Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
RABU, 19 Agustus 2026, tanah di Sikka masih menyimpan gemetar. Rumah retak, dapur kosong, dan malam-malam warga terdampak masih tidur di tenda. Tapi Rabu sore itu, di titik kumpul Wailiti, yang terasa bukan hanya luka. Yang terasa adalah sabar, tapi penuh haru. Ribuan orang duduk berjejer sejak pukul 13.00 WITA, menatap jalan yang sama, dengan harapan yang sama: bantuan.
Mereka datang dari nama-nama yang sudah akrab oleh duka: Waturia, Wailiti, Koting, Kabor, Beru, Wuring, hingga Bebeng. Jaraknya berbeda, ceritanya mirip. Atap hilang, beras menipis, anak-anak bertanya kapan bisa masak lagi. Maka mereka berkumpul bukan untuk mengeluh, tapi untuk menunggu. Menunggu kepastian bahwa mereka belum dilupakan. Bahwa harapan untuk pulih masih terbuka lebar.
Pukul 16.00 WITA, debu jalanan bergerak. Rombongan tiba. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan turun bersama Ahmad Yohan dari PAN dan Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago. Tidak ada pidato panjang di awal. Yang ada hanya sapaan, jabat tangan, dan mata yang saling bertemu. Di tengah posko yang sederhana, kehadiran itu terasa seperti jeda panjang yang akhirnya menemukan jawab.
Antusiasme warga tidak berisik. Ia tenang, tapi dalam. Ada ibu yang merapikan jilbab sebelum maju. Ada bapak yang menggenggam topi lusuhnya erat-erat. Ada anak-anak yang berdiri di ujung barisan, mengintip dari balik bahu orang dewasa. Tiga jam menunggu dibayar dengan beberapa menit bertemu, dan itu cukup untuk membuat wajah-wajah lelah sedikit mengendur. Dan semua jadi kenangan indah, menyembuhkan luka.
Bang Zul, yang juga Ketua Umum itu, menyerahkan bantuan secara simbolis. 1.000 paket sembako. Angka itu bisa dihitung, tapi maknanya tidak. Di dalam setiap karung ada beras, ada minyak, ada harapan kecil untuk dapur yang bisa menyala lagi malam selanjutnya. Bantuan itu bukan solusi akhir, tapi ia jembatan. Jembatan antara hari ini yang sulit dan hari esok yang sedang kita usahakan.
Refleksi datang bukan dari kata-kata, tapi dari pemandangan. Gempa merobohkan tembok, tapi tidak merobohkan antrean yang tertib. Bencana memisahkan orang dari rumahnya, tapi tidak memisahkan orang dari orang. Di Wailiti, saya melihat bagaimana pangan menjadi bahasa paling jujur. Tidak butuh istilah, tidak butuh teori. Yang dibutuhkan hanya cukup untuk mengisi perut, supaya tenaga kembali, supaya pikiran bisa berpikir lebih jauh dari sekadar bertahan.
Kehadiran negara di titik seperti ini penting bukan karena kameranya, tapi karena artinya. Saat Menko Pangan datang, ia membawa pesan bahwa dapur rakyat adalah urusan bersama. Saat Bupati dan anggota DPR berdiri di samping warga, itu pengingat bahwa jabatan tidak boleh lebih tinggi dari tanah tempat orang berdiri. Kita semua sama, sama-sama peduli pada sesama saudara yang terdampak gempa.
Penuh harap kita, malam nanti tenda-tenda di Sikka tetap berdiri. Gempa mungkin sudah berhenti, tapi proses pulih baru mulai. Semoga 1.000 paket itu menjadi 1.000 awal. Awal memasak lagi, awal tertawa lagi di meja makan, awal menanam lagi di ladang. Karena pada akhirnya, yang kita selamatkan bukan hanya perut. Yang kita selamatkan adalah keyakinan bahwa setelah retak, tanah ini masih bisa ditumbuhi. Terutama kepedulian dan percaya diri. (*)






