Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Belasan Buku Biografi Tokoh
Senin 2 Maret 2026 pukul 01.05 WIB, saya mendapat kabar di sebuah grup WhatsApp bahwa seorang warga bernama Bapak Supratono Bin Roeskandar telah meninggal dunia pada Ahad 1 Maret 2026 pukul 23.00 WIB. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Pak Suprat, demikian saya akrab menyapa beliau, beralamat di Kompleks Perumnas Bumi Arumsari, Jl. Kamper 2, RT. 04/RW.06, Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Saya mengenal wajah Pak Suprat sejak sekira 2023 lalu. Hanya saja belum saling kenal nama dan belum berbincang lebih dekat. Kala itu, hanya berjabat tangan dan memberi salam seperti umumnya jamaah lakukan bila bersua sesama warga atau jamaah saat di masjid. Sekira awal Agustus 2025 lalu, saya menyapa beliau pada momentum setelah shalat Jumat di Masjid Maslicha, tempat para jamaah kerap shalat, bersua dan tegur sapa. Itulah momentum awal saya mengenal nama sapaan beliau.
Kala itu, saya duduk di pojok belakang Masjid Maslicha sembari menuntaskan proses editing naskah buku saya seputar Ramadan yang belakangan dibagikan secara gratis ke masyarakat luas dalam bentuk file pdf. Singkat cerita, Pak Suprat pun mengajak saya untuk menghitung uang infak masjid yang biasa dihitung setelah rangkaian shalat Jumat berlangsung. Karena tak terlalu sibuk, saya meng-iya-kan ajakan beliau. Bahkan hingga Jumat awal Ramadan 1447 lalu.
Di sela-sela melakukan penghitungan uang bersama Ketua DKM dan pengurus lainnya, Pak Suprat sering menyampaikan hal-hal penting dan kebaikan. Seingat saya, diantaranya, pertama, perihal keranda mayat dan kubur. Sekira bulan awal Januari 2026 lalu Pak Suprat pernah menyampaikan perlunya keranda mayat yang lebih baru di masjid. Kata beliau, minimal kalau orang ke masjid bukan saja untuk shalat tapi jadi ingat mati. Beliau juga menyinggung tentang tanah kuburan dan biaya gali kubur.
Kedua, tentang hati. Pada Desember 2025, Pak Suprat pernah menyampaikan bahwa yang terpenting dari manusia adalah hatinya, bukan sekadar tampilannya. Hal ini beliau sampaikan sebagai pengingat tentang inti kehidupan manusia. Menurut beliau, kalau hati kita hidup, maka kita akan tergerak untuk selalu ke masjid. Bahkan beliau mengingatkan, agar jangan terjebak dengan tampilan fisik. Sebab ujian tampilan itu bisa menjebak hati kita.
Ketiga, tentang anak-anak muda dan anak-anak. Pak Suprat pernah menyampaikan rasa senangnya karena pada saat shalat Jumat dan shalat lima waktu anak-anak muda dan anak-anak masih ke masjid untuk shalat. Walau begitu, beliau tetap mengingatkan, khususnya anak-anak agar tidak banyak bermain saat di masjid. Beliau mengingatkan agar saat di masjid duduk yang tenang, tidak lari-larian dan tidak bersuara keras.
Keempat, tentang pemanfaatan media. Pak Suprat beberapa kali bercerita bahwa dirinya lebih suka mendengar radio daripada media TV atau HP. Menurut beliau, radio tidak merusak mata, karena hanya mengandalkan pendengaran. Radio juga sudah menjadi media yang sudah beliau kenal sejak sejak kecil dan masa anak-anak hingga saat ini. Beliau mengaku sering mendengar ceramah, berita dan sebagainya.
Kelima, tentang pendidikan keluarga. Pak Suprat juga beberapa kali bercerita dan menasehati tentang kehidupan rumah tangga, mendidik anak dan bersosial. Suatu ketika beliau pernah menyampaikan bahwa cara mendidik anak yang paling baik itu dengan contoh langsung. Kalau ke masjid, kata beliau, ayah sang anak harus bimbing dan dampingi anaknya. Insyaa Allah anaknya bakal anteng, nurut dan bertambah baik.
Dan, masih banyak hal yang beliau sampaikan, termasuk beberapa candaan. Beliau sering bilang begini, “Saya termasuk yang berusia tua di kompleks ini. Tapi masih kuat berjalan kaki”. Sesekali saya bercanda balik, “Betul Pak. Pak Suprat berusia tua tapi masih rajin shalat lima waktu di masjid. Lah, yang berusia muda seperti saya belum tentu rajin ke masjid”. Beliau hanya menimpali dengan tersenyum ringan sembari bercanda hal lain.
Saya tidak terlalu dekat dengan Pak Suprat. Karena pertemuan saya dengan beliau hanya ketika sebelum dan setelah shalat lima waktu atau shalat Jumat. Termasuk beberapa kali saat berbuka beberapa hari yang lalu. Namun demikian, pertemuan yang sangat singkat, terutama setelah Jumatan hanya sekira belasan atau puluhan menit, saya selalu mendapatkan nasehat dan pesan berharga dari beliau.
Salam, sapa dan senyuman khas dari sosok yang lahir pada Senin 25 November 1957 ini kini jadi kenangan indah. Nasehat dan pesan menuju kebaikannya menjadi kesan terbaik dan sulit saya lupakan. Sebagai sesama muslim sekaligus jamaah Masjid Maslicha, kita layak memohon ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi Allah (surga) untuk beliau. “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu”. Insyaa Allah Allah mengampuni, menyayangi dan memaafkan beliau.
Meninggalnya Pak Suprat menjadi alarm pengingat bagi kita semua bahwa setiap kita pasti menemui kematian. Ajal kematian bisa tiba kapan saja dan tak mengenal siaran tunda juga tak bisa dipercepat atau ditunda sesuai selera kita. “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imran: 185, QS. al-Ankabut: 57, al-Anbiya: 35). “Tidak ada satu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak (pula) dapat menundanya.” (QS. al-Hijr: 5). Karena itu, kita mesti terus berbenah dan selalu persiapkan bekal terbaik. (*)





