Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
SABTU pagi, 15 Agustus 2026. NTT diguncang gempa M7,7. Langit belum sepenuhnya terang, tapi bumi sudah runtuh. Di Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur hingga Manggarai Barat orang berlari keluar rumah dengan dada berdebar dan menyebut nama Allah di lisan. Di saat yang sama, kabar itu sampai ke banyak hati. Dan salah satunya memilih untuk tidak hanya terdiam adalah Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB.
TGH Muzakar Idris selaku pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hakim berpesan jelas: “Semoga Allah memberikan kekuatan bagi saudara-saudara kita di NTT dalam menghadapi cobaan ini.” Nurul Hakim pun menyerukan empat jalan cinta: mendata santri asal NTT yang keluarganya terluka, mempermudah akses komunikasi agar rindu segera sampai, memberikan pendampingan psikologis agar luka batin ikut sembuh, dan menggalang dana di setiap lembaga.
Nurul Hakim bergerak cepat karena peduli sesama. Bantuan uang ujungnya jadi selimut, air minum, obat, dan tenaga bagi warga terdampak. Karena bencana tidak butuh penonton. Bencana butuh teman. Ketika pemerintah dan TNI menerbangkan Hercules berisi ratusan ton bantuan, Nurul Hakim hadir sebagai satu titik kecil dalam jejaring besar itu. Titik yang penting, karena tanpa titik-titik kecil, garis kemanusiaan tidak akan pernah terbentuk.
Bantuan bukan hanya soal jumlah. Mereka yang meninggal dan luka, ribuan jiwa yang terdampak adalah manusia. Mungkin sementara angkanya terlihat kecil. Tapi di baliknya ada anak yang kehilangan rumah, ibu yang kehilangan dapur, kakek yang kehilangan tempat berteduh. Di sanalah kehadiran kepedulian paling dibutuhkan. Nurul Hakim datang bukan untuk diwawancara, tapi untuk duduk sejajar di atas terpal, berbagi cerita, dan bilang: “Kita kuat sama-sama, kita bersaudara”.
Ada puisi di dalam tenda. Di posko pengungsian, di tenda darurat, di antrean dapur umum, di rumah sakit dan pusat kesehatan yang dibikin dadakan. Di sana orang tidak bertanya siapa, apa latar dan dari kota mana. Satu yang ditanya: “Adakah yang berkenan membantu?” Nurul Hakim menjawab dengan mengangkat. Mengangkat duka, mengangkat luka. Tumbuhkan semangat dan harapan yang sempat jatuh bersama atap dan dinding rumah.
Saya ingat kata Presiden Prabowo Subianto: bekerja cepat, tapi data harus akurat. Bantuan harus tepat sasaran. Begitu juga kepedulian. Nurul Hakim mengerti itu. Tidak datang untuk pencitraan, tapi datang karena ada yang harus dipegang tangannya hari ini. Mungkin seorang anak yang trauma. Mungkin orangtua atau wali santri yang rumahnya roboh. Mungkin santri madrasah yang kehilangan al-Quran. Kehadiran sekecil itu, ternyata bisa jadi jangkar.
NTT mengajarkan kita tentang jarak. Jauh di peta, dekat di rasa. Jakarta mengaktifkan posko di Halim Perdanakusuma, LAZISMU bikin tenda darurat di Ende, TNI membantu evakuasi di Manggarai, dan Nurul Hakim menyeberang dengan niat hal serupa. Bagi salah satu pondok pesantren terbesar di NTB ini, solidaritas tidak mengenal lokasi dan zona geografis. Ketika saudara kita roboh, kita ikut menahan.
Bencana boleh meretakkan rumah, tapi tidak akan pernah memisahkan saudara. Di saat bumi berguncang, doa, data, dan tangan yang terulur justru menegakkan kita kembali. Semoga setiap rupiah yang kita titipkan, setiap kabar yang kita sambungkan, menjadi saksi bahwa Nurul Hakim dan NTT tetap satu dalam rasa, satu dalam sujud, dan satu dalam harapan pada perlindungan Allah.
Hingga saat ini masa tanggap darurat masih berlangsung. Luka belum semua sembuh. Tapi karena ada yang mau datang, NTT tidak sendirian. Jazakumullah dan terima kasih Nurul Hakim. Terima kasih kepada para Tuan Guru, para Ustadz dan Ustadzah, para Santri dan keluarga besar Nurul Hakim, terutama Dokter Fauzan yang hadir di lokasi. Terima kasih karena telah mengubah “turut prihatin” menjadi kaki yang melangkah, tangan yang memberi, dan doa yang selalu terpanjat untuk keselamatan bagi sesama saudara.
Terima kasih juga kepada Bapak Badarudin, asal Reok, Manggarai, orangtua dari Syifa Azzahra kelas X Kuliner di SMK Plus Putri Nurul Hakim. Saya bersyukur kepada Allah karena mengenalkan saya dengan orang baik seperti Bapak. Terima kasih telah tulus menyalurkan bantuan, menjadi titian pahala dan ladang amal kebaikan yang Allah berkahi. Semoga setiap butir bantuan itu menjadi cahaya, keberkahan, dan doa yang terus mengalir untuk semuanya! (*)






