Oleh: Syamsudin Kadir
Departemen Pendidikan Karakter pada Bidang Penguatan Karakter Bangsa Majelis Pengurus Pusat ICMI Periode 2025-2026
SALAH satu tradisi unik yang melekat pada aktivitas rutin tahunan umat Islam di Indonesia adalah mudik. Dalam tradisi Jawa, hal ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Bukan saja dalam tradisi umat Islam, tapi juga umat lain era sebelumnya. Mudik sendiri berasal dari kata bahasa Jawa ngoko yaitu “mulih dilik” yang berarti “pulang sebentar”. Walau pun terhitung sebentar, namun tradisi atau aktivis mudik menjadi satu pemandangan yang berkesan dan berdampak dalam berbagai aspeknya.
Ketika Rasulullah Rindu Mekah
Kita tentu pernah membaca kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau Aisyah ra. Kala itu keduanya sudah hijrah dan berdomisili di Madinah, kota baru sebagai simbol awal kemajuan peradaban Islam. Dimana risalah Islam yang beliau bawa dan sampaikan telah diterima oleh sebagian masyarakat kala itu. Berdomisili di kota baru tentu tidak menghilangkan rasa rindu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga pada Mekah, sebagai kampung halaman atau tempat kelahiran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di Mekah pada Senin 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah/20 April 571 M. Masa-masa kecil dan remaja beliau berada di Mekah, tentu bersama keluarga juga sebagian besar sahabatnya. Sebagaimana pengalaman masa kecil kita, hidup di kampung dimana kita dilahirkan adalah masa-masa paling indah dan kaya kenangan. Bukan saja hidup berjuta kenangan bersama orangtua, keluarga dan tetangga, tapi juga hal-hal berkesan dan unik bersama teman sebaya.
Dikisahkan, Ashil Al-Ghifari ra, seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru saja kembali dari Mekah dan langsung silaturahim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Wahai Ashil, bagaimana keadaan Mekah sekarang?”, tanya sang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Aisyah ra. “Aku melihat Mekah subur wilayahnya, dan menjadi bening aliran sungainya,” jawab Ashil singkat. “Wahai Ashil, ceritakanlah padaku bagaimana keadaan Mekah sekarang?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tak menunggu lama, Ashil bercerita. “Aku melihat Mekah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (nama jenis pohon atau rerumputan), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (sejenis tanaman yang biasa digunakan untuk menyamak kulit).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat haru bercampur sedih mendengarnya. “Cukup, wahai Ashil, jangan membuat kami bersedih!”, ucap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lebih lengkapnya bisa dibaca dalam kitab “Akhbaru Makkah wa Ma Ja’a Fiha Minal Atsar”, Laporan Mekkah dan Monumen-Monumen yang Menyusulnya, karya Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Azraqi (al-Azraqi). Sosok yang mashur dikenal sebagai al-Azraqi ini adalah sejarawan muslim ternama pada abad 3 Hijriyah atau abad 9 Masehi. Beliau wafat pada abad ke-3 Hijriah, sekitar 223 Hijriyah atau tahun 837 Masehi. Beliau memiliki minat yang sama dengan sejarawan muslim lainnya pada sejarah peradaban Islam seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, at-Thabari dan sebagainya.
Hakikat dan Substansi Mudik
Bila ditelisik, hakikat dan substansi mudik itu ada dua. (1) menjaga dan mengokohkan silaturahim. Sebagai makhluk sosial, kita tentu memiliki orangtua, keluarga dan tetangga yang sejak lama telah hidup berdampingan. Kita kayak menjaga dan mengokohkan silaturahim dengan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian yang (2) meminta maaf dan saling memaafkan. Sebagai makhluk yang tak luput dari salah atau suka berbuat salah (al-khotho) sekaligus lupa atau pelupa (nisyan atau mansia atau manusia), kita layak meminta maaf dan memaafkan siapapun. Ucapan, tindakan dan sikap kita bisa jadi ada yang keliru atau salah, baik sengaja maupun tidak sengaja. Bahkan menurut Imam Nawawi, meminta maaf menjadi wajib ketika seseorang melakukan ghibah, menyakiti atau mengambil hak orang lain.
Pada halaman 727-728 Kamus Al Mu’jam Al Wasith dijelaskan, ‘ied adalah suatu perkara penting atau sakit yang berulang, bisa juga sesuatu yang berulang tersebut adalah sesuatu yang dirindukan dan semacamnya. ‘Ied juga berarti setiap hari yang terdapat perayaan di dalamnya. Sedangkan fithri berasal dari kata ‘afthoro’ artinya memutuskan shaum karena sudah masuk Syawal atau sudah di luar Ramadan. Sementara kata fithrah artinya sifat asli atau watak asli, atau tabi’at selamat yang belum tercampur ‘aib atau dosa.
Kunci kebersihan hati dan keharmonisan sosial adalah meminta maaf (al-i‘tidzar) dan memaafkan (al-‘afwu). Meminta maaf berarti mengakui kesalahan, menunjukkan penyesalan, berhenti dari perbuatan salah, dan bertekad tidak mengulanginya lagi di masa mendatang. Allah berfirman, “…. memaafkan (kesalahan) orang… (QS. Ali ‘Imran: 134). “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada….” (QS. an-Nuur: 22), dan “…. maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah….” (QS. asy-Syura: 40)
Dampak Mudik
Bila kita telisik fenomena dan tradisi mudik di Indonesia dari tahun ke tahun, pergerakan orang dari daerah satu ke daerah lain, terutama ke kampung halaman, semakin meningkat. Dari berbagai pemberitaan media massa dan media online, tak kurang dari 150-170 juta atau 55-65% penduduk Indonesia yang melakukan aktivitas mudik di setiap tahunnya. Tentu tak sedikit juga yang memanfaatkan teknologi digital sebagai medium berkabar, saling menyapa dan saling memaafkan antar sesama.
Mudik sendiri pada dasarnya memiliki banyak dampak, tiga diantaranya, yakni, pertama, dampak sosial. Adanya mudik membuat dinamika kehidupan masyarakat di daerah tujuan semakin dinamis dan penuh dengan keakraban. Kedua, dampak ekonomi. Pergerakan uang saat mudik dari kota ke daerah dalam setahun diperkirakan Rp 137-160 triliun. Ketiga, dampak spiritual. Adanya mudik dapat mengokohkan silaturahim dan saling memaafkan. Ini tentu berdampak pada kualitas spiritual kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang rindu mudik atau rindu Mekah itu pernah bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya engkau (wahai kota Mekah), adalah negeri ciptaan Allah yang terbaik, sekaligus tanah ciptaan Allah yang paling aku cintai. Demi Allah, kalau bukan karena aku di usir darimu, aku tak akan meninggalkanmu.” (HR. Ibnu Majah). Mudik yang baik adalah mudik yang ditunaikan atas dasar niat ikhlas karena Allah untuk tujuan yang mulia yaitu mengokohkan silaturahim dan saling memaafkan antar sesama, di samping untuk mengobati rasa rindu yang sangat akan kampung halaman. (*)






