Oleh: Syamsudin Kadir
Bidang Humas, Informasi dan Media Dokumentasi Soulmate KDM-SKD
KEPEMIMPINAN gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) tidak lahir dari baliho melainkan dari lumpur sawah. Ia tidak butuh buzzer yang dibayar, karena ia dibayar oleh ketulusan rakyatnya sendiri. Tuduhan soal anggaran buzzer adalah cermin kebingungan zaman yang tak percaya pada cinta yang gratis. KDM membuktikan, bahwa dukungan paling mahal justru datang tanpa harus dibeli. Ia hadir bukan untuk dicitrakan, tapi untuk dirasakan denyut nadinya. Dan itulah mata uang nurani yang tak bisa dipalsukan oleh siapapun.
Mengapa Warga Simpatik Pada KDM?
Pertama, KDM menghadirkan kepemimpinan yang go public. Ia membuka pintu pendopo selebar pintu rumah warga. Masalah tidak disembunyikan di balik meja protokoler, tapi dihamparkan di depan kamera. Transparansi adalah keberaniannya, kejujuran adalah strateginya. Rakyat melihat sendiri apa yang dikerjakan, bukan apa yang dikabarkan. Maka kepercayaan tumbuh bukan karena janji, tapi karena saksi mata.
Kedua, KDM adalah tipe pemimpin yang bergerak cepat. Ia tidak menunggu laporan berlapis-lapis naik ke meja. Ketika Bogor dan Bekasi tercemar sampah, ketika Cirebon dan Cianjur dilanda banjir, ia sudah di sana. Ketika anak sekolah terseret kriminal, ia tidak cukup membaca berita, ia menjemputnya. Kecepatan adalah bentuk empatinya, ketergesaan adalah bahasa cintanya. Ia paham, air mata rakyat tidak bisa menunggu rapat paripurna.
Ketiga, KDM menjalankan kepemimpinan yang tidak terjebak protokoler yang ribet. Ia melompati pagar birokrasi yang sering kali lebih tinggi dari penderitaan rakyat. Ia menyapa tanpa perlu diatur ajudan, memeluk tanpa perlu diatur naskah. Inilah yang dalam teori kepemimpinan modern disebut kepemimpinan autentik. Pemimpin yang bisa disapa, disentuh, dan ditegur secara langsung. Ia bukan menara gading, ia adalah jembatan kayu yang kokoh.
Didukung Tanpa Biaya
Lalu mengapa KDM didukung tanpa dibiayai? Karena rakyat menemukan sosok kakak yang mengayomi dalam dirinya. Mereka menemukan ayah yang menginspirasi dan sahabat yang setia mendengarkan. Dukungannya lintas komunitas, lintas usia, lintas organisasi. Dari petani di pematang hingga mahasiswa di kampus, dari emak-emak di dapur hingga anak muda di media sosial. Mereka membela bukan karena instruksi, tapi karena ikatan batin.
Tuduhan adanya buzzer berbayar justru menghina kecerdasan kolektif pendukungnya. Mereka mengira setiap pembelaan harus ada transferan, setiap pujian harus ada invoice. Mereka lupa, bahwa masih ada ketulusan yang tidak bisa diuangkan. Para pendukung KDM merekam, menyebar, dan membela dengan kuota mereka sendiri. Dengan waktu mereka sendiri, dengan hati mereka sendiri. Itulah buzzer nurani, pasukan yang tak bisa dibubarkan oleh fitnah.
KDM tidak membangun istana pencitraan, ia membangun jalan-jalan yang berlubang. Ia tidak sibuk membangun pagar kekuasaan, ia sibuk membuka akses keadilan. Infrastruktur yang ia bangun mungkin belum sempurna, masih ada yang perlu perbaikan. Tapi rakyat merasakan denyutnya dari waktu ke waktu, merasakan progresnya yang jujur. Jalan yang dulu memisahkan desa kini merangkulnya, lumpur yang dulu melukai kini memuluskan rezeki. Itulah bukti kerja, bukan sekadar janji.
Kepemimpinan Autentik
Kepemimpinan autentik ala KDM didirikan di atas tiga pilar: keberanian, kecepatan, dan ketulusan. Keberanian untuk tampil apa adanya, tanpa topeng kekuasaan. Kecepatan untuk merespon tangis sebelum menjadi amarah. Dan ketulusan untuk mencintai rakyat tanpa syarat jabatan. Tiga pilar ini tidak diajarkan di sekolah kepemimpinan manapun. Ia lahir dari sawah, dari empati, dari konsistensi laku.
Pakar manajemen dan kepemimpinan modern dari Universitas Indonesia (UI) Prof. Rhenald Kasali, menjelaskan, keaslian adalah fondasi kepercayaan. Pemimpin autentik tidak memainkan peran, ia menjadi dirinya sendiri. Ia konsisten antara kata dan laku, antara niat dan tindakan. Prof. Kasali menyebut pemimpin seperti ini sebagai pemimpin yang mengubah followers menjadi believers. Bukan pengikut yang disuruh, tapi orang percaya yang bergerak karena nurani. KDM adalah contoh paling hidup dari teori itu.
Maka wajar jika ada yang gagal paham, lalu bertanya: berapa anggaran buzzer-nya Pertanyaan itu lahir dari logika lama yang mengira semua dukungan bisa dibeli. Mereka mengukur KDM dengan meteran mereka yang transaksional. Padahal KDM bekerja dengan meteran pengabdian yang tak ada angkanya. Ia tidak membayar pendukung, ia membayar lunas janji-janjinya dengan kerja. Dan rakyat membalasnya dengan pembelaan yang tak ternilai harganya.
KDM adalah contoh pemimpin kolaboratif. Ia tidak memerintah dari atas, ia mengajak dari tengah. Ia membuat kepala daerah, kepala desa dan tokoh masyarakat juga tokoh pemuda merasa memiliki Jawa Barat. Teori modern menyebutkan, kepemimpinan sukses karena kemampuan merajut “saling percaya”. KDM merajut itu setiap hari, di setiap live, di setiap kunjungan. Ia adalah simpul yang mengikat semua benang perbedaan.
Lihatlah basis pendukungnya, mereka bukan barisan yang seragam. Ada yang bersarung, ada yang bertato, ada yang berjilbab, ada yang berkacamata. Tapi mereka bertemu dalam satu titik temu: kepercayaan pada pemimpin yang autentik. Mereka tidak butuh disuruh komando, cukup melihat pemimpinnya bergerak, mereka pun ikut. Itulah kepemimpinan yang melampaui struktur, ia telah menjadi gerakan kultural. Gerakan yang hidup di sawah, di jalan, dan di linimasa.
KDM mengajarkan bahwa pemimpin tidak harus selalu gagah di podium. Kadang ia harus duduk di pematang, kadang ia harus masuk ke selokan. Kadang ia harus memarahi dengan cinta, kadang memeluk dengan tegas. Itulah go public yang sesungguhnya, bukan sekadar tampil di publik, tapi hidup bersama publik. Ia bukan pejabat yang dikawal, ia adalah warga yang diberi amanah. Dan amanah itu ia pikul seperti memikul beras, hati-hati tapi penuh bangga.
Oleh karena itu, menyerang KDM dengan isu buzzer adalah serangan yang salah alamat. Ia justru semakin menegaskan keaslian pendukungnya yang militan tanpa bayaran. Semakin difitnah, semakin mereka merekam, semakin mereka membela. Karena cinta yang autentik tidak akan luntur oleh hujan fitnah. Ia justru akan semakin tumbuh, semakin berakar, semakin tak tergoyahkan. Seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk.
KDM bukan gubernur yang sempurna, ia adalah gubernur yang bekerja. Lubang jalan masih ada, pekerjaan rumah masih menggunung. Tapi arahnya jelas, keberpihakannya nyata, dan cintanya terasa. Ia sedang cicil pelan-pelan. Ia bukan pemimpin yang ingin dikenang lewat gambar, tapi lewat jejak di hati rakyat. Dan jejak itu hari ini sudah terukir, di aspal yang mulus, di sawah yang subur. Serta di media sosial yang penuh oleh pembelaan yang tulus tanpa diminta.
Kepemimpinan autentik ala KDM adalah jawaban atas krisis kepercayaan zaman. Ketika banyak pemimpin bersembunyi di balik protokoler, KDM justru keluar menemuinya. Ketika banyak yang sibuk membangun citra, KDM sibuk membangun cinta. Maka jangan tanya berapa budget buzzer-nya, tanyalah seberapa besar cinta rakyatnya. Karena KDM dibela bukan dengan uang, tapi dengan mata uang nurani, nilai, dan autentisitas yang riil. Dan mata uang seperti itu, nilainya tidak pernah inflasi, selamanya berharga. (*)






