Oleh: Syamsudin Kadir
Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat
RIBUAN gempa bumi susulan mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) usai gempa dahsyat magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Kamis, 27 Agustus 2026, sudah terjadi 8.193 gempa susulan mulai dari M 6,2 hingga yang terkecil M 1,1.
BNPB memprediksi gempa susulan masih berlangsung hingga empat pekan setelah gempa utama, atau awal September 2026. Sementara dari jumlah pengungsi, BNPB mencatat adanya penurunan sebanyak 2.416 orang yang sudah memutuskan kembali ke rumah. Saat ini ada 176.621 pengungsi. Penurunan yang signifikan berasal dari Kabupaten Sikka.
Pembelajaran Berharga
Pertama, gempa yang berulang sebagai tanda-tanda kiamat. Salah satu tanda kiamat adalah semakin banyak gempa bumi. Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi” (HR. Al Bukhari)
Maka makin seringnya gempa mesti mengingatkan kita, bahwa bisa jadi ini menunjukkan kiamat semakin dekat. Meskipun dekatnya kiamat tidak dapat dipastikan berapa lama lagi, tapi kita mesti terus berbenah dan menyiapkan diri. Jaga ibadah wajib dan sunah, banyak berzikir, beristighfar dan bertaubat kepada Allah, serta banyak beramal baik lainnya.
Kedua, gempa yang terjadi sebagai bukti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Fenomena gempa yang terus berulang, seperti yang terjadi di NTT, juga merupakan bukti kebenaran hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini sebagai penegas dan bukti nyata bahwa apa yang disampaikan oleh beliau adalah benar adanya dan pasti terjadi.
Allah berfirman dalam surat an-Najm ayat 3-4, “Dan tidaklah apa yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
Allah juga berfirman, “Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. al-Baqarah: 147).
Ketiga, gempa mesti menyadarkan agar kita menyiapkan bekal kematian. Namun, hal yang jauh lebih penting lagi yaitu bagaimana persiapan kita menghadapi kematian. Sebuah kiamat sughra yang pasti menghampiri setiap orang. Ada yang meninggal lantaran sakit, kecelakaan, dan gempa bumi. Hal yang pasti, kalaupun kita tidak bertemu dengan kiamat kubra, kita pasti bertemu dengan kiamat sughra.
Suatu ketika, ada sahabatnya yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kapan datangnya hari kiamat. Beliau justru bertanya balik. “Apa bekalmu untuk menghadapinya?” Beruntung, sahabat ini ternyata memiliki bekal yang luar biasa berupa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga beliaupun mensabdakan bahwa sahabat tersebut akan berkumpul dengan orang yang ia cintai.
Sungguh beruntung orang-orang yang concern menyiapkan bekal untuk menghadapi kiamat. Dan sekali lagi, kematian adalah kiamat personal bagi tiap orang. Menurut pandangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang paling baik bekalnya menghadapi kematian, menghadapi kiamat, dialah mukmin yang paling cerdas.
“Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kematian itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk mukmin yang paling cerdas” (HR. Ibnu Majah, Hakim, Baihaqi, dan Thabrani)
Gempa-gempa yang terjadi sejatinya mengingatkan kita bahwa kematian demikian dekat dan bisa datang kepada kita kapan saja. Ia juga sepatutnya mengikis habis kesombongan dan keangkuhan dalam diri kita. Karena bangunan setinggi dan sekokoh apapun, bisa luluh lantak oleh guncangan gempa. Jika Allah menghendakinya. Lalu, bagaimana dengan kita yang sangat kecil dan lemah ini?
Bila gempa dengan guncangan semacam itu saja kita sudah diguncang ketakutan, berbagai sarana atau fasilitas hancur, jalan rusak, dan kesulitan untuk bekerja, bahkan kesusahan untuk hidup tenang dalam rumah bersama keluarga, lalu bagaimana bila kiamat benar-benar terjadi?
Allah berfirman,“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8
Siapkan Diri, Jangan Panik Berlebihan!
Maka, mari terus berbenah dan persiapkan amal terbaik. Panik itu manusiawi, tapi jangan berlebihan. Bersabarlah, barengi dengan menegakkan shalat. Dalam dua ayat surat al-Baqarah, Allah memerintahkan bagi hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat.
Allah berfirman,“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. al-Baqarah: 45).
Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah: 153). (*)






