Opini

Idul Fitri, Silaturahim dan Shaum Syawal

9
×

Idul Fitri, Silaturahim dan Shaum Syawal

Share this article
IMG 20260314 WA00151
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Departemen Pendidikan Karakter Majelis Pimpinan Pusat ICMI 2025-2026

SUARA takbir kembali menggema di berbagai penjuru bumi. Sebagian umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri pada Kamis 19 Maret 2026 dan Jumat 20 Maret 2026, sebagian lagi pada Sabtu 21 Maret 2026. Perbedaan semacam ini sudah menjadi hal yang lumrah, terutama karena hadits yang mendasari penentuan awal Syawal memang memungkinkan untuk itu. Di samping itu, tentu saja karena perbedaan syarat dan tata cara penentuan.

Rasulullah shallallahu “alaihi wasallam bersabda, “Apabila kamu melihat hilal shaum-lah, dan apabila kamu melihatnya beridulfitrilah! Jika ia terhalang oleh awan di atasmu, maka estimasikanlah!” (HR. Muslim). Hadits ini merupakan cara menentukan awal bulan Kamariah terutama Ramadan. Meski hadits ini secara eksplisit membicarakan rukyat, namun justru memberi tempat bagi penggunaan hisab di kala bulan tertutup awan. Artinya hisab digunakan pada saat ada kemusykilan melakukan rukyat karena faktor alam (bulan tertutup awan).

Dengan demikian, perbedaan awal Ramadan dan awal Syawal sangat dimungkinkan untuk berbeda. Hal tersebut merupakan khazanah terbuka yang bisa saja memberi kesimpulan yang berbeda. Umat Islam di berbagai negara, termasuk di Indonesia, telah mengalami perbedaan semacam itu sejak lama dan tetap dalam bingkai persaudaraan yang kokoh. Ijtihad adalah salah satu metode dalam menentukan hukum bahkan penemuan hukum sebuah fenomena keagamaan. Dan karena itu, semuanya punya pijakan yang mendasar dalam perspektif Islam.

Kini, kita sudah masuk pada bulan Syawal 1447 H, sebuah fakta bahwa kita sudah menjalankan Idul Fitri dengan segala keunikan dan nilai-nilai luhur di dalamnya. Salah satu agenda yang sangat akrab dan melekat pada Idul Fitri adalah silaturahim. Secara bahasa, silaturahim terdiri dari dua kata dalam bahasa Arab: “silah” yang berarti hubungan, dan “rahim” yang berarti kasih sayang. Dalam konteks Islam, silaturahim mengacu pada menjaga hubungan kasih sayang dan persaudaraan dengan sesama manusia, terutama dengan keluarga dan kerabat. Islam sangat menekankan pentingnya silaturahim.

Baca Juga : 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beribadahlah pada Allah dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahim dengan orangtua dan saudara.” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.” (HR. Ahmad).

Selain pentingnya silaturahim, pada Syawal juga kita dianjurkan untuk menjalankan shaum enam hari Syawal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang shaum Ramadan kemudian shaum enam hari di bulan Syawal, maka dia shaum seperti setahun penuh.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shaum Ramadan dan shaum enam hari sesudah Idul Fitri, maka itu sama pahalanya dengan shaum genap setahun.” (HR. Ibnu Majah).

Walaupun statusnya sunah, shaum enam hari Syawal merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Bahkan Allah mengingatkan bahwa sangat mencintai hamba-Nya yang giat menjalankan ibadah sunah. Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman: “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *