Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
SIAPA sangka, nama yang biasa kita lihat di layar kaca dan layar gawai, akhirnya berlabuh di tanah yang retak. Atta Halilintar datang ke NTT bukan dengan panggung dan sorotan lampu, melainkan dengan karung beras, telur, dan mi instan. Pada Kamis, 20 Agustus 2026, ia memilih menyeberang, bukan untuk konten, tapi untuk nurani.
Gempa meninggalkan luka yang tak bisa diukur dengan angka. Rumah roboh, jalan putus, dan malam menjadi panjang karena tak ada listrik. Di sanalah Atta belajar lagi arti terang. Bukan dari lampu sorot, tapi dari tenaga surya yang dipasang seadanya, dari solar yang dibakar pelan-pelan agar satu desa bisa menghangatkan nasi.
Perahu menjadi jembatan. Karena jalan darat tak sanggup menjangkau, maka air yang dipakai. Di atas ombak, ia membawa titipan: rezeki dari Tuhan dan dari teman-teman yang menitipkan harap. “Kami datang mengantarkan rezeki titipan Tuhan dan teman-teman untuk sedikit senyum dan harapan ke beberapa posko bencana di sini,” tulis artis berusia 32 tahun itu.
Setiap desa yang disinggahi adalah cerita baru tentang bertahan. Tentang ibu yang menanak di dapur darurat, tentang bapak yang menatap langit mencari tanda reda.
Di posko-posko pengungsian, bantuan itu tidak hanya diturunkan. Ia dibagikan dengan tangan. Beras, telur, makanan ringan, semua sampai ke pangkuan yang menunggu. Dan di tengah lelah itu, ada kalimat sederhana yang ditulis Atta: “Untuk sedikit senyum dan harapan.” Ternyata harapan bisa sekecil sebungkus mi, asal diberikan dengan mata yang menatap.
Hal yang paling menggetarkan bukan gempa susulan yang ia rasakan sendiri. Bukan juga malam yang ia lewati di posko bersama relawan. Yang paling menggetarkan adalah wajah anak-anak. Saat nama mereka disebut, saat ada uang hadiah kecil di tangan mereka, raut bahagia merekah. Di negeri yang gelap listrik, tawa mereka menjadi PLN yang sesungguhnya.
“Merasakan langsung gempa di sini. Melihat anak-anak, ibu dan bapak berjuang dan bertahan. Lewat perjalanan darat dan laut, kami sampai di pulau yang belum terjangkau Listrik PLN. Listrik di sini hanya mengandalkan tenaga surya ataupun solar,” tulis Atta di akun facebook-nya, Atta Halilintar.
NTT mengajar kita tentang pulau yang belum seluruhnya tersentuh jaringan. Tentang hidup yang hanya mengandalkan matahari di siang hari dan lentera di malam hari. Tentang kesabaran yang tidak diumbar di media, tapi dipraktikkan setiap hari: menunggu air, menunggu bantuan, menunggu rumah kembali berdiri.
Atta datang sebagai manusia biasa yang membawa nama besar. Ia tidak membawa janji besar. Ia membawa kehadiran. Dan kehadiran, dalam bencana, adalah bahasa paling tua yang kita mengerti. Ia duduk, ia mendengar, ia bermalam. Ia merasakan tanah yang masih berguncang di bawah kaki.
“Doa terbaik untuk saudara-saudara saya NTT, Kalimantan, dan Indonesia,” ucap suami Aurel itu. Doanya sederhana dan luas: untuk NTT, untuk Kalimantan, untuk Indonesia. Doa itu tidak memilih pulau. Karena ia tahu, luka di satu tempat adalah luka kita semua. Ketika satu saudara menangis, seluruh rumah besar bernama Indonesia ikut sesak.
Selain Atta, sejumlah selebritas dan influencer juga turun langsung ke NTT untuk menyalurkan bantuan hasil galang dana warga Indonesia. Warga bantu warga!
Renungan ini bukan tentang siapa yang paling terkenal. Ini tentang siapa yang mau datang ketika yang lain mungkin lebih memilih menjadi penonton. Tentang bagaimana kepedulian bisa menyeberang laut, memanjat jalan rusak, dan tetap memilih mampir di desa yang bahkan peta kadang lupa.
Atas nama anak-anak yang senyumnya kembali mekar, atas nama bapak dan ibu yang bertahan, kita belajar hal penting: bahwa keluarga tidak hanya di Kartua Keluarga atau KK, bahwa saudara bukan hanya kata di Kartu Tanda Penduduk atau KTP.
Keluarga atau saudara adalah ketika ada yang rela kedinginan oleh angin, capek oleh perjalanan, dan tetap membawa beras agar perut lain tidak kosong. Semoga senyum NTT menjadi saksi, bahwa kita memang, dan akan selalu, bersaudara. (*)






