Opini

Kiai Abdul Halim; Penulis dan Bapak Literasi Indonesia

54
×

Kiai Abdul Halim; Penulis dan Bapak Literasi Indonesia

Share this article
IMG 20260105 WA0001
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh

 

PERSATUAN Umat Islam (PUI) merupakan salah satu organisasi keagamaan berbasis massa Islam yang lahir pada 21 Desember 1917. Embrio organisasi ini sebetulnya sudah ada sejak lama, tepatnya pada 1911. PUI didirikan oleh tiga tokoh yang memiliki pengaruh besar yaitu KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi dan Mr. Raden Syamsuddin. Ketiga tokoh ini berasal dari daerah yang berbeda. Bila KH. Abdul Halim berasal dari Majalengka, maka KH. Ahmad Sanusi dan Mr. Raden Syamsuddin berasal dari Sukabumi. Semuanya di Jawa Barat.

Secara khusus tentang KH. Abdul Halim, nama lengkapnya adalah Abdul Halim bin Iskandar bin Abdullah Komar bin Nursalim. Beliau lahir pada 4 Syawal 1304 H/26 Juni 1887 M di Desa Jatiwangi, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka-Jawa Barat. Bapaknya adalah KH. Iskandar, ibunya Hj. Siti Muthmainah. Keduanya merupakan sosok yang taat beragama dan memiliki pergaulan yang luas di tengah masyarakat.

KH. Abdul Halim merupakan anak ke-delapan dari delapan bersaudara, yaitu Iloh Mardiyah, Empon Kobtiyah, Empau Sodariyah, Junaedi, Iping Maesaroh, Hidayat, Siti Sa’diyah, dan KH. Abdul Halim sendiri. Pada masa kecil beliau akrab dengan panggilan Otong Sjatori. Seperti anak kebanyakan pada masa itu, beliau akrab dengan teman-teman sebayanya. Baik yang keturunan pribumi maupun yang keturunan Cina dan Arab.

Secara khusus tentang KH. Abdul Halim, bila kita menelisik berbagai sumber, maka bisa dikatakan bahwa beliau bukan saja pejuang kemerdekaan, pendiri bangsa, pembentuk negara, ulama, negarawan dan pahlawan, tapi juga sosok pejuang literasi yang handal. Beliau adalah jurnalis atau wartawan kawakan sekaligus penulis handal. Tidak salah bila sebagian masyarakat Indonesia era ini menyematkan “Bapak Literasi Indonesia” untuk sosok yang akrab dengan berbagai kitab dan buku ini.

Baca Juga :  Demi Judi Online, Berani Korupsi Uang PDAM Kota Cirebon!

Ya, KH. Abdul Halim adalah seorang penulis sekaligus jurnalis atau wartawan. Hal ini tentu sangat beralasan. Sebab beliau memang pernah memimpin untuk beberapa majalah terkenal pada zamannya. Beliau pernah menjadi pemimpin redaksi dan penanggung jawab penerbitan majalah resmi perhimpunan, Soara Perjarikatan Oelama (SPO) dan majalah As-Sjuro. Beliau juga kerap menulis berbagai artikel dalam beragam tema, yang pada zaman itu menjadi bacaan gurih dan menarik bagi banyak kalangan.

Atas tangan dingin dan kepiawaiannya dalam memimpin, majalah-majalah tersebut bukan hanya memuat berita-berita resmi, tetapi juga gerakan-gerakan pembaharuan di Timur Tengah dan pngetahuan-pengetahuan tentang kemajuan Barat. Pada masa pendudukan Jepang, ia pun membantu penerbitan majalah Pelita, dan mengisi kolom Roeangan Hadis si majalah Soeara MIAI.

Selain menulis untuk majalah-majalah tersebut, KH. Abdul Halim juga menulis banyak buku. Buku yang beliau tulis adalah buku-buku dengan konten bergizi dengan tema yang juga bergizi. Buku-buku yang berhasil disusunnya sebanyak belasan buku, yaitu 1) Da’wat al-‘Amal; 2) Tarikh Islam; 3) Neraca Hidup; 4) Kitab Petunjuk Bagi Sekalian Manusia; 5) Risalat; 6) Ijtima’iyyat wa ’Ilabuha; 7) Kitab Tafsir Surat Tabarak; 8) Kitab 262 Hadis Indonesia; 9) Bab al-Rizq; 10) Tafsir Juz ‘Amma; 11) Economie dan Cooperative Dalam Islam.

