LOMBOK, GM – Madrasah Aliyah (MA) Putra Yayasan Nurul Hakim Lombok, NTB kembali menggelar Musabaqah Fahmi Kutubitturats (MUFAKAT) tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai penyelenggara resmi yang ditunjuk langsung oleh Yayasan Nurul Hakim Lombok yang berlangsung di Kompleks Pondok Pesantren Nurul Hakim selama tiga hari, (Selasa – Kamis, 13-15/1/2026).
MUFAKAT 2026 diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Nurul Hakim Lombok dan beberapa pondok pesantren alumni setingkat MTs/Wustho dan MA/Ulya. Ajang ini menjadi ruang kompetisi ilmiah sekaligus wahana penguatan tradisi turats (kitab kuning) di kalangan santri.
Kegiatan kali ini bertema “Merajut Warisan Ilmu, Meneguhkan Tradisi Ulama”. Tema tersebut merefleksikan komitmen lembaga dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan para ulama, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa memahami turats dari kemampuan membaca kitab hingga proses pembentukan pola pikir, ibadah, dan amal seorang pencari ilmu.
Dalam arahannya, TGH. Muharrar Mahfuz, selaku Pimpinan Umum Yayasan Nurul Hakim Lombok, menegaskan beberapa prinsip utama yang harus dimiliki oleh pencari ilmu terutama santri sehingga ilmunya amaliah dan amalnya ilmiah.
“Sebagai penuntut ilmu, santri tidak boleh berpikir seperti orang awam. Ilmu harus membentuk cara pandang, kedalaman nalar, serta kehati-hatian dalam bersikap dan mengambil keputusan. Santri yang berilmu mampu melampaui orang awam dalam amal saleh, akhlak, dan kontribusi nyata di tengah umat,” ungkapnya.
Menurut ulama NTB kelahiran dan asli Kediri ini, ilmu sejati harus tercermin dalam kualitas ibadah. Karena itu santri dituntut untuk lebih tertib, lebih sungguh-sungguh, dan lebih konsisten dalam mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang tidak melahirkan kedisiplinan ibadah hanya akan menjadi beban hujjah di hadapan Allah, bukan cahaya petunjuk.
TGH. Muharrar Mahfuz berharap MUFAKAT tidak hanya melahirkan juara lomba, tetapi juga mencetak santri yang memiliki pola pikir ilmiah dan matang, menumbuhkan kedisiplinan ibadah dan kesungguhan spiritual, menguatkan kecintaan terhadap kitab kuning dan tradisi ulama, menjaga kesinambungan sanad keilmuan di lingkungan Yayasan Nurul Hakim Lombok dan melahirkan generasi yang berilmu, beramal, dan berakhlak.
“MUFAKAT 2026 menjadi ikhtiar kolektif dalam merawat warisan keilmuan Islam dan meneguhkan jati diri santri sebagai pewaris perjuangan ulama. Ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dihidupkan; bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk diamalkan,” lanjutnya.
Giat keilmuan dengan semangat “Merajut Warisan Ilmu, Meneguhkan Tradisi Ulama”, MUFAKAT diharapkan terus menjadi lentera yang menerangi jalan generasi santri menuju keberkahan ilmu dan kemuliaan amal. (RS)






