Opini

Terima Kasih Presiden Prabowo Subianto

21
×

Terima Kasih Presiden Prabowo Subianto

Share this article
IMG 20260827 WA0000
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

RABU, 26 Agustus 2026. Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyambut dengan langit yang teduh, padahal Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu tanah ini mengguncang segalanya. Presiden Prabowo Subianto melangkah di antara tenda-tenda pengungsian, bukan sekadar sebagai pejabat yang membawa data, tapi sebagai saudara yang ingin menatap mata sesama. Di setiap jabat tangan ada getar yang belum reda. Di setiap cerita ada rumah yang runtuh, tapi juga semangat yang belum roboh.

Mengunjungi saudara-saudara kita yang terdampak gempa bukan sekadar agenda. Ini soal mengingat bahwa luka mereka adalah luka kita bersama. Seorang ibu menunjuk puing dapurnya sambil tersenyum getir, “Yang penting anak-anak selamat, Pak.” Kalimat sederhana itu menampar. Ternyata dalam kehancuran, manusia masih bisa memilih untuk bersyukur. Dan dari situlah pemulihan sesungguhnya dimulai.

Di Posko Pengungsian Markas Yon TP 834/Wakanga, Presiden menggelar Rapat Koordinasi Penanganan Bencana bersama jajaran Kabinet Merah Putih. Meja rapat beralaskan papan, atapnya langit terbuka. Yang hadir bukan hanya menteri dan kepala daerah. Ada relawan, ada TNI, ada warga yang datang membawa catatan kebutuhan: air bersih, tenda layak, sekolah darurat, obat-obatan. Bencana mengajari kita memimpin dengan cara yang paling dasar: mendengarkan.

Presiden memimpin rapat itu sambil sesekali menoleh ke barisan anak-anak yang bermain di samping posko. Mereka tertawa, membuat istana dari kardus bekas. Di tengah instruksi dan target waktu, Presiden diingatkan: semua kebijakan ini ujungnya adalah untuk tawa itu agar tidak padam. Infrastruktur boleh rusak, tapi harapan tidak boleh. Gempa telah merobohkan rumah, tapi tidak untuk harapan dan masa depan anak-anak.

Baca Juga :  Kenangan Indah Bersama Nenek Hj. Ummi

Pemerintah tidak akan berhenti di tahap darurat. Tahap selanjutnya adalah rehabilitasi: memperbaiki fasilitas kesehatan yang retak, menyalakan kembali listrik yang padam, mengembalikan layanan agar denyut kehidupan berdenyut lagi. Pelan-pelan, seperti menjahit luka. Tidak bisa terburu-buru, karena yang kita pulihkan bukan hanya bangunan, tapi rasa aman dan retak-retak yang membengkak.

Setelah itu, rekonstruksi. Membangun kembali rumah, jalan, jembatan, dan pasar. Tapi lebih dari itu, membangun kembali kehidupan. Kita ingin Nagekeo bangkit bukan seperti semula, tapi lebih kuat, lebih siap. Pembangunan harus berbasis data risiko, melibatkan ahli gempa dan arsitek lokal. Dana desa dan APBN akan diarahkan agar prioritasnya jelas: tempat tinggal dulu, lalu akses ekonomi. Tidak ada proyek mercusuar. Yang ada hanya kebutuhan dasar warga yang dipenuhi satu per satu sampai tuntas.

Rumah yang tahan gempa. Sekolah yang jadi tempat aman. Sistem peringatan yang bicara lebih awal. Bencana harus meninggalkan pelajaran, bukan hanya duka. Bahkan mesti mampu menemukan pembelajaran agar kita tidak mengulang luka yang sama. Ke depan, setiap sekolah di zona rawan wajib punya jalur evakuasi dan simulasi rutin. Puskesmas harus punya genset dan stok obat darurat. Pasar rakyat perlu dibangun dengan struktur sederhana tapi kokoh, agar roda ekonomi kembali berputar cepat. Teknologi kebencanaan juga harus sampai ke desa, bukan berhenti di kota kabupaten.

“Saya melihat gotong royong di sini masih hidup. Warga saling berbagi nasi bungkus, tentara membopong air, relawan mencatat nama demi nama. Negara hadir, tapi rakyat juga tidak menunggu. Inilah Indonesia yang saya kenal: jatuh bersama, bangkit bersama. Tidak ada yang dibiarkan berjalan sendirian di atas puing,” ungkap Presiden Prabowo dengan nada optimis dan rasa bangga.

Baca Juga :  Catatan untuk Para Pengkhianat Pancasila

Malam di Nagekeo dingin. Lampu posko temaram menerangi wajah-wajah yang masih lelah tapi tetap tegar. Presiden duduk sebentar, mendengar angin melewati pepohonan dan suara anak-anak yang masih tertawa dari kejauhan. Di keheningan itu terasa jelas: gempa telah meretakkan tanah, tapi tidak meretakkan persaudaraan. Justru di titik terendah inilah kita diingatkan siapa kita. Kita adalah bangsa yang kuat karena saling menjaga, karena tidak pernah membiarkan tetangga menangis sendirian.

Sebesar apapun bencana, bila kebersamaan dijaga dan dipertahankan, maka kebahagiaan masih bisa dirakit dan dirasa. Kehadiran negara di tengah warga menjadi penanda bahwa tidak ada yang dilupakan, tidak ada yang berjalan sendiri. Bantuan yang datang harus tepat sasaran, cepat, dan tidak berbelit. Pengawasan harus ketat agar tidak ada yang mengambil keuntungan di atas penderitaan. Karena kepercayaan rakyat adalah fondasi paling penting dalam proses pemulihan ini.

Perjalanan Presiden kali ini meninggalkan satu catatan untuk kita semua. Bahwa memimpin di saat bencana artinya turun, melihat, mendengar, lalu bekerja. Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan terus melanjutkan proses pemulihan secara bertahap. Untuk Nagekeo, untuk Flores, untuk semua saudara di ujung timur. Karena membangun kembali bukan soal semen dan baja saja. Ia soal keyakinan bahwa setelah gempa, akan ada fajar, dan kita akan menyambutnya bersama. Terima kasih Presiden Prabowo Subianto. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *