Cirebon

Shaum Sunah Syawal dan Kasih Sayang Allah

9
×

Shaum Sunah Syawal dan Kasih Sayang Allah

Share this article
IMG 20260314 WA00041
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Departemen Pendidikan Karakter Mejalis Pengurus Pusat ICMI 2025-2026

KITA sudah bersama dengan Ramadan terhitung satu bulan lamanya. Pada Ramadan kita menjalankan berbagai macam ibadah seperti shaum, tarawih, tilawah al-Qur’an, sedekah, silaturahim dan berbagai amal baik lainnya.

Tentu kita juga menunaikan shalat lima waktu sebagai kewajiban juga shalat sunat rawatib yang sudah menjadi hal rutin yang kita lakukan. Kita memohon kepada Allah kiranya menerima semuanya dan mengganjar dengan ganjaran pahala dan rahmat-Nya.

Dalam rangka menyempurnakan ibadah Ramadan, Islam menyediakan ibadah berupa shaum sunah 6 hari di bulan Syawal. Shaum ini punya pesan penting, ia menjadi bukti kesungguhan kita dalam menjaga dan melanjutkan berbagai ibadah di bulan Ramadan. Juga sebagai bukti bahwa kita benar-benar ingin menjadi hamba Allah yang taat.

Bila shaum Ramadan mendapatkan pahala yang tak bisa dihitung bilang, maka shaum sunah 6 hari di bulan Syawal diganjar bagai shaum sepanjang tahun.

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan, lalu diiringi dengan shaum enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti shaum sepanjang tahun”. (HR. Imam Muslim, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasaa-i dan Ibnu Majah).

Setelah Ramadan berlalu tentu kita bukan saja dianjurkan untuk menjalankan shaum sunah Syawal, tapi juga menjaga ibadah yang sudah kita tunaikan di Ramadan. Shalat lima waktu yang sudah biasa dilakukan di masjid, maka pada bulan berikutnya mesti dijaga dengan baik. Shalat rawatib dan sedekah yang biasa kita lakukan di Ramadan mesti kita rutinkan di bulan berikutnya. Tilawah Qur’an yang biasa kita lakukan di Ramadan, mesti kita biasakan di bulan selanjutnya.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah shalat malam. Bila saat Ramadan kita aktif menunaikan shalat tarawih, maka di bulan berikutnya kita biasakan diri untuk menunaikan shalat atau qiyamullail berupa tahajut dan witir. Di samping shalat sunah dhuha dan shalat sunah lainnya.

Baca Juga :  Evaluasi Kinerja Sektor Jasa Keuangan di Ciayumajakuning Tahun 2025 Stabil dan Terjaga

Selain itu, bila pada Ramadan kita menjalankan ibadah shaum wajib, maka di bulan selainnya kita bisa menunaikan shaum sunah seperti shaum tanggal 13, 14 dan 15 bulan Hijriyah (Ayyamul Bidh), shaum Senin dan Kamis, dan ibadah sunah lainnya.

Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Ada banyak kebaikan yang bisa kita tunaikan pada bulan yang terdapat bulan seribu bulan atau “Lailatul Qadar” ini. Namun apa daya, kini bulan mulia itu segera berpisah dengan kita. Lantunan doa, istighfar dan air mata taubat penuh harap telah kita jalankan. Kita tentu sedih rasanya ketika bulan yang kita cintai ini segera berlalu. Kita akui banyak kekurangan dan keterbatasan yang kita miliki saat menjalankan ibadah pada Ramadan.

Namun demikian, kita hanya berikhtiar semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Untuk hasilnya, kita serahkan kepada Allah dengan penuh tawakal. Ia adalah Zat yang Maha Mendengar, Maha Pengampun dan Maha di atas segalanya.

Kita mesti yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan seluruh niat baik dan kesungguhan kita dalam menjalankan berbagai ibadah dan kebaikan selama ini, termasuk saat bulan Ramadan. Ia Maha Tahu tentang isi hati dan hajat kita.

Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Salah satu dosa besar adalah syirik kepada Allah. Bila kita tidak hati-hati, maka kita bisa terjebak dalam lingkaran kemusyrikan. Allah mengingatkan kita akan bahaya dan dampak syirik kepada-Nya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisaa’: 48.

Baca Juga :  KAI Daop 3 Cirebon Amankan Aset Negara Melalui Penertiban Lahan di Jatiwangi

Sungguh, kita adalah pendosa, kita penuh dengan dosa-dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Tapi Allah mengingatkan kepada kita bahwa Ia sangat sayang pada pada kita, walaupun kita melampaui batas. Allah sangat rindu kepada para kita dan mengingatkan agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah berfirman, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.” (QS. az-Zumar: 53)

Ungkapan “Melampaui batas terhadap diri mereka sendiri” pada ayat tersebut merujuk pada manusia yang terlalu banyak berbuat dosa, maksiat, bahkan kesyirikan yang merugikan diri mereka sendiri di akhirat.

Menurut para ulama tafsir, ayat ini ditujukan bagi mereka yang pernah melakukan perbuatan syirik, namun Allah tetap membuka pintu taubat selebar-lebarnya sebelum nyawa sampai di kerongkongan.

Bayangkan, Allah memanggil kita dengan sebutan “Wahai hamba-hamba-Ku”. Hal ini sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang Allah untuk mendorong pelaku dosa agar kembali, bertaubat, dan tidak merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.

Kalimat “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” adalah jaminan bahwa tidak ada dosa, sebesar apa pun, yang tidak dapat diampuni jika disertai taubat yang benar.

Lalu, apakah kita menyadari betapa baiknya Allah kepada kita? Apakah kita menyadari betapa lembutnya Allah kepada kita? Kita memiliki dosa yang sangat banyak, Ia tetap menutupinya. Allah tidak membukanya kepada siapapun. Ia Maha Tahu kita tidak bakal mampu menahan malu, bila dosa dan keburukan kita ditampakkan.

Padahal kalau saja Allah membuka dosa dan aib kita, maka semua orang bakal jijik pada kita. Bahkan diri kita sendiri bakal jijik pada dosa dan aib kita sendiri. Lalu, Allah tetap menjaga kita, menyayangi kita dan mengampuni kita. Allah, betapa mulia dan baiknya Allah kepada kita.

Baca Juga :  Pameran Fotografi Daop 3 Cirebon di Gelar di Stasiun Cirebon dan Cirebon Prujakan

Dosa kita terkumpul dari berbagai macam hal seperti memfitnah, menggunjing, iri, menghasut, menebar permusuhan dan menebar aib orang lain juga menyakiti orang lain. Aib terbesar kita diantaranya lisan dan tingkah munafik. Kita berlagak baik di depan orang, tapi sejatinya berbeda di belakangnya. Kita berani mendua demi pengakuan dan pujian manusia.

Tapi dalam penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Allah adalah Tuhan Yang Maha Lembut, Maha Pengasih dan Maha Penyayang juga Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat. Bahkan Allah berjanji bakal mengampuni semua dosa kita asal kita bertaubat, memohon ampun dan tidak putus asa pada rahmat-Nya. Maka berdoalah kepada-Nya, “Yaa Allah, ampuni seluruh dosa kami, sesungguhnya Engkau mengampuni dosa-dosa semuanya!”

Apakah Ramadan Terakhir?

Pertanyaannya, apakah Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir kita? Pertanyaan ini sederhana, tapi kadang membuat hati kita terenyuh. Bahkan air mata kita bisa keluar begitu saja. Kita sangat khawatir, bila saja ajal kematian kita tiba sebelum tibanya Ramadan mendatang, maka ini tentu menjadi Ramadan terakhir kita.

Kita memohon agar Allah selalu membimbing dan menguatkan kita, sehingga di bulan berikutnya kita lebih giat dalam beribadah dan beramal saleh, serta mampu meninggalkan berbagai dosa, apapun bentuknya. Akhirnya, ya Allah, mohon pertemukan kami kembali dengan Ramadan yang akan datang! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *