LOMBOK BARAT, GM – Mengakhiri masa belajar satu tahun bukanlah akhir dari perjalanan seorang santri. Justru di situlah dimulai ujian sesungguhnya: sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu diamalkan dalam kehidupan nyata.
Pesan inilah yang menjadi benang merah tausiah yang disampaikan oleh TGH. Muzakkar Idris, Lc., M.Si. pada acara Pembekalan Ijazah Santri Kelas 1, 2, 4 dan 5 Kuliyatul Mu’alimin Wal Mu’alimat Al-islamiyah (KMMI) Nurul Hakim Lombok di Masjid Al-Walidaen, kompleks Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB, Kamis malam (18/6/2026).
TGH. Muzakkar Idris membuka tausiah dengan mengajak seluruh santri merenungkan beberapa doa agung dalam al-Qur’an yang menghubungkan seorang mukmin dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Direktur KMMI tersebut pun mengutip, al-Qur’an surat An-Naml ayat 19, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih.”
Dengan demikian, ungkap TGH. Muzakkar Idris, rasa syukur yang benar bukan hanya mengenang nikmat masa lalu, tetapi menjadikan nikmat tersebut sebagai energi untuk melanjutkan ketaatan pada masa yang akan datang.
Menurut Pimpinan Yayasan Nurul Hakim Lombok tersebut, tujuan hidup seorang mukmin bukan sekadar beramal, tetapi beramal sesuai dengan keridhaan Allah. Sebab tidak semua amal yang tampak baik di mata manusia otomatis diterima oleh Allah. Amal yang diterima adalah amal yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat.
TGH. Muzakkar Idris berharap agar masa ijazah (libur) yang akan dijalani para santri berada dalam rangkaian keberkahan doa-doa; masuk dengan baik, menjalani dengan baik, dan kembali ke pondok dengan lebih baik.
“Hakikat ijazah bukanlah berhenti belajar. Ijazah adalah masa berpindah dari ruang teori menuju ruang pengamalan. Jika selama di pondok seorang santri belajar ilmu, maka selama ijazah ia belajar mengamalkan ilmu. Jika selama di pondok ia menerima nasihat, maka selama ijazah ia belajar menjadi penyampai nasihat. Jika selama di pondok ia dibimbing, maka selama ijazah ia belajar membimbing dirinya sendiri,” tegas TGH. Muzakkar Idris di hadapan ratusan santri putra-putri KMMI.
Sebagai bekal menghadapi masa ijazah dan tahun 1448 H, TGH. Muzakkar Idris menjelaskan secara panjang-lebar kandungan dan pesan Surah Al-‘Ashr ayat 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
“Iman yang benar pasti melahirkan amal saleh. Sedangkan amar ma’ruf, dakwah, dan saling menasihati merupakan bentuk penyempurnaan amal saleh yang manfaatnya meluas kepada orang lain. Iman tidak cukup berada dalam hati dan lisan. Karena itu, seorang santri tidak cukup hanya menjadi orang baik untuk dirinya sendiri. Ia harus mengajak orang lain menikmati kebaikan yang sama,” tegas ulama NTB asal Kediri tersebut.
Di penghujung acara, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1983 tersebut berpesan agar seluruh santri meninggalkan pondok dalam keadaan bersih, tertib, dan rapi. Di samping itu, para santri juga perlu menyampaikan salam, rasa terima kasih, serta permohonan maaf kepada kedua orang tua yang telah berjuang dan berkorban demi pendidikan putra-putrinya.
Para santri juga diingatkan agar selama libur yang dimulai 21 Juni hingga 10 Juli 2026 dan selama berada di tengah masyarakat menjaga nama baik pondok, serta kembali ke pondok tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan. (MIA/UA)






