Opini

Kepemimpinan dan Nyawa Politik KDM

3
×

Kepemimpinan dan Nyawa Politik KDM

Share this article
IMG 20260826 WA0046
Syamsudin Kadir. Penulis Buku "Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin" Foto : Dok Pribadi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Problem Solver: Beginilah KDM Memimpin”

Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Jawa Barat di Bandung, Senin, 24 Agustus 2026 bukan panggung untuk saling mengungguli. Di sanalah nama Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) disebut. Bukan karena ia maju ke podium, tapi karena caranya yang selalu turun ke bawah. Pujian itu datang bukan dari pendukungnya, tapi dari mitra politik. Dan, itu yang membuat pujian itu lebih autentik dan jujur.

“Masyarakat Jawa Barat memilih KDM dengan hati.” Satu kalimat dari Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Herman Khaeron yang membongkar seluruh papan strategi. Kata dia, bangsa ini terlalu lama percaya bahwa politik menang karena paling keras di mikrofon. Padahal rakyat sudah lama pindah telinga. Mereka mendengar dari warung, dari sapaan, dari duduk bersila yang tidak terburu-buru. Makanya KDM menang, baik di Pilkada maupun di hati masyarakat.

Kedekatan bukan pencitraan. Pencitraan butuh lampu dan kamera. Kedekatan butuh waktu dan kesediaan untuk tidak nyaman. Berjalan kaki di jalan yang sama artinya mau menginjak debu yang sama, mau kehujanan yang sama, mau mendengar bisik yang tidak pernah masuk notulen. Dan mau membuka telinga saat dikritik, mampu membuka hati untuk mendengar rintihan hati rakyat dari pelosok mana pun.

KDM adalah sosok pemimpin yang tidak selalu menunggu undangan. Ia sering datang lebih dulu sebelum laporan jadi rapi. Politik baginya bukan kontrak lima tahun yang dibuka hanya pada saat kampanye lalu ditutup setelah menang. Politik baginya adalah percakapan yang tidak pernah selesai, karena hidup rakyat juga tidak pernah selesai. Maka pemimpin adalah pendengar setia yang tak berhenti mendengar, oleh sebab itu telinganya harus terbuka lebar.

Baca Juga :  Jangan Korupsi Bantuan Gempa NTT!

Di sinilah letak rasionalitasnya. Kekuasaan yang paling efektif bukan yang meninggi, tapi yang memendekkan jarak. Jabatan kerap membuat tembok bahkan benteng pembatas. Langkah kaki meruntuhkannya pelan-pelan. Ketika jarak mengecil, aspirasi tidak perlu diteriakkan. Cukup dibisikkan, dan sampai. Itulah aksi kepemimpinan KDM selama ini. Dan itu alami. Lahir dari bawah. Dari kampung. Bukan dari kota besar dan istana mewah.

Pujian lintas partai, dalam konteks ini salah satunya Partai Demokrat, terasa wajar karena kebajikan memang tidak punya kartu anggota. Ia tidak menempel di logo. Ia juga tidak melekat pada atribut politisi lainnya. Ia menempel di cara melangkah. Dan cara KDM adalah cara yang bisa ditiru siapa saja yang masih mau melihat mata orang lain tanpa tergesa. Demokrat kata Herman, layak belajar dari kepemimpinan KDM: turun tangan. Karena itulah nyawa politik KDM.

Menarik ketika KDM menyebut hubungan dengan partai manapun sebagai upaya bersama, bukan mahkota. Itu cara menahan ego agar tidak berubah jadi panggung. Ia mengubah apresiasi menjadi undangan kerja. Dari kompetisi siapa paling lantang, menjadi kolaborasi siapa paling hadir. Kolaborasi dan menjaga hak dapur masing-masing adalah politik yang menggembirakan. Lagi-lagi KDM paham itu dan melakukan itu.

Pesan untuk kader Demokrat itu sebenarnya pesan untuk kita semua, terutama para pemimpin dan politisi: turunlah. Dengarlah. Data di atas meja itu bersih, rapi, dan mati. Cerita di lapangan itu berantakan, bau keringat, dan hidup. Kalau hanya membaca angka, kita akan kehilangan manusia di balik angka itu. KDM memilih turun tangan, tidak terjebak di balik meja. Ia hadir di tengah warga, bukan sibuk minum kopi bersama elite.

Baca Juga :  Lima Bateri Kasih Abadikan Cinta

Suatu hari nanti spanduk akan lusuh. Poster akan pudar. Pidato akan dilupakan. Hal yang tertinggal adalah ingatan tentang siapa yang datang saat tidak ada sorotan. Siapa yang duduk paling lama saat tidak ada agenda. Siapa yang memilih tinggal, bukan sekadar lewat. Suatu saat nanti KDM bakal jadi saksi sejarah atas warna baru, bahkan arah baru kepemimpinan bangsa ini.

Jadi jika kedekatan memang bahasa baru politik, maka rumusnya sederhana dan menantang. Menang bukan dengan berteriak paling keras. Menang dengan tinggal paling dekat. Karena hati rakyat tidak diyakinkan oleh janji besar. Hati rakyat diyakinkan oleh hadir yang kecil, tapi terus-menerus. Itulah pengalaman dan pembelajaran dari KDM selama ini. Ia autentik dan dapat diteladani oleh siapapun. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *