Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan
KAMIS pagi, 20 Agustus 2026, di Surabaya, Jawa Timur. Laut baru bergerak pelan penuh syahdu. Ia mengayun pelan di Dermaga Armada Timur, dikenal Armatim. Di sana ada dua kapal yang telah menunggu. Kapal yang satu ditumpangi oleh TNI Angkatan Laut, KRI Teluk Parigi 539. Kapal yang satu lagi, Dharma Lautan, membawa orang-orang yang memilih berangkat membawa bantuan dari berbagai titik.
Di antara peti dan kardus, ada doa tulus yang dilipat rapi. Ada nama Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang disebut pelan dalam hati, karena gempa 7,7 pada Sabtu 15 Agustus 2026 lalu meretakkan tanah dan juga meretakkan tenang warganya. Begitulah warga Muhammadiyah juga masyarakat Jawa Timur mencintai saudara mereka di NTT. Sederhana tapi sangat bermakna.
LAZISMU Jawa Timur memberangkatkan bantuan senilai Rp175 juta. Itu tahap awal, sambil menanti tahap selanjutnya. Tapi itu bukan sekadar angka. Ya, jangan pernah meremehkan angka sumbangan atau bantuan. Di dalamnya ada 350 box family kit untuk keluarga yang malamnya tidur di bawah langit terbuka atau tenda-tenda. Ada 1.440 kemasan RendangMu, lauk yang dulu dari qurban, kini menjadi penguat di dapur darurat.
Ada 60 dus air minum, 500 meter terpal untuk atap sementara, genset agar malam tidak gelap gulita, perangkat penguat sinyal agar kabar bisa sampai, dan 100 pakaian anak agar tawa kecil tetap punya baju. LAZISMU Jawa Timur hanyalah sebagian dari wajah Muhammadiyah dari berbagai daerah dan provinsi yang telah dan akan terus berbagi. Mereka sedang dan akan terus melipatgandakan kepedulian untuk NTT.
Wakil Ketua Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan LAZISMU Jawa Timur, Aditio Yudono, berdiri di tepi kapal dengan penuh semangat. Ia kadang berjalan bolak-balik memastikan rombongan telah siap berangkat. Suaranya tidak keras, tapi mantap: “Bismillah, untuk membantu warga terdampak gempa sekaligus mendukung aksi kemanusiaan Muhammadiyah Jawa Timur di Flores, LAZISMU Jawa Timur mengirimkan bantuan logistik.”
Kapal bergerak sekitar 18 knot, kurang lebih 36 kilometer per jam. Tiga sampai empat hari di laut, tergantung cuaca dan takdir perjalanan. Sementara itu, 14 relawan MDMC Jawa Timur sudah lebih dulu menapakkan kaki di NTT. Mereka datang dengan berbagai keahlian, membentuk Pos Koordinasi di Kota Ende. Dari sana, tangan-tangan itu akan merambat ke Pos Pelayanan di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo.
Selama dalam masa tanggap darurat, apa yang ditunaikan oleh LAZISMU Jawa Timur dan dari daerah juga provinsi lain, cukup membantu untuk menata luka. Layanan yang dibuka sederhana: kesehatan, dan dapur umum yang mengepul setiap hari. LAZISMU memilih membeli beras, sayur, dan lauk dari pasar-pasar setempat. Karena menolong bukan hanya soal memberi makan, tapi juga menjaga denyut ekonomi warga yang ikut terguncang.
Ada satu hal yang layak kita catat ketika bencana datang seperti yang terjadi di NTT sekarang. Bantuan itu bukan hanya kardus yang dipindahkan dari gudang ke kapal. Ia adalah keputusan untuk tidak menutup mata pada sesama. Ia adalah orang-orang yang rela meninggalkan rumahnya demi rumah saudara yang kini sedang diguncang gempa. Ia adalah pengorbanan untuk membantu siapapun yang sedang duka dan luka.
“LAZISMU berkewajiban mendukung pergerakan para relawan, baik melalui dukungan dana operasional maupun bantuan logistik,” kata Aditio. Kalimat itu terdengar seperti janji kecil di tengah laut besar. Tapi dampaknya menggerakkan banyak orang untuk bergerak dan mengulurkan tangan. Tidak mesti hari ini, tapi juga untuk hari-hari selanjutnya.
Penikmat laut akan terus berjalan menuju daerah yang dituju. Kapal akan terus menyeberang menemui saudara di seberang. Dan di antara ombak, ada manusia yang belajar satu hal lagi: bahwa duka yang jauh pun bisa kita pangku, jika kita mau mengulurkan tangan. Mungkin tak selalu dengan angka besar, tapi dengan dengan niat tulus dan motivasi besar. Bahwa saudara yang duka mesti segera pulih.
Semoga yang dikirim hari ini sampai tepat waktu. Semoga yang menerima menemukan sedikit hangat di tengah dinginnya tenda. Dan semoga kita semua ingat, bahwa menjadi saudara artinya tidak menunggu bencana reda untuk saling menolong. Karena perut lapar tak bisa diselang jeda, sakit tak bisa dibiarkan berlarut lama dan kesabaran tak bisa ditambal kata-kata puitis yang tersimpan di meja kerja.
Di ujung tulisan ini, kita layak berbagi kabar bahwa LAZISMU membuka pintu bagi siapa saja yang ingin ikut membantu. Donasi bisa disalurkan ke Bank BSI 9000009994, Bank Jatim Syariah 6141111999, dan Bank Muamalat 7710015630. Terima kasih banyak untuk siapapun yang mengirim doa dan berbagi rupiah berapapun angkanya. Sungguh, setiap kebaikan pasti dibalas oleh Allah Yang Maha Kuasa. (*)






