Opini

Dari Sonkiko untuk Literasi NTT

13
×

Dari Sonkiko untuk Literasi NTT

Share this article
IMG 20261016 WA0010
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia”

FLAFIANUS Febryanto Putra Boimau, S.Pd., lahir di Kupang pada Selasa 18 Februari 2003. Ia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Antonius Boimau, seorang petani. Ibunya bernama Emilia Eni, seorang guru Sekolah Dasar. Adiknya bernama Maria Magdalena Meiwati Putri Susanti Boimau, S.Kep.

Pendidikan

Masa sekolahnya ia lalui dengan penuh ketekunan. Ia menempuh pendidikan di SDN Sonkiko, Desa Oeniko, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, tahun 2009–2015. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kupang Tengah tahun 2015–2018, dan SMA Negeri 1 Kupang Tengah tahun 2018–2021.

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Universitas Nusa Cendana Kupang, Program Studi PGSD, FKIP, angkatan 2021–2025.
Selama kuliah, ia tidak terlalu aktif di organisasi. Alasannya sederhana, ia ingin fokus pada kuliah.

Menurutnya, organisasi memang baik, karena dapat memperluas pemahaman dan melatih keberanian, tetapi tidak sedikit mahasiswa yang terlalu fokus berorganisasi hingga melupakan tugas utama sebagai mahasiswa.
Ia percaya, pemahaman yang luas dan sikap berani tidak hanya datang dari organisasi.

Pengalaman Unik dan Berharga

Salah satu pengalaman unik semasa kuliah terjadi saat Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP). Ia menjadi satu-satunya laki-laki di antara empat peserta yang ditempatkan di sekolah yang sama, sehingga ia ditunjuk menjadi ketua.

Pada acara perpisahan, tanpa persiapan sebelumnya, ia diminta maju untuk menyampaikan kesan dan pesan mewakili teman-teman PLP dan peserta Kampus Mengajar Angkatan 8. Itu adalah pertama kalinya ia berbicara di depan umum. Suasana yang seharusnya haru justru berubah menjadi ceria karena gaya bicaranya yang cepat, sehingga mengundang tawa hadirin.

Kehidupan Flafianus tidak lepas dari ujian. Beberapa bulan sebelum kelulusan SMA, ibunda tercinta meninggal dunia. Peristiwa itu menjadi pukulan berat karena ia sangat dekat dengan ibunya.

Baca Juga :  Mari Berdo’a Kepada Allah!

Ia masih mengingat pesan ibunya kepada ayah, “Jangan marah dia, jangan lihat dia nakal, siapa tahu dia akan jadi orang sukses.”

Ia juga ingat janji ibunya, “Nanti Ade kuliah baru Mama beli laptop, ya.” Namun sebelum janji itu terwujud, ibu telah pergi. Senyum ibu masih terbayang hingga sekarang. Dengan bantuan kakak sepupu, Kak Astri, Kak Shela, dan Mama Ona, ia yang masih awam akhirnya mendaftar dan lolos jalur mandiri di Universitas Nusa Cendana.

Ujian lain datang saat kuliah. Motornya dicongkel orang, tas berisi SIM, KTP, STNK, dan sisa uang registrasi yang baru dibayar ikut hilang. Kejadian itu terjadi saat ia hendak persiapan PLP. Peristiwa tersebut sangat memukul mentalnya. Namun dari kejadian itu ia belajar bahwa hidup yang mudah hanyalah khayalan, hidup yang nyata penuh dengan rintangan dan cobaan.

Sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah ayah. Ketegasan dan cara didik ayah yang tegas membuatnya kuat sampai sekarang. Ia menilai ayah adalah sosok yang kuat menghadapi dunia demi membiayai kuliah anaknya, padahal baru saja ditinggal pergi oleh ibu. Walaupun cara menasihati ayah terkadang kurang enak didengar, ia yakin ayah selalu menaruh harapan besar kepadanya sebagai anak sulung.

Prinsip dan Moto Hidup

Prinsip yang ia pegang adalah bertanggung jawab dan jujur. Tanpa tanggung jawab dan kejujuran, tidak akan ada orang yang segan, terutama sebagai seorang perantau. Nasihat orang tua yang selalu ia ingat adalah harus selalu berdoa, pantang menyerah, jangan menjadi pemalas, dan jadilah pekerja keras.
Moto hidupnya ia tulis dengan sederhana dan jujur: “Jadilah kuat seperti ayah, dan jadilah sabar seperti ibu.”

Baca Juga :  Transformasi PKB di Usia ke-27: Antara Tantangan Destruktif dan Kepemimpinan Konstruktif

Terjun di Dunia Literasi

Sejak Januari 2021 hingga sekarang, ia bekerja di Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT sebagai staf. Ia juga aktif mengelola TBM Plus Cakrawala NTT yang berada di rumahnya sendiri. Taman bacaan ini berawal dari keprihatinan. Ia melihat fenomena anak SD yang lancar membaca di gawai tetapi tidak bisa membaca buku, bahkan ada anak SMP yang belum bisa membaca. Di rumahnya masih tersimpan buku-buku peninggalan ibu yang juga seorang guru. Dari situ ia berinisiatif membuka taman bacaan.

Niat itu mendapat dukungan dari Gusty Rikarno, Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT. Bersama mahasiswa, para frater, dan relawan sekitar, mereka membuka taman bacaan tanpa biaya sepeser pun. Buku-buku diperoleh dari sumbangan masyarakat dan buku bacaan bermutu dari pemerintah.

Taman bacaan ini mengusung empat isu nasional, yaitu literasi, kesetaraan, ramah anak, dan perubahan iklim. Anak-anak yang datang membawa tiket baca berupa botol bekas atau sampah anorganik, sebagai bentuk kepedulian lingkungan karena daerahnya dekat persawahan dan pesisir.

Di bidang akademik, ia belum menulis buku. Karya tulisnya baru satu artikel berjudul “Pengaruh Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Terhadap Pengembangan Bakat dan Budaya di SD GMIT Kuanino 2 Kota Kupang”.

Cita-cita dan Harapan

Keinginan terbesarnya adalah membuat ayah bangga, walaupun cita-cita ayah melihatnya sukses dalam karier belum sepenuhnya tercapai. Ia percaya ayah selalu mendukung setiap langkahnya dalam doa. Untuk adiknya, ia berharap adik menjadi orang sukses, taat dalam pekerjaan, dan semangat mengejar impian menjadi perawat, yang juga merupakan impian ibu.

Cita-cita ke depan, ia ingin menjadi orang yang bisa membahagiakan orang tua. Ia tidak berpikir untuk menjadi orang hebat, yang ia pikirkan adalah bagaimana agar orang tua bahagia. Gelar sarjana yang diraihnya ia persembahkan pertama untuk kedua orang tua, dan kedua untuk keluarga besar yang selalu mendukung.

Baca Juga :  Dana Desa; Korupsi versus Kemajuan Desa

Ia juga memiliki harapan untuk daerahnya. Untuk NTT, ia ingin semua anak tidak tertinggal dari anak-anak di daerah lain dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah dalam hal literasi.

Untuk Indonesia, ia berharap Indonesia menjadi negara maju yang sejahtera, adil, dan makmur.

Pesan untuk Kaum Muda

Pesan untuk teman-teman adalah agar bijak dalam mengambil keputusan dan berkuliah sampai selesai. Banyak mahasiswa yang mengikuti gengsi dan gaya hidup tanpa memikirkan orang tua yang bersusah payah di kampung demi melihat anaknya menjadi sarjana. Orang tua tidak meminta lulus tepat waktu, yang mereka inginkan adalah anaknya tetap tegar dan tidak putus asa menghadapi rintangan.

Jika diberi kesempatan melanjutkan studi, ia ingin melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Malang (UM), jurusan Pendidikan Dasar, karena ingin mendalami bidangnya, meskipun ia juga mempertimbangkan biaya dan penunjang lainnya.

Terima Kasih

Kini ia adalah seorang sarjana. Karena itu, ia mengucapkan terima kasih banyak kepada Rektor Universitas Nusa Cendana atas dedikasi dan bimbingan. Semoga Undana semakin maju dan mampu bersaing dengan kampus ternama lainnya.

Untuk para dosen, terima kasih telah menjadi orang tua kedua di kampus yang mendidik dengan segala keterbatasan dan kekurangannya.

Ucapan khusus untuk orang tua, ia menyampaikan terima kasih atas doa, dukungan, dan motivasi. Ia tidak dapat membalas semua jerih payah, namun ia berharap orang tua selalu diberi kesehatan.

“Untuk mama, semoga selalu ceria di sana!”, ucapnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *