Oleh: Syamsudin Kadir
Bidang Humas, Informasi, Media dan Dokumentasi Soulmate Kang Dedimulyadi-KDM
“Saya tidak berharap apapun pada jabatan. Dan saya akan terus, menjabat tidak menjabat, saya akan terus mengabdi bagi rakyat. Sekemampuan saya. Ada anggaran tidak ada anggaran, saya akan terus berbakti. Apa yang saya dapat, rezeki yang saya dapat, pasti bukan hanya buat diri saya. Buat masyarakat dan buat pembangunan. Saya membangun kampung kecil untuk menjadi contoh bahwa ke depan saya punya mimpi tentang Jawa Barat.” (Kang Dedi Mulyadi, Rabu 26 Agustus 2026)
Rabu 26 Agustus 2026 pagi, video 58 detik itu muncul di grup khusus tempat kami membincang ide dan mengasuh harapannya selama ini. Seketika video itu pun viral. Tangisannya membuat siapapun turut menangis. Kami turut menangis, menyaksikan kejujuran dirinya. Bicara dari hati ke hati. Bukan manipulasi, tapi memang dari hati. Anak desa yang kini jadi gubernur, punya mimpi indah untuk Jawa Barat. Ini berat, tapi tekadnya jauh lebih kuat.
Di ujung jalan yang dibelah sawah hijau, ada suara yang tidak meminta panggung. Ia datang pelan, seperti embun pagi yang jatuh tanpa pamrih. Air matanya mengalir tak diundang. Hatinya begitu luluh pada ego, lembut pada kenyataan. “Saya tidak berharap apa pun pada jabatan.” Kalimat itu sederhana, tapi menampar segala bising ambisi yang sering kita pelihara di dada. Bahkan kini tak sedikit yang sibuk memburunya dengan melukai sesama anak bangsa.
Jabatan sering kita anggap mahkota. Bahkan tak sedikit yang berani membela dan memperjuangkannya agar lebih lama dan abadi. Sikut dan sikat kiri-kanan. Padahal bagi sebagian orang, ia hanya payung di musim hujan. Dipakai saat perlu, ditinggalkan saat terang. Hal yang tetap tinggal adalah niat. Dan niat itu tidak pernah mengenal istilah pensiun. Ia tetap terwujud menjadi tindakan nyata di berbagai sudut. Itulah nurani sosok yang akrab disapa KDM ini.
“Dan saya akan terus, menjabat tidak menjabat, saya akan terus mengabdi bagi rakyat.” Di sini letak rahasianya. Pengabdian tidak digaji oleh kursi. Ia digaji oleh hati yang tidak bisa diam melihat duka dan luka orang lain. Ada atau tidak ada nama di papan, langkah tetap sama: berjalan untuk sesama. Tak ada kata canggung untuk langkahkan kaki ketika menyaksikan si miskin berkata jujur. Hati selalu tergerak untuk membantu tanpa selalu tersorot senter lampu.
“Sekemampuan saya.” Ini dia kata yang sangat jujur dari KDM. Karena dia bukan anak raja, ia anak orang kampung biasa, jauh dari kota. Karena itu ia bicara apa adanya. Bukan janji langit dan bumi, bukan sumpah yang muluk. Hanya kesanggupan manusia biasa yang memilih untuk tidak menutup mata. Karena perubahan besar sering lahir dari orang-orang yang hanya melakukan “sekemampuan saya”, tapi melakukannya setiap hari, detik demi detik.
“Ada anggaran tidak ada anggaran, saya akan terus berbakti.” Ini doa sekaligus perlawanan. Melawan logika bahwa kebaikan harus menunggu cairnya dana. Melawan dalih bahwa menolong harus ada proyeknya dulu. Bakti sejati tidak menunggu SPJ. Ia jalan duluan, meski dompet kosong. KDM kerap sat set dalam melangkah. Bagi sebagian orang, ini nihil manajemen. Padahal semua terdata, dan bisa diakses oleh siapapun.
“Apa yang dapat saya, rezeki yang saya dapat, pasti bukan hanya buat diri saya.” Rezeki bukan sumur pribadi. Ia sungai. Kalau dibendung untuk satu rumah, ia jadi keruh. Tapi kalau dialirkan, ia menghidupi sawah, kampung, dan anak-anak yang kelak menanam padi di tempat yang sama. Ia juga lautan yang bisa menghidupkan jutaan ikan untuk triliunan manusia. KDM buktikan itu di berbagai momentum. Tak selalu direkam kamera. Bila pun ya, itu jadi saksi, agar tak menipu mereka yang berhak.
“Buat masyarakat dan buat pembangunan.” Bagi KDM, apa yang dia punya mesti berdampak pada orang sekitar. Apalagi bila ia bersumber dari warga. Pembangunan bukan hanya aspal dan beton. Ia juga tentang harga diri orang kecil yang dikembalikan. Tentang kampung yang tidak lagi malu disebut tertinggal. Tentang mimpi yang diberi nama, lalu dirawat sampai tumbuh. Dan menjadi juga berdampak.
“Saya membangun kampung kecil untuk menjadi contoh.” Contoh adalah bahasa paling jujur seorang pemimpin. Itulah KDM. Tidak banyak ceramah, tidak banyak spanduk. Cukup satu sudut desa yang rapi, satu jalan yang terang, satu warga yang tersenyum karena merasa dilihat. Dari satu titik itu, harapan belajar merambat. Dalam banyak hal, satu contoh akan menjadi magnet bagi yang lainnya. Ia pun berdaya dan memberi daya ledak yang kuat.
“Bahwa ke depan saya punya mimpi tentang Jawa Barat.” Mimpi tidak tinggal di kantor. Ia tinggal di kaki yang mau berjalan menyusuri pematang sawah, di tangan yang mau menanam, di suara yang berani berkata cukup pada keserakahan. Dan mungkin, renungan hari ini mengingatkan kita: jabatan bisa datang dan pergi. Tapi orang yang mengabdi, akan selalu punya tempat pulang. Di hati rakyatnya. KDM memang inspiring, menangis untuk kita semua! (*)






