MATARAM, GM – Kabar harum berhembus dari Kota Mataram. Dua singa muda dari rahim Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok Barat, NTB berhasil menggetarkan panggung Musabaqoh Hifzhul Hadits Se-Indonesia Timur Tahun 2026 dan memborong dua gelar tertinggi sekaligus.
Bukan juara biasa. Yang mereka taklukkan adalah Kitab Umdatul Ahkam, kitab sakral karya Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi yang berisi ratusan hadits hukum, yang setiap hurufnya harus dijaga dengan hafalan baja dan sanad yang lurus.
Di gelanggang yang digelar Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi dan Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram pada 16-18 Oktober 2026 itu, ratusan peserta terbaik dari penjuru Indonesia Timur hingga Jawa Timur bertarung. Namun dua nama dari Lombok berdiri paling tinggi.
Di podium tertinggi, sebagai juara 1, berdiri Muhammad Rifqi Rahmatullah, alumni PPKh – KMMI Nurul Hakim angkatan 2018. Seorang penjaga hadits yang telah menempa dirinya bertahun-tahun.
Di tepat di bawahnya, sebagai juara 2, berdiri Ibnu Rosyidin Alannawa, alumni KMMI angkatan 2022. Usianya muda, tapi hafalannya menggunung. Dua angkatan berbeda, satu almamater yang sama: Nurul Hakim.
Ini bukan sekadar piala. Ini adalah jawaban atas pertanyaan: masihkah santri hari ini mampu menjaga warisan Rasulullah Jawabannya ada di Mataram. Ya, masih ada. Dan mereka lahir dari rahim salah satu pesantren ternama di NTB, tepatnya di Kediri, Lombok Barat, Nurul Hakim.
“Barakallahu fiikum Ustadz muda. Kalian telah membuktikan bahwa sarung dan kitab kuning bukan penghalang untuk menjadi juara. Semoga ini menjadi cambuk bagi adik-adik kalian,” ungkap seorang alumni senior yang enggan disebut namanya.
Untuk santri Nurul Hakim di semua lembaga – Tsanawiyah, Aliyah, KMMI, Tahfizh, dari yang masih mengeja ‘an Abi Hurairah hingga yang sudah menghafal 100 hadits ia pun berpesan agar terus giat dalam belajar.
“Lihatlah kakak kelas kalian. Mereka pernah duduk di bangku yang sama dengan kalian. Tidur di asrama yang sama. Mengantri wudhu di tempat yang sama. Jika mereka bisa, kenapa kamu tidak? Jadikan piala ini bukan akhir, tapi awal. Hafalanmu adalah senjatamu. Hadits Nabi adalah mahkotamu. Nurul Hakim bisa, juara dan jaya,” pungkasnya. (SK)






