Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”
ADA pertanyaan yang pelan-pelan mengendap di jiwa: mengapa hidup yang hanya disangga oleh yang wajib terasa begitu rapuh? Jawabannya: yang wajib adalah fondasi. Tapi fondasi saja tidak pernah cukup untuk menegakkan bangunan. Ada yang sunyi, yang tidak difardhukan, yang kita anggap pelengkap, padahal di sanalah energi itu disimpan. Di sanalah jiwa menemukan kekuatannya yang paling jujur.
Abdullah bin Mubarak pernah ditanya, “Adakah yang lebih tinggi dari jihad?” Ia menjawab, “Memberi nafkah yang layak untuk keluarga”. Di titik itu kita paham ketika Rasulullah bersabda: “Dinar yang paling utama yang diinfakkan seseorang adalah dinar yang diinfakkan untuk keluarganya.” (HR. Muslim). Maka peluh seorang ayah, hakikatnya adalah darah seorang mujahid di jalan Allah.
Bisyr Al-Hafi melangkah lebih dalam lagi. Ia berkata, “Lebih utama bekerja untuk anak-istrimu daripada untuk dirimu sendiri.” Kalimat yang pendek, tapi membongkar ego kita yang paling dalam. Rasulullah menegaskan porosnya: “Jika engkau menafkahkan satu nafkah dengan niat mengharap wajah Allah, engkau akan diberi pahala, bahkan sesuap yang kau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan ada dosa yang tidak gugur oleh air mata, kecuali oleh lelah yang jujur memikul amanah keluarga. Dari sini kita belajar satu kaidah kehidupan: yang tidak wajib bisa menjadi sangat wajib, ketika ia lahir dari cinta dan tanggung jawab. Di sanalah letak kemuliaan yang sunyi, yang tidak dilihat manusia, tapi dicatat dengan teliti oleh langit. Dan di sanalah Allah menguji, apakah cinta kita hanya kata-kata, atau menjelma menjadi kerja dan peluh.
Lalu mari kita bercermin pada amal-amal kecil yang sering kita remehkan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menjaga dua belas rakaat shalat sunnah rawatib, Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim). Dua belas rakaat yang kita jaga dalam sepi, diam-diam sedang membangunkan istana cahaya untuk kita. Dan beliau bersabda: “Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi.” (HR. Muslim).
Bahkan langkah kaki kita dihitung: “Setiap langkah menuju masjid menghapus satu dosa dan mengangkat satu derajat.” (HR. Muslim). Bahkan senyum pun dihitung: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). Di sinilah kita tersadar: sunnah itu bukan tempelan. Sunnah adalah penjaga. Ia adalah napas yang menjaga agar ruh ibadah tetap hidup.
Ia adalah sistem penyangga yang menjaga agar yang wajib tetap tegak. Tanpa rawatib, shalat wajib kehilangan ruhnya. Tanpa dzikir, hati kehilangan kelembutannya. Karena itu Rasulullah mengajarkan: “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinu meski sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang yang hanya hidup dengan yang wajib, ia seperti berjalan dengan satu kaki. Bisa, tapi tertatih dan cepat lelah.
Sedangkan orang yang menjaga yang sunnah, ia sedang mengisi ulang energi jiwanya sendiri. Maka yang wajib pun menjadi ringan, karena ia ditopang oleh yang sunnah. Kita ini musafir. Umur kita pendek, harapan kita panjang, perjalanan kita sangat jauh. Sementara waktu berjalan tanpa pernah menoleh kembali. Dan tanpa bekal dari ibadah sunnah, perjalanan panjang itu akan terasa hampa dan melelahkan.
Kerugian terbesar bukan kehilangan dunia, tapi kehilangan kesempatan berbekal. Betapa banyak penyesalan kita bukan karena dosa besar yang kita lakukan, tapi karena pahala besar yang kita lewatkan, padahal caranya begitu mudah. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).
Karena itu carilah amal yang memberi energi itu dengan kesadaran penuh. Perhatikan bagaimana Allah mengaitkan balasan kontan dengan amal yang sunyi. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah jadikan setiap kesedihannya jalan keluar, setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah beri rezeki dari arah yang tak disangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Inilah hukum kehidupan: energi tidak turun kepada mereka yang banyak menuntut, tapi kepada mereka yang banyak memberi dalam sepi. Dan ada waktu-waktu di mana langit dibuka dan pahala ditumpahkan tanpa batas. Sepertiga malam terakhir, ketika Rabb kita berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta akan Aku beri, siapa yang memohon ampun akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di sinilah rahasia energi ruhiyah itu terkuak. Ia bukan tambahan, ia adalah napas. Tanpa sunnah, hidup hampa, kering, dan cepat lelah oleh debu dunia. Dengan sunnah, hati menjadi lembut, jernih, dan penuh harap kepada Allah. Itulah mengapa Rasulullah dan para salaf menjaga yang sunnah seolah ia wajib. Mereka paham, kekuatan besar selalu lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan setia dan istiqamah. Maka jangan pernah remehkan amal kecil yang lahir dari keikhlasan yang dalam.
Satu senyum tulus bisa menjadi pelita bagi jiwa yang hampir padam. Satu langkah ke masjid bisa menghapus dosa bertahun-tahun. Satu bisik dzikir di tengah malam bisa memberatkan mizan di hari yang mencekam. Rasulullah bersabda: “Dua kalimat ringan di lisan, berat di timbangan, dicintai Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari yang sedikit dan setia itulah Allah titipkan kekuatan besar untuk jiwa kita. (*)