Bila membaca selintas peran dan kontribusi beliau pada dunia literasi, baik sebagai pemimpin majalah maupun sebagai penulis buku, maka dapat dikatakan bahwa KH. Abdul Halim memang sosok yang multi tasking. Beliau adalah ulama dan pejuang yang memiliki semangat perjuangan yang sangat tinggi, termasuk dengan memanfaatkan tradisi literasi sebagai senjata. Ide dan pemikiran beliau dalam berbagai literatur dapat kita baca karena beliau sendiri memang akrab dengan dunia literasi dan memiliki karya tulis yang monumental.

Baca Juga :  Tiga Keajaiban Istighfar

Pada era ini, terutama pada era teknologi informasi yang semakin maju dan media sosial yang menjamur ini, memperkuat tradisi literasi sebagaimana yang dilakoni KH. Abdul Halim di zamannya adalah sebuah keniscayaan bagi generasi baru, terutama generasi muda PUI. Dengan tradisi ini, ide, pemikiran dan nilai-nilai perjuangan KH. Abdul Halim, PUI dan tokoh PUI semakin dikenal dan bisa diperdalam oleh berbagai kalangan.

PUI adalah Ormas pemersat dan perekat persatuan antar umat dan elemen bangsa lainnya. Kemampuan menarasikan ide, pemikiran dan nilai-nilai perjuangan adalah kunci penting yang menambah daya tarik PUI bagi berbagai kalangan. Apalah lagi jumlah kaum milenial semakin banyak, hal ini menjadi peluang bagi PUI untuk melakukan penambahan jumlah kader atau amggota. Dan, salah satu media sekaligus tradisi yang dikembangkan adalah tradisi menulis.

Bila KH. Abdul Halim sudah melakukan lompatan sejarah yang besar di masa lalu, sehingga saat ini kita bisa merasakan dan menikmati dampaknya, maka kini dan ke depan, kita memiliki tanggungjawab moral untuk melanjutkan lakon beliau tersebut dengan penyesuaian relevansi dan konteksnya. Ide, pemikiran dan nilai-nilai perjuangan KH. Abdul Halim dan tokoh pendiri lainnya mesti dipublikasi secara terus menerus, sehingga masyarakat luas semakin mengenal dan berupaya untuk mengadaptasikannya dalam kehidupan sosial.

Diakui bahwa PUI adalah Ormas tertua dan memiliki jasa besar bagi umat dan pendirian negara kesatuan republik Indonesia. Lakon sejarah semacam itu akan menjadi inspirasi bagi banyak kalangan manakala PUI mampu mewartakan secara seksama dan sadar.

Pada usianya yang ke-108 tahun lebih ini, PUI perlu mengambil peran di ranah literasi umat dan bangsa. Generasi muda PUI perlu aktif menulis dan menyebarluaskan berbagai ide dan pandangannya tentang berbagai hal ke berbagai media. Gagasan autentik dan apatif generasi muda PUI harus menghiasi seluruh laman media.

Baca Juga :  Sekolah Tanpa Filter: Asapmu, Identitasmu!

Bila saja PUI, terutama generasi mudanya memiliki geliat pada tradisi menulis, maka hal ini bukan saja ternilai sebagai upaya melanjutkan tradisi KH. Abdul Halim, tapi juga semakin mengokohkan semangat dan cita-cita PUI sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia di masa yang akan datang. Bahkan untuk mengokohkan kontribusi pada terbentuknya tatanan baru yaitu peradaban dunia-global yang damai, adil dan maju.

Sejarah masih bersama PUI dan seharusnya menjadi elemen yang lebih bertanggung jawab untuk menyusun sejarah kebangkitan umat Islam dan bangsa Indonesia. Kebangkitan umat dan bangsa ini harus ditenun dari dan oleh jari-jari generasi PUI. Bukan sekadar karena PUI didirikan oleh para tokoh dan pahlawan bangsa yang gemar menulis, tapi takdir sejarah menjadi pelaku sejarah memang tak bisa dititipkan kepada siapapun.

KH. Abdul Halim sudah menjalankan tugas sejarahnya dengan baik dan sangat monumental, kini giliran generasi baru PUI yang mesti melanjutkannya dengan melahirkan karya terbaru. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *