Opini

Menulis Sebagai Tradisi Intelektual Muslim

48
×

Menulis Sebagai Tradisi Intelektual Muslim

Share this article
IMG 20260115 WA0045
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

PADA tahun 2010 lalu saya mendapat undangan untuk menulis buku secara kolaboratif dengan 24 penulis lainnya dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Mereka adalah Edo Segara, Muhammad Sholihin, Radinal Mukhtar, M. Furqonal Aziz, Yanuardi Syukur, Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, Dwi Suwiknyo, Nafiah Al-Mar’ab, Bintang Gatimurni, Triani Retno A, Ifa Avianty, Diah Pratiwi, Akhi Dirman Al-Amin, Marjohan, Tinta Zaitun, Feryanto Hadi, Untung Wahyudi, Naqiyyah Syam, Rahman Hanivan, Fiyan Arjun, Prima Citra Devi, Dewi Rosiani, M, Sahrul Murrajab, RH. Fithriadi dan saya sendiri (Syamsudin Kadir).

Kontribusi Tulisan

Pada buku yang berjudul “Menulis, Tradisi Intelektual Muslim” ini saya menjelaskan dua hal penting. Pertama, menulis adalah tradisi warisan peradaban Islam. Hal ini dapat dipahami dari sejarah perkembangan dan kejayaan Islam dari abad 7 hingga abad 18 hijriah.

Kala itu, para ulama muslim dikenal memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat. Hal ini ditandai dengan karya tulis warisan mereka yang dapat dibaca hingga saat ini.
Para pakar muslim dalam bidang tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, dan berbagai keilmuan seperti astronomi, kedokteran, sastra, sejarah, tata negara, politik dan sebagainya telah menghadirkan berbagai karya monumental dalam bentuk kitab atau buku.

Kedua, setiap orang dapat menjadi penulis. Bila kita membaca berbagai karya tulis seperti artikel, cerpen dan puisi juga buku di berbagai toko buku, kita dapat memahami bahwa menulis adalah tradisi yang dapat dipelajari oleh siapapun.

Para penulis itu tidak melulu mereka yang berprofesi sebagai penulis, sebab ada juga yang berkarier di berbagai profesi lainnya. Tak sedikit dokter, polri, TNI, bidan, perawat, jurnalis, guru dan agamawan yang menulis puisi, cerita pendek, artikel dan novel, termasuk menulis buku.

Baca Juga :  Macetnya Karier Pejabat Fungsional

Bahkan ada juga yang berlatar pembantu rumah tangga, tukang ojek, sopir, pendaki gunung, traveler, seniman, budayawan, ibu rumah tangga dan pedagang kaki lima yang sukses menulis dalam banyak wajah seperti puisi, cerita pendek, artikel dan novel, termasuk menulis buku.

Para penulis buku “Menulis, Tradisi Intelektual Muslim” ini juga membuktikan hal tersebut. Mereka berasal dari beragam latar profesi. Selain penulis, ada juga yang berlatar guru, dosen, peneliti, motivator, penggiat literasi, pengusaha, editor lepas dan sebagainya.

Para penulis bersepakat bahwa menulis adalah aktivitas yang dapat ditekuni oleh siapapun. Bukan saja oleh mereka yang memang aktif di dunia kepenulisan tapi juga mereka yang baru memulai belajar menulis buku. Dengan demikian, semua orang punya kesempatan yang sama untuk menghadirkan karya literasi terutama dalam bentuk buku.

Komentar para penulis tersohor pada buku yang diterbitkan oleh Youth Publisher pada tahun 2010 silam ini membuatnya semakin menemukan relevansinya sebagai salah satu buku motivasi dalam membangkitkan semangat menulis di Indonesia. Baik kalangan muslim maupun non muslim, terutama mereka yang masih masuk kategori sebagai pemula seperti saya.

Pengalaman para penulis yang memiliki sepak terjang dan rekam jejak yang lama dapat menjadi inspirasi bagi siapapun untuk menekuni sekaligus melanjutkan tradisi menulis selama ini.

Saya sendiri merasa bahwa buku tersebut benar-benar membuat saya semakin tergila-gila untuk menekuni dunia literasi, khususnya lagi tradisi baca-tulis seperti yang sudah saya tekuni selama ini.

Komentar Penulis Nasional

Salim A. Fillah, penulis buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” berkomentar singkat namun padat pesan. “Jika makhluk pertama berupa pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi ‘Baca!’, maka menulis adalah tugas peradaban kita. Buku ini mengajak jemari menarikan kebenaran agar ia makin terbaca dan bercahaya. Tabik!,” begitu komentarnya.

Baca Juga :  NTB Sukses Menjadi Tuan Rumah Fornas VIII 2025

Hal ini menegaskan satu kunci utama menulis yaitu tradisi baca yang kuat. Bila seseorang aktif membaca, maka ia sudah memiliki modal utama untuk menulis. Ustadz Salim, demikian ia akrab disapa, tentu bukan asal bicara, tapi sudah membuktikan dan berdasarkan pengalamannya selama dua dekade terakhir.

Kang Arul, penulis dan pengamat cyberculture juga turut berkomentar pada buku ini. Begini komentarnya, “Menulis adalah tradisi yang bisa mengabadikan segalanya. Melalui tulisanlah kita bisa membaca rekam jejak masa lalu sebagai bekal untuk meraih masa depan. Buku ini mencerahkan, apalagi ditulis oleh para mujahid pena. Patut dijadikan sumber referensi utama.”

Menurut dia, menulis merupakan tradisi yang dapat mengabadikan sesuatu dan bekal meniti masa depan. Bagi siapapun yang rekam jejaknya terjaga, maka ia mesti menulis. Sebab tulisan itulah yang kelak menjadi saksi tentang dirinya.

Keunggulan Buku

Ya, buku ini tentu memiliki keterbatasan dan kelemahan tersendiri. Tapi itu bukan menjadi alasan bagi siapapun untuk enggan menekuni tradisi menulis. Para menulis buku setebal 184 plus x ini telah membuktikan bahwa tradisi menulis dapat dipelajari dan ditekuni. Kuncinya adalah niat baik, tekad yang kuat dan berani memulai dengan praktik langsung.

Buku ber-ISBN: 978-602-97924-0-9 ini menjadi bukti bahwa siapapun dapat menulis hingga menghasilkan karya tulis seperti buku yang bisa dibaca oleh siapapun.

Para penulis menekankan bahwa menulis bisa dijadikan sebagai tradisi atau budaya yang mampu mengabadikan sebuah momen atau pengalaman bersejarah para penulisnya.

Para penulis juga menegaskan satu hal penting: peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun dari tradisi keilmuan yang kuat, termasuk tradisi menulis. Para ulama era dulu adalah pecinta ilmu dan telaten dalam menjaga tradisi baca-tulis. Karya mereka dibaca dan dikaji sejak dulu hingga saat ini.

Baca Juga :  Dari Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina

Apapun itu, sungguh, tulisan yang inspiratif akan membuat pembaca terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri dan siapapun. Saatnya kita manfaatkan bonus teknologi di era ini untuk memperkokoh dan memajukan tradisi baca-tulis dalam skala besar, sehingga menjadi buku yang dibaca dan bermanfaat bagi siapapun.

Sebagai pemula dalam dunia kepenulisan, saya sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menyumbangkan satu tulisan bersama dengan para penulis nasional untuk buku ini. Rasa syukur saya semakin meningkat karena saya juga didaulat menjadi editornya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *