Opini

Beginilah Cara KDM Mencintai NTT

4
×

Beginilah Cara KDM Mencintai NTT

Share this article
IMG 20260823 WA0006
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

NAMANYA muncul di mana-mana, jadi perbincangan banyak orang. Ia lahir dari tanah Pasundan. Bukan dari marmer istana, bukan dari gemerlap lampu kota. Ia tumbuh di antara lumpur sawah, di sela napas orang-orang yang bekerja sejak fajar belum genap. Di sana ia belajar: hidup itu sederhana, tangan harus saling mengangkat, hati harus saling menjaga.

Namanya Kang Dedi Mulyadi. Anak Sunda yang tidak membawa tongkat kekuasaan, hanya membawa tiga kata tua yang ia hidupkan: Asah, Asih, Asuh. Mengasah potensi yang lama tidur. Mengasihi yang sering luput dari sorotan. Mengasuh yang jalannya tertatih. Asah, Asih dan Asuh sejatinya menjadi nilai luhur bangsa berperadaban maju. Ia paten dan tak mampu diruntuhkan gempa sebesar bumi.

Dari Kampung ke Hati Manusia

Dulu ia mulai dari satu kabupaten. Bukan duduk menunggu laporan datang, tapi berjalan menemui kenyataan. Ia menunduk ke gang sempit, duduk di teras rumah yang bocor, mendengar keluh yang selama ini hanya berhenti di ujung jari. Lama-lama langkah itu melebar. Melebar dalam peraturan, kebijakan dan langkah konkret. Sehingga kata jadi tindakan, kata jadi sikap.

Dari satu daerah, menjadi rindu untuk semua hati. Ia percaya, keadilan tidak boleh berhenti di gerbang kota. Ia harus sampai juga ke kampung paling ujung, ke rumah paling sunyi, ke tanah NTT yang jauh: ke Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Nagekeo dan ke pelosok NTT lainnya. Bahkan, ke tempat-tempat yang sering hanya disebut dalam peta tapi dikenal oleh orang di luar sana.

Di ujung NTT, di sela retakan rumah dan debu gempa, ia datang tanpa sorak. Uang dari masyarakat Jawa Barat dititipkan langsung ke tangan yang gemetar, tanpa pidato, tanpa panggung. Tak ada kamera yang mencari wajah, hanya lensa kecil untuk mencatat, agar terang tetap bisa dipertanggungjawabkan. Karena di tempat yang paling sunyi pun, kejujuran harus punya jejak. Dan di sanalah kita belajar: menolong bukan tentang terlihat, tapi tentang hadir sampai tuntas

Baca Juga : 

Pemimpin Bernyawa

Ketika orang menyebut “pemimpin bernyawa”, jangan buru-buru membayangkan bendera, orasi dan janji. Sebab yang dimaksud lebih sunyi dan lebih nyata. Itu ketika hasil bumi tidak hanya mengalir ke segelintir meja. Itu ketika pembersih jalan bekas gempa diberi bonus sepantasnya. Itu ketika bantuan tidak dititipkan pada orang lain, tapi diantar sendiri, sambil menatap mata. Itu ketika tangan pemimpin menjadi jembatan antar duka dan bahagia.

Baginya, kekuasaan, bukan mahkota yang ditaruh di kepala untuk dipuja. Ia tidak berkilau demi dipandang, tidak berat demi ditakuti.
Ia datang tanpa gemerincing emas, hanya dengan kesediaan untuk menunduk lebih dulu. Baginya, kekuasaan adalah sapu yang menyapu debu di teras orang kecil. Adalah payung yang dibuka saat hujan turun di jalan yang tidak dilewati mobil dinas. Adalah beranda tempat siapa pun boleh berteduh, tanpa perlu bertanya siapa namamu dan dari mana asalmu.

Perjalanan Anak Sunda ini mengingatkan: Nasib saudara di luar Pasundan adalah juga nasib kita. Tangis ibu di kaki gunung sama beratnya dengan air mata di tepi timur Nusantara Tenggara. Keadilan tidak mengenal batas pulau, tidak menghitung suku, tidak menimbang logat. Ia hanya bertanya satu hal: masih adakah yang ditinggalkan? Itulah pembelajaran berharga dari sosok yang akrab disapa KDM ini.

Maka ia berjalan dari jauh. Bukan untuk mengejar kursi. Tapi untuk membuktikan bahwa Indonesia masih bisa menjadi rumah yang ramah bagi semua. Rumah yang pintunya terbuka untuk semua anak bangsa,
yang lantainya rata, yang atapnya cukup menaungi, dan yang di dalamnya tidak ada yang makan sendirian di tengah kemewahan, sementara yang lain menahan lapar. Itulah arti pberkeadilan sosial yang sesungguhnya. Bukan teori di atas kertas. Tapi langkah kecil, tiap hari, ke arah mereka layak dibela, dibantu dan dicintai secara tulus. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *