Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
ADA perjalanan yang tidak diukur dengan kilometer, melainkan dengan napas yang tercekat di setiap tanjakan. Tim relawan dari Universitas Mataram (Unram) menembus sekitar 30 bukit dan menyeberangi sungai, bukan karena jalan itu mudah, melainkan karena di ujungnya ada manusia yang menunggu. Di Kampung Lehot, Desa Ndiwar, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, NTT bumi sempat retak dan membawa serta rasa aman warganya. Dan di sanalah, langkah kaki muda itu memilih untuk tidak menoleh ke belakang.
122 jiwa kini berteduh di wilayah pengungsian. Bukan angka di atas kertas, melainkan 122 cerita yang semalam masih sempat menyalakan lampu di dapur, dan pagi ini hanya bisa duduk menatap langit dari kolong lima tenda. Lima tenda itu terlalu sedikit untuk menampung rindu akan rumah. Terpal yang minim membuat hujan jadi tamu yang tidak diundang, masuk lewat sela-sela, membasahi tikar dan harapan.
Di antara mereka ada 19 lansia. Kulit mereka sudah keriput oleh waktu dan kini harus keriput juga oleh cemas. Ada 40 anak-anak yang seharusnya berlari di halaman sekolah, hari ini belajar berlari menuju dapur umum. Ada 15 bayi dan balita usia 0–5 tahun, yang tangisnya bukan meminta mainan, tapi meminta susu dan hangat yang dulu selalu ada di pangkuan ibu. Usia yang paling rapuh, justru yang paling kuat bertahan.
Luka juga ikut tinggal di pengungsian. Lima orang terluka. Dua di antaranya luka berat dan telah dievakuasi, meninggalkan kursi kosong di tengah lingkaran keluarga. Tiga lainnya menahan perih dengan senyum tipis agar adik-adiknya tidak takut. Dua warga sakit, dan satu penyandang disabilitas yang mengajarkan kita bahwa bertahan bukan soal sempurna atau tidak, tapi soal tetap mau hidup.
Rumah-rumah pun ikut meratap. 18 unit rusak berat, seolah dipeluk terlalu keras oleh bencana hingga tulangnya patah. 14 unit rusak ringan, masih berdiri tapi dengan hati yang miring. Pintu yang dulu menutup rapat kini terbuka lebar ke arah ketidakpastian. Dinding yang dulu jadi saksi tawa, kini jadi saksi doa yang dipanjatkan pelan-pelan setiap malam.
Lima dapur umum mengepul sejak subuh. Asapnya naik, membawa aroma solidaritas. Di sanalah beras dibagi, sayur disendok, dan lelah diredakan sebentar. Tapi dapur tidak bisa memasak selimut. Dapur tidak bisa merebus sabun agar luka cepat sembuh. Dapur tidak bisa menyeduh susu untuk bayi yang rewel karena dingin. Di sinilah kita diingatkan: mengisi perut penting, tapi mengisi rasa aman jauh lebih penting.
Medan menuju Lehot adalah guru yang memang kejam. Bukit demi bukit menguji kesungguhan, sungai menguji keberanian. Tapi justru di jalan yang sulit itulah kita belajar bahwa bantuan tidak bisa menunggu jalan mulus. Bencana tidak memilih hari cerah untuk datang. Maka pertolongan pun harus berani kotor, basah, dan lecet.
Para relawan Unram tidak meminta tepuk tangan. Mereka hanya meminta koordinasi. Mereka meminta kita semua menjadi jembatan untuk sembako, susu, sabun, dan selimut. Benda-benda sederhana yang tiba-tiba menjadi bahasa cinta paling fasih di tengah pengungsian. Karena kadang, selembar selimut lebih hangat dari seribu kata. Sebungkus susu lebih menenangkan dari seribu janji.
Renungan ini bukan untuk membuat kita sedih lalu diam. Renungan ini untuk mengingatkan bahwa di balik 30 bukit, ada nama-nama yang sedang belajar percaya lagi pada manusia. Di balik lima tenda, ada masa depan 40 anak dan 15 balita yang masih bisa kita jaga. Mari kita tempuh bukit kita sendiri. Bukan dengan kaki, tapi dengan tangan yang bergerak, dengan kepedulian yang tidak menunggu viral, dengan bantuan yang sampai sebelum luka menjadi terlalu dalam. (*)






