Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Selamat Datang Di Kota Cirebon”
CIREBON disebut Kota Wali, tanahnya pernah basah oleh sujud para leluhur: hamba Allah yang soleh dan alim. Di sela riuh Terminal Harjamukti, ada satu nama yang tetap terbuka pintunya: Masjid Al-Hidayah, tepatnya di Dukuh Semar, Harjamukti, Kota Cirebon. Ia tidak meminta dilihat. Ia hanya berdiri di tanah Pemerintah Kota Cirebon, menunggu disentuh kembali oleh kasih kita, jamaahnya. Tapi hari ini, rumah itu dirundung sedih.
Rumput tumbuh lebih tinggi dari niat kita untuk merawat. Semak memeluk dinding seperti rindu yang terlalu lama ditunda. Jalan kecil menuju tempat sujud tertutup pelan-pelan, bukan karena tak ada yang lewat, tapi karena tak ada yang mau duluan mengangkat sapu. Kita sibuk mengejar keramaian, lalu lupa bertanya: kapan terakhir kali kita rindu ke rumah-Nya? Ya Robb, ampunilah kami!
Beberapa meter dari mihrab, tanah berbicara dengan caranya sendiri. Ia berbicara jujur apa adanya. Tulus. Tak ada jeda untuk sekadar manipulasi. Ada sampah berserak, ada bekas-bekas dugaan maksiat di malam. Waktu yang seharusnya diisi istighfar tapi berakhir pada kelalaian. Masjid diam. Ia tidak berteriak. Ia hanya meneteskan debu di atas lantai, menunggu ada tangan yang mau mengelapnya dengan adab.
Paling perih ketika keteduhan yang seharusnya jadi tempat taubat, justru dipakai untuk merakit dosa-dosa. Halaman yang seharusnya basah oleh air wudhu, kadang jadi saksi langkah yang menjauh dari arah. Mungkin maksiat. Entahlah. Masjid tidak mengusir siapa pun. Ia hanya menunduk, karena ia tahu: tugasnya adalah menampung, bukan menghakimi. Tugas menjaganya, ada di pundak kita.
Masjid bukan sekadar batu, tembok dan genteng. Masjid adalah hati yang dibuka ke langit. Di sana al-Fatihah, al-Waqi’ah, Yasin, al-Mulk, ayat kursi, tiga qul dan lain-lain menjahit yang retak. Di sana air wudhu mencuci yang kotor. Di sana malaikat turun membawa tenang. Jika terasnya gelap, mungkinkah cahaya di dada kita juga meredup? Jika halamannya berdebu, mungkinkah hati kita juga lama tidak disapu?
Kita rajin mengecat pagar rumah sampai mengilap. Kita hebat mengganti baju baru setiap momentum hari raya sampai tak terhitung jumlahnya. Kita rela menempuh 10 kilometer ke mal, ke pantai, ke tempat yang ramai sorak. Lalu Allah bertanya lewat rumput liar itu: “Siapa yang masih mau berjalan 10 langkah kepada-Ku, ketika dunia kalian sudah terlalu bising?” Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya menampar kita.
Berita akun facebook Radar Cirebon, Rabu 26 Agustus 2026, bukan sekadar laporan. Itu surat yang robek. Surat dari sebuah masjid yang berbisik lirih: “Aku masih di sini. Tolong jangan lupakan aku!” Dan merespon, saya menulis singkat seperti adzan: “Saya siap menjadi penjaga masjid ini.” Bukan karena saya berani, tapi karena malu jika terus diam. Ya, saya Syamsudin Kadir siap menjadi penjaga dan memakmurkannya.
Menjaga masjid bukan hanya kerja para marbot yang tulus. Menjaga masjid adalah menjaga cermin iman kita sendiri. Ketika kita menyapu halaman, kita sedang menyapu malas di dalam diri. Ketika kita memotong semak di luar, kita sedang mencabut semak di dalam hati: ghibah, lalai, sombong, lupa bertaubat. Bahkan mungkin berbagai penyakit hati lainnya yang sudah pekat dan lama tak terobati.
Saya bermimpi masjid itu kembali bernafas lewat kertas-kertas yang terbuka. Di sudutnya tersedia mukenah untuk shalat. Tersedia juga Al-Qur’an yang halamannya menunggu disentuh, buku-buku bacaan yang menenangkan gelisah, dan majalah Islami yang menyalakan akal setelah sujud. Biarlah siapa pun yang singgah, lelah dari terminal, letih dari jalan, setelah shalat bisa duduk sebentar, membiarkan ayat meresap, membiarkan ilmu menetes pelan ke dada.
Wahai Wali Kota, para pengambil kebijakan, dan wahai warga, wahai siapa saja yang hatinya masih tulus dan mau mendengar. Mari nyalakan lagi lampunya. Mari rapikan lagi pintunya. Mari jadikan malam Ahad berikutnya bukan tempat untuk bersembunyi, tapi tempat untuk bersujud. Karena kemuliaan sebuah kota tidak diukur dari seberapa megah bangunannya, tapi dari seberapa hidup rumah Allah di dalamnya.
Kelak Allah tidak akan bertanya berapa pusat perbelanjaan yang kita bangun. Dia akan bertanya: “Bagaimana keadaan rumah-Ku di Dukuh Semar?” Semoga ketika pertanyaan itu datang, kita bisa menjawab: “Ya Allah, kami pernah lalai. Tapi kami kembali. Kami menyapu, kami merawat, kami memakmurkannya lagi.” Karena rumah Allah yang menangis sedih hari ini, berhak dihibur dengan sujud kita. Kini, besok dan seterusnya. Hingga kelak ia menjadi saksi kita di hadapan-Nya. (*)






