Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”
LUKA adalah sunnatullah yang datang tanpa pernah meminta izin. Ia hadir seperti hujan yang jatuh di musim kemarau. Tak ada jiwa yang berjalan tanpa pernah disapa luka. Namun luka bukan akhir dari kisah hidup kita. Allah menitipkan perih sebagai bahasa rindu untuk pulang. Tugas kita bukan menolaknya, melainkan menjahitnya dengan iman.
Setiap luka membawa watak yang sama dalam menguji hati. Ia mengukur keluasan hati dalam berbaik sangka kepada takdir. Ia mengukur keteguhan kaki untuk tetap berdiri tanpa putus asa. Ketika dunia terasa sempit oleh perih yang datang bertubi. Allah justru menunjukkan bahwa hanya Dia yang Maha Luas. Luka adalah jalan sunyi untuk menemukan keluasan itu.
Pintu Luka dan Makna Sembuh
Jika dirunut, luka datang dari tiga pintu yang serupa. Pintu pertama adalah kehilangan cahaya yang sangat kita cinta. Pintu kedua adalah pengkhianatan dari kepercayaan yang kita jaga. Pintu ketiga adalah penantian panjang dari doa yang belum nyata. Tiga pintu ini sering datang bersamaan tanpa mengetuk pintu. Namun ketiganya membawa pesan yang sama dari langit. Allah sedang mendewasakan jiwa dengan cara yang indah.
Banyak jiwa yang keliru memaknai arti sembuh yang sejati. Mereka mengira sembuh adalah menghapus semua memori pahit. Mereka mengira sembuh adalah melupakan peristiwa yang merobek hati. Padahal lupa bukanlah obat, lupa hanyalah pelarian yang rapuh. Pelarian hanya memindahkan luka ke sudut yang lebih gelap. Luka yang dipendam akan terus hidup dalam diam yang perih.
Islam memberi definisi sembuh yang lebih indah dan dalam. Sembuh bukan berarti lupa, sembuh berarti damai dengan ingatan. Sembuh adalah mengenang kejadian tanpa merasakan perih yang sama. Hati tetap jernih mengingat, namun tidak lagi berdarah karenanya. Itulah tanda hati telah berdamai dengan takdir Allah. Damai adalah puncak hakiki dari sembuh yang dirindukan.
Untuk mencapai damai, Allah menurunkan obat yang sangat teduh. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu”. (QS. al-Baqarah: 216). Ia seperti embun pagi yang jatuh di atas luka yang membara. Ia mengajarkan takdir pahit di awal bisa indah di akhir. Ia adalah pelukan pertama Allah untuk hati yang gemetar.
Jika obat itu tidak segera diminum, luka akan berubah wujud. Luka yang dibiarkan akan mengeras menjadi dendam yang mengendap. Dendam adalah kabut tebal yang menghalangi cahaya takdir masuk. Dendam adalah belenggu besi yang menghalangi langkah berbagi cahaya. Hati yang penuh dendam takkan menemukan rumah ketenangannya. Ia hanya lelah mengembara di labirin perih sepanjang hidup.
Karena itu menyembuhkan luka bukan keegoisan yang tercela. Menyembuhkan luka adalah syarat utama untuk menjadi lentera sesama. Bagaimana tangan yang berdarah mampu membalut luka orang lain? Bagaimana hati yang perih mampu mengusap air mata yang jatuh? Ia masih sibuk meratapi perihnya dalam kesunyian yang panjang. Maka sembuhkan diri kita dulu, agar cahaya kita kembali menyala terang.
Sistem Penyembuhan
Setelah memahami urgensinya, masuklah pada sistem penyembuhan pertama. Sistem pertama adalah memindahkan arah keluh kepada Allah semata. Manusia terlalu rapuh untuk menampung keluh yang dalam dan berat. Mengadu kepada manusia hanya menambah luka baru yang lebih perih. Mengadu kepada Allah mengubah luka menjadi doa yang melangit indah. Di sanalah sembuh bermula, dengan wudhu dan sujud panjang di malam sepi.
Di dalam sistem pertama, Rasul mengajarkan kunci bernama sabar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan mukmin. Semua urusannya baik dan itu hanya dimiliki mukmin. Jika mendapat senang ia bersyukur, itu baik baginya. Jika mendapat susah ia bersabar, itu pun baik baginya”. (HR. Muslim). Hadits ini adalah peta jalan bagi hati yang terluka dan mencari pulang.
Sabar bukanlah diam pasrah tanpa arah dan tanpa usaha sama sekali. Sabar adalah benang sutra yang menjahit luka dengan jarum tawakal. Dengan sabar, robekan yang menganga perlahan merapat kembali rapi. Hati yang sesak dan sempit kembali lapang seperti samudera luas. Hati yang lapang lebih mudah menerima takdir dengan ridha yang tulus. Sabar adalah seni berjalan sambil yakin Allah ada di tiap langkah.
Jika benang sabar telah merapat, masuklah pada sistem kedua yang indah. Sistem kedua adalah memaafkan dengan lapang dada dan jiwa merdeka. Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman yang mereka torehkan. Memaafkan adalah membebaskan diri dari penjara masa lalu yang pengap. Penjara itu mengurung kita dalam bayang yang tak pernah usai. Penjara itu membuat kita terus menoleh ke belakang dengan perih.
Allah menguatkan sistem kedua dengan panggilan yang penuh rindu. Allah berfirman, “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. an-Nur: 22). Kita memaafkan bukan karena mereka layak dimaafkan sepenuhnya. Kita memaafkan karena kita pun ingin dimaafkan oleh Allah Yang Maha Memaafkan.
Jika sabar dan maaf telah berlabuh di dada yang lapang dan tenang. Tibalah sistem ketiga yang agung, yaitu mengubah luka menjadi karya. Takdir pahit yang kita tangisi adalah tinta dakwah yang paling jujur. Orang yang pernah jatuh akan lebih lembut menguatkan yang jatuh. Orang yang pernah dihina akan lebih tulus merangkul yang terbuang. Lihatlah Bilal yang ditindih batu di pasir membara, ia bangkit. Dari luka yang dalam, lahir suara abadi sampai kiamat nanti.
Pada akhirnya, semua ini tentang pulang dengan hati yang lembut. Luka adalah cara Allah memeluk kita agar kita tidak jauh dari-Nya. Sembuh bukan tentang melupakan, tapi tentang memeluk takdir dengan ridha. Pelan-pelan, biarkan sabar menjahit, maaf membebaskan, dan doa menyembuhkan. Sebab hati yang telah damai akan kembali menjadi rumah bagi cahaya. Dan dari hati itulah, hidup kita akan kembali bermakna dengan indah. (*)






