Opini

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

15
×

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur

Share this article
IMG 20260314 WA0004

Oleh: Syamsudin Kadir

Departemen Pendididkan Karakter Majelis Pengurus Pusat ICMI Periode 2025-2026

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim)

Bersyukur yaitu berterima kasih atau pujian bagi yang memberikan kebaikan atas kebaikannya tersebut. Menurut Ibnul Qayyim, syukur yakni menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).

Bila kufur adalah bentuk kekufuran, maka bersyukur adalah sifat orang beriman. Ketika Nabi Sulaiman mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau berkata dengan penuh berserah diri dan bersyukur kepada Allah, “Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur” (QS. an-Naml: 40)

Tiga Ciri Hamba Bersyukur

Bila menelisik al-Qur’an dan as-Sunnah, hamba yang bersyukur memiliki banyak ciri, tiga diantaranya, yakni, pertama, mengakui dan menyadari bahwa pemberi nikmat adalah Allah. Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata sehingga berbagai nikmat bisa diperoleh.

Sedangkan orang yang kufur nikmat justru melupakan Allah sebagai pemberi nikmat. Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika itu hujan turun di masa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim).

Baca Juga :  Pak Yusuf Gafur; Optimisme untuk Pemuda dan Olahraga Mabar

Kedua, orang bersyukur giat menyebut nikmat yang diberikan Allah. Orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Allah berfirman, “Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya.” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Ketiga, menunjukkan rasa syukur dalam bentuk ketaatan kepada Allah. Dari Aisyah ra dan Mugirah Ibn Syu’bah ra bahwa dahulunya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aku pun bertanya kepadanya, “Mengapa engkau lakukan sampai seperti ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa- dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah bolehkah aku senang bila menjadi hamba yang bersyukur!”. (HR. Muttafaq ‘alai)

Shaum dan berbagai ibadah yang kita jalani selama Ramadan adalah pembentuk karakter diri kita menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur. Bersyukur bakal berdampak pada penambahan nikmat dari Allah. Allah berjanji seperti dalam firman-Nya, “…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Bahkan Allah juga akan memberi ganjaran, baik ganjaran di dunia maupun akhirat. Allah berfirman, “Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Ali ‘Imran: 145). Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan mengungkap riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath-Thabari, 7/263).

Ramadan adalah momentum terbaik meningkatkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Baik atas nikmat keimanan dan keislaman maupun nikmat penciptaan kita dan berbagai nikmat materi seperti sehat, harta, hujan dan alam semesta serta karier yang Allah berikan kepada kita sebagai hamba-Nya. Insyaa Allah dengan begitu kita menjadi hamba yang semakin giat bersyukur. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *