding yang kokoh menahan angin, semua itu selama ini kita sebut “biasa”. Kita mengeluh karena bantal kurang tinggi, karena AC terlalu dingin. Padahal kenyamanan adalah kemewahan yang diam-diam menopang kita, sampai satu guncangan mengajarkannya pergi dalam sekejap, tanpa pamit.

Baca Juga : 

Tapi tenda bukan hanya tentang kehilangan. Di bawah terpal yang sama, saya melihat hal lain tumbuh. Ada ibu yang membagi nasi bungkus terakhirnya. Ada bapak yang meminjamkan selimut meski dirinya masih kedinginan. Ada anak-anak yang tertawa sambil bermain batu, seolah ingin mengingatkan orang dewasa bahwa hidup harus terus berjalan, meski tanah masih gemetar.

Tenda menjadi saksi bisu. Saksi bahwa dalam sempit, manusia masih bisa melapangkan hati. Dalam takut, manusia masih bisa saling menguatkan. Air satu jerigen dibagi untuk lima kepala keluarga. Cerita dibagi sampai rasa berat terasa ringan. Luka dibagi sampai tidak terasa sendirian lagi. Di tempat yang paling rapuh, persaudaraan justru paling kokoh.

Waktu berjalan pelan di dalam tenda. Hari diukur dari kapan beras datang, dari kapan relawan lewat, dari kapan matahari cukup tinggi untuk menghangatkan tikar. Kita belajar bersabar dengan menunggu. Kita belajar bersyukur dengan yang sedikit. Kita belajar bahwa bertahan bukan soal kuat sendiri, tapi soal mau digandeng. Dan bila gempa benar-benar selesai, kita layak membawa pembelajaran baru: hidup mesti dibangun dari titik nol.

Gempa boleh meretakkan tembok dan merampas tidur nyenyak kita. Tapi ia tidak sanggup merobohkan kepedulian. Selama masih ada tangan yang saling menggenggam di bawah langit tenda, selama masih ada suara “sudah makan belum” yang diucapkan dengan tulus, maka harapan akan selalu punya tempat berteduh. Dari sinilah kita belajar lagi: rumah bukan hanya batu, semen dan papan juga bambu. Rumah adalah rasa aman yang kita bangun bersama. Rumah adalah ketika kita pulang bukan ke dinding, tapi ke orang-orang yang memilih tinggal, meski dunia sedang runtuh. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *