Opini

Sejarah yang Mengalahkan Sejarah

2
×

Sejarah yang Mengalahkan Sejarah

Share this article
IMG 20260927 WA0016 1
Syamsudin Kadir

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”

Sejarah apa yang paling konkret dan paling berdampak dalam hidup manusia? Bukan sejarah kerajaan yang megah, bukan imperium yang luas, bukan ideologi yang gemerlap dan bising. Kerajaan runtuh menjadi museum yang sepi, imperium hilang menjadi debu yang diterbangkan angin. Sejarah paling konkret adalah sejarah yang peninggalannya bukan batu, tapi manusia yang berubah jiwanya. Sejarah paling berdampak adalah sejarah yang mengubah alasan mengapa kita hidup di dunia.

Itulah sejarah para Nabi dan Rasul yang tidak pernah mati dan lapuk itu. Mereka tidak hanya menulis sejarah di atas kertas yang rapuh dan fana dan singkat. Mereka mengubah arah sejarah di atas bumi yang luas dan panjang dan keras. Mereka tidak mewariskan istana yang lapuk oleh waktu yang kejam dan ganas dan cepat. Mereka mewariskan manusia yang tidak pernah lapuk oleh zaman dan masa dan usia.

Lihatlah Nuh AS dengan dakwahnya yang sangat panjang dan melelahkan dan sunyi itu. Sembilan ratus lima puluh tahun ia berdakwah tanpa henti, siang dan malam, sembunyi dan terang. Secara statistik ia gagal total, pengikutnya tidak sampai seratus orang yang setia dan sabar. Kaumnya mengejeknya gila dan menantang azab turun dengan sombong dan angkuh. Namun dari kegagalan itu Allah menyelamatkan masa depan peradaban manusia yang hampir punah.

Satu kesabaran Nuh mengalahkan satu banjir besar yang dahsyat dan menenggelamkan dunia. Satu ketaatan Nuh mengalahkan satu generasi yang sombong dan angkuh dan lalai dan lupa. Bumi menghitung jumlah pengikut, langit menghitung keteguhan hati yang sabar dan teguh. Nuh kalah di mata manusia yang silau oleh jumlah dan angka, tapi menang di mata Allah. Kemenangan di mata Allah itulah kemenangan yang abadi dan hakiki dan sejati.

Lihatlah Ibrahim AS yang melawan sistem adidaya bernama Namrudz yang sangat kuat itu. Seorang diri tanpa partai, tanpa tentara, tanpa media dan buzzer pendukung yang berisik. Modalnya hanya satu kalimat agung: La ilaha illa Allah yang membelah langit dan bumi. Karena kalimat itu ia dibakar hidup-hidup di depan publik sebagai tontonan kekuasaan yang sombong. Tapi Allah berfirman: “Wahai api jadilah dingin dan selamat bagi Ibrahim yang berani!”

Baca Juga :  Renungan Duka: 4 Bulan, 4 Sahabat, Jurnalis Cirebon Berpulang

Api yang panas membakar menjadi dingin yang menyelamatkan Ibrahim yang tunduk dan tawakal. Dari peristiwa itu lahir rumus abadi peradaban yang tidak pernah usang dan lapuk dan hilang. Keberanian satu orang mukmin lebih kuat dari kekuasaan satu negara tirani yang besar dan angkuh. Siapa yang tunduk kepada Allah, maka alam pun tunduk kepadanya dengan patuh dan tunduk. Itulah fisika iman yang tidak pernah diajarkan di akademi mana pun di dunia ini.

Lihatlah Musa AS dalam duel paling heroik antara tauhid dan tirani Firaun yang kejam itu. Di satu sisi ada Firaun pemilik tentara terkuat dan istana termegah di dunia yang fana. Di sisi lain ada Musa mantan buron yang hanya membawa tongkat kayu yang sederhana dan kecil. Secara kalkulasi militer Musa pasti kalah dan habis tanpa sisa dan bekas dan cerita. Tapi tongkat yang diangkat atas nama Allah mampu membelah Laut Merah yang luas dan dalam.

Laut terbelah dan Firaun tenggelam bersama seluruh kesombongannya yang tinggi dan angkuh. Inilah analitik sejarah yang paling tajam dan jernih dan jujur bagi jiwa yang mau berpikir. Kekuatan bukan pada besarnya senjata di tangan yang menggenggam erat dan sombong. Kekuatan ada pada kebenaran di dalam dada yang beriman dan sabar dan yakin. Tongkat kayu yang kecil mengalahkan singgasana emas karena dipegang oleh kebenaran yang hakiki.

Lihatlah Isa AS yang lahir dalam fitnah besar yang sangat kejam dan menyakitkan itu. Ibunya Maryam yang suci dituduh pezina oleh kaumnya yang dengki dan hasad dan keji. Ia tanpa ayah pembela, tanpa kabilah pelindung, tanpa kekuasaan dunia yang fana dan menipu. Dakwahnya tentang ruh dan cinta dikejar-kejar Romawi yang sangat kuat dan kejam dan bengis. Tapi ia mengajarkan pelajaran abadi: jasad bisa dibunuh, ruh tidak pernah bisa mati dan hilang.

Baca Juga :  Ahmad Safri: Cereng, Mataram dan Surabaya

Romawi bisa mengepung jasad yang lemah, tapi tidak bisa mengepung kebenaran yang hidup dan menyala. Mereka bisa mematikan lilin yang kecil, tapi tidak bisa mematikan cahaya yang datang dari langit. Kasih Isa yang lembut lebih kuat dari pedang legiun Romawi yang tajam dan banyak dan berat. Ruh yang hidup tidak pernah bisa dibunuh oleh tirani yang sombong dan kejam dan zalim. Kebenaran tidak bisa disalib dan dibunuh, ia hanya naik ke langit yang tinggi dan suci.

Lihatlah Muhammad SAW penutup risalah yang menjadi keajaiban peradaban dunia yang agung. Yatim sejak dalam kandungan, buta huruf, tanpa akademi Athena dan Persia yang megah dan tinggi. Dimusuhi di Makkah, dilempari berdarah di Thaif, dikepung lapar di Syi’ib yang mencekam dan sunyi. Hendak dibunuh dalam semalam, hijrah dalam ancaman maut yang mengintai di setiap jalan dan tikungan. Tapi dalam dua puluh tiga tahun saja ia mengubah peta dunia yang gelap gulita menjadi terang.

Dari gua Hira yang gelap dan sempit menjadi cahaya yang menerangi dua pertiga dunia yang luas. Dua puluh tiga tahun yang singkat mengubah empat belas abad sejarah manusia yang sangat panjang. Tanpa istana yang megah, tanpa gedung yang tinggi, tanpa harta yang melimpah dan berlimpah ruah. Ia hanya punya satu modal yang abadi: manusia yang dibina dengan wahyu yang suci dan murni. Wahyu itu tidak pernah usang oleh waktu yang terus berjalan dan berganti dan berlalu.

Apa yang ia bangun? Ia membangun manusia, bukan bangunan yang tinggi menjulang dan angkuh. Abu Bakar yang lembut menjadi baja yang keras saat menjaga kebenaran agama yang suci dan mulia. Umar yang keras menjadi sutra yang lembut saat mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan dengan tartil dan syahdu. Bilal budak hitam yang hina menjadi manusia paling merdeka di atas Ka’bah yang mulia dan agung. Khalid panglima musuh yang ganas menjadi Saifullah yang tajam dan berani membela Islam yang mulia.

Baca Juga :  Reformasi Tata Kelola Sertifikasi Halal Indonesia: Dari Kepatuhan Regulatif Menuju Kemaslahatan Publik

Ia tidak mencetak pengikut yang banyak dan berisik dan gaduh dan lalai di jalan. Ia mencetak pahlawan yang bermakna dan berkorban dan setia pada risalah yang suci dan abadi. Pahlawan yang hidup dan berjuang setelah ia wafat dan tiada di dunia yang fana dan singkat. Raja menaklukkan wilayah dengan pedang yang tajam, lalu wilayah memberontak saat rajanya mati dan hilang. Nabi menaklukkan hati dengan wahyu yang lembut, lalu hati menaklukkan wilayah setelah Nabinya wafat ratusan tahun lamanya.

Pada akhirnya semua sejarah akan menjadi debu yang hilang ditiup angin lalu yang kencang. Kerajaan runtuh dan hancur, ideologi usang dan lapuk, teknologi diganti dan dilupakan manusia dengan cepat. Tapi kisah Nuh yang sabar dan Ibrahim yang berani akan tetap hidup dan menyala dan abadi. Kisah Musa yang melawan tirani, Isa yang suci, Muhammad yang mencinta akan tetap abadi dan menyala. Karena mereka tidak sekadar membuat sejarah dunia yang fana dan sementara dan singkat ini.

Mereka membuat jalan pulang bagi seluruh sejarah manusia kepada Allah yang Kekal dan Abadi. Jalan pulang itu tidak pernah mati dan tidak pernah usang oleh zaman dan masa dan usia. Sejarah raja berakhir di museum yang sepi dan berdebu dan sunyi dan dingin. Sejarah Nabi berakhir di surga yang abadi dan penuh cahaya dan cinta dan damai. Itulah sejarah yang paling konkret, paling berdampak, dan paling hakiki bagi jiwa kita semua. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *