Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
SENIN, 24 Agustus 2026. Langit Flores belum sepenuhnya cerah, tapi di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, ada barisan kardus yang turun dari truk dengan hati-hati. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berdiri di sana, bukan di balik meja, bukan di balik pidato. Ia menyerahkan langsung. Karena duka tidak cukup hanya dikirim, ia harus diantar.
65,7 ton. Angka itu berat jika ditimbang, tapi lebih berat lagi jika dibayangkan isinya. Beras, makanan, obat-obatan, perlengkapan higiene, kebutuhan bayi, tenda, terpal, dan kompor. Senilai Rp3.006.652.875. Bukan sekadar logistik. Itu adalah upaya agar malam tidak terlalu dingin, agar lapar tidak terlalu lama, agar luka tidak dibiarkan sendiri.
12,8 ton diantar langsung ke SD Impres Robo, Ranaka, Manggarai. 52,9 ton diantar langsung ke Posko Rumah Jabatan Sekda Manggarai Timur. Pembagiannya tidak asal. Ia disusun dari catatan para dokter, dari 14 jenis obat yang ditulis tangan, dari bisik tenaga kesehatan yang sudah lebih dulu berjaga sejak gempa mengguncang. Kebutuhan didahulukan tanpa pencitraan.
Kepala Desa Ranaka berbisik, “Berasnya ditambah 5 ton, Bu.” Dan Khofifah mengangguk. Tidak ada rapat panjang. “Bisa digeser,” katanya. Karena dalam bencana, keadilan itu sederhana: yang kurang diberi, yang lebih dibagi. Merata bukan soal matematika, tapi soal rasa.
Sejak 17 Agustus 2026, baju putih dari RSUD Dr. Soetomo sudah lebih dulu tiba di RSUD Ruteng. Dokter dan perawat Jawa Timur menukar ruang praktiknya dengan ruang darurat. Empat orang lain datang bukan membawa obat, tapi membawa ruang aman untuk anak-anak. Layanan psikososial, agar trauma tidak tumbuh lebih besar dari reruntuhan.
“Masing-masing daerah saling bersapa, saling bergotong royong, saling meringankan beban, merasa bahwa kita ini bersaudara,” ucap Gubernur Khofifah. Kalimat itu tidak muluk. Ia lahir di tengah debu dan tenda. Karena saat bumi retak, satu-satunya yang bisa menyambung adalah rasa persaudaraan.
Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, mencatat dengan suara yang tertahan. 19.515 infrastruktur terdampak. 20.673 kepala keluarga. 85.461 jiwa yang malamnya tidak lagi sama. Hingga pukul 21.17 WITA, daftar duka bertambah: 34 orang meninggal, 239 orang luka berat. Angka-angka itu bukan statistik. Itu nama, itu rumah, itu meja makan yang kini kosong.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Gubernur Jawa Timur dan seluruh masyarakat Jawa Timur yang sudah datang dan memberikan bantuan kepada masyarakat Manggarai Timur,” kata Agas. Ucapan terima kasih di tengah bencana bukan formalitas. Ia adalah jembatan. Bahwa bantuan tidak jatuh dari langit, ia dibawa manusia, oleh manusia, untuk manusia.
Puitisnya bukan pada kata, tapi pada gerak. Pada kompor yang dinyalakan lagi agar dapur hidup. Pada terpal yang dibentangkan agar anak bisa tidur tanpa diguyur hujan. Pada obat yang datang tepat waktu karena ada yang mau mendengar daftar dari dokter. Solidaritas adalah puisi paling nyata yang kita punya.
Gempa merobohkan, tapi ia juga menyingkap. Menyikap siapa yang datang saat kita jatuh. Hari ini Jawa Timur datang ke Manggarai tidak membawa janji, tapi membawa kepedulian untuk menyudahi beban bersama. Dan mungkin itu cara semesta mengingatkan kita: di negeri kepulauan ini, jarak hanya soal peta. Saat saudara terluka, semua tanah jadi satu halaman rumah.
Di bawah langit yang sama, tangan Jawa Timur terulur dan memeluk NTT yang sedang runtuh, membawa harapan dalam tiap bungkus bantuan dan doa yang tak terdengar. Terima kasih, Bu Khofifah, dan terima kasih untuk seluruh masyarakat Jawa Timur yang telah menjadikan duka kami sebagai duka bersama.
Kata-kata kami terlalu kecil untuk membalas budi sebesar samudra itu, dan tangan kami terlalu ringkih untuk mengangkat beban setinggi pengorbanan itu. Biarlah semesta yang mencatat, biarlah Tuhan Yang Maha Melihat yang menimbang setiap tetes keringat, setiap suap nasi, dan setiap pelukan jauh yang kalian kirim. Percayalah, kebaikan tidak akan pernah hilang. Ia akan kembali kepada kalian dalam bentuk yang lebih indah dari yang pernah kami ucapkan. (*)






