Opini

Setiap Kita Pasti Bertemu Ajal Kematian

17
×

Setiap Kita Pasti Bertemu Ajal Kematian

Share this article
IMG 20260404 WA0077
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Jaga Lisanmu, Tangisi Dosamu”

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un, kabar meninggalnya Ibu Mardiati binti Yunizar saya terima dari istri saya (Ibu Eni Suhaeni) yang mengajar di SDIT Abbas, Talun, Cirebon, Jawa Barat. Dari info yang saya peroleh diungkap bahwa segenap keluarga besar SDIT Ibnu Abbas turut berbela sungkawa atas meninggalnya ibu dari Neo Lawrence Nabia ini, yang meninggal pada Sabtu 4 April 2026 sore. Neo merupakan siswa kelas 5A, sekelas dengan anak saya yang kedua, Bukhari Muhtadin, di SDIT Ibnu Abbas.

Mendengar kabar semacam itu membuat saya dan anak saya, Bukhari Muhtadin, langsung menuju ke lokasi atau rumah duka, yang masih satu komplek dengan tempat saya berdomisili: Perumnas Bumi Arumsari, Talun, Cirebon. Sesampainya di lokasi, keluarga yang menunggu di rumah duka mengarahkan saya ke musola terdekat untuk mengikuti shalat jenazah. Setelah itu, bersama warga dan keluarga berangkat menuju tempat pemakaman untuk menjalankan kewajiban selanjutnya: menguburkan.

Pembelajaran Penting

Setiap mendengar atau menyaksikan orang meninggal dunia, saya terbiasa untuk merenung sejenak, tentu saja seputar batas hidup di dunia, yaitu ajal kematian. Bagaimana pun, manusia adalah makhluk yang bernyawa dan suatu saat pasti bertemu dengan ajal kematian masing-masing. Allah berfirman, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kematian tak mengenal latar apapun, entah tua atau muda bahkan anak-anak, bila jadwal itu tiba, maka setiap kita pasti mengalami kematian. Hal ini menjadi penegas bahwa kita hidup di dunia ini sejatinya memiliki batas tersendiri yang Allah sudah tentukan. Bila ajal kematian kita tiba, maka tak satu pun yang mampu berkompromi. Allah berfirman, “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS. al-A’raf: 34)

Baca Juga :  Transformasi PKB di Usia ke-27: Antara Tantangan Destruktif dan Kepemimpinan Konstruktif

Betapa dahsyatnya peristiwa kematian yang menimpa kita. Ia adalah bagian dari rangkaian alur takdir dari seluruh perjalanan hidup kita dari awal hingga akhir di akhirat kelak. Kendatipun kita dalam kondisi sehat, bukan berarti kita luput dari ajal kematian. Bahkan bila pun kita bersembunyi di dalam benteng yang kokoh, kita tetap berujung pada kematian. Sungguh indah firman Allah berikut ini, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa’: 78)

Bahkan Allah mengingatkan, “Kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Jumu’ah: 8). Setelah melalui kematian, kita pun bakal mendapat informasi lengkap dari Allah perihal seluruh rangkaian perjalanan hidup kita selama hidup di dunia. Semuanya bakal terungkap jelas dan tak bisa ditutup-tutupi.

Karena itu, bila mendapatkan kabar adanya orang yang meninggal dunia, maka yang mesti kita lakukan adalah mendoakan yang terbaik, memaafkan bila ada kesalahannya, turut menunaikan shalat janazah dan menguburkan, tentu di samping kewajiban lain yang sudah ditentukan oleh syariat. Selain itu, yang perlu kita lakukan adalah mengingat mati. Hal ini menjadi urgen sebab setiap kita pasti bersua dengan ajal kematian kita masing-masing. Karena itu, kita mesti berbenah dan menyiapkan diri atau bekal.

Setiap detik mesti kita lalui dengan proses evaluasi, apakah iman, ibadah dan amal kita sudah sesuai dengan apa yang Islam tentukan? Apakah kita sudah siap menemui peristiwa bersejarah dan penting itu? Sebab kematian bukan soal mau atau tidak mau, bukan soal suka atau tidak suka, tapi soal jalan takdir yang pasti kita lalui. Allah berfirman, “Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Munafiqun: 11).

Baca Juga :  Guru Hebat, Indonesia Kuat!

Berkaitan dengan itu, kita perlu berkali-kali membaca potongan riwayat berikut ini. Seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah) (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *