Pendidikan

SMK Karnas Kadipaten Tingkatkan Kompetensi Guru, Dr. Lanlan Muhria: Literasi, Numerasi, dan Karakter Harus Menjadi Satu Kesatuan dalam Pembelajaran

22
×

SMK Karnas Kadipaten Tingkatkan Kompetensi Guru, Dr. Lanlan Muhria: Literasi, Numerasi, dan Karakter Harus Menjadi Satu Kesatuan dalam Pembelajaran

Share this article
IMG 20261013 WA0009
Foto : Ist/GM

MAJALENGKA, GM – Penguatan kualitas pendidikan tidak cukup dilakukan dengan meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara terpisah. Literasi, numerasi, dan karakter perlu dikembangkan sebagai satu kesatuan dalam pembelajaran agar peserta didik mampu berpikir kritis, mengambil keputusan secara rasional, serta menunjukkan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab.

‎Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan peningkatan kompetensi guru bertema “Penguatan Literasi, Numerasi, dan Karakter untuk Mewujudkan Guru SMK yang Profesional” di SMK Karya Nasional Kadipaten, Senin (12/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat sekolah tersebut menghadirkan Dr. Lanlan Muhria, M.Pd., Associate Professor Universitas Sindang Kasih Majalengka, sebagai narasumber.

‎Dalam konteks pendidikan kejuruan, kata Lanlan, integrasi ketiga aspek tersebut penting karena peserta didik tidak hanya membutuhkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menganalisis data, memecahkan masalah, serta menerapkan nilai-nilai profesional dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi membantu peserta didik memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat. Numerasi mendukung kemampuan menafsirkan data, melakukan perhitungan, serta mengambil keputusan berdasarkan penalaran. Sementara itu, karakter menjadi landasan untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan secara bertanggung jawab.

Dr. Lanlan Muhria menekankan bahwa ketiga aspek tersebut perlu diterapkan secara terpadu, bukan dikembangkan sebagai kompetensi yang berdiri sendiri.

‎“Literasi, numerasi, dan karakter harus menjadi satu kesatuan dalam pembelajaran. Peserta didik tidak cukup hanya mampu memahami informasi atau melakukan perhitungan, tetapi juga perlu berpikir kritis, menggunakan data secara tepat, dan mempertimbangkan tanggung jawab dalam setiap keputusan. Pendidikan harus membantu mereka mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sekaligus karakter,” ungkap Lanlan.

‎Menurutnya, integrasi ketiga aspek tersebut menuntut guru untuk merancang pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menganalisis informasi, memecahkan persoalan, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.

Baca Juga :  UMP Kirim 52 Mahasiswa ke Perbatasan Indonesia–Malaysia dalam Program KKN MAs di Siak, Riau

Pendekatan ini juga dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari dan dunia kerja.
‎Dalam pendidikan vokasi, misalnya kata pria asal Tasikmalaya itu, peserta didik tidak hanya dituntut memahami petunjuk kerja dan menghitung kebutuhan bahan, tetapi juga harus mampu menafsirkan informasi teknis, mengevaluasi hasil pekerjaan, mematuhi prosedur keselamatan, dan bertanggung jawab terhadap kualitas hasilnya.

‎“Pembelajaran yang baik bukan sekadar membuat peserta didik mengetahui jawaban yang benar, tetapi juga membantu mereka memahami alasan di balik suatu keputusan. Guru perlu membiasakan peserta didik membaca informasi secara kritis, menganalisis data, memecahkan masalah, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya,” tambahnya.

‎Sementara itu Kepala SMK Karya Nasional Kadipaten, Ayu Kencana Ningrum, S.Tr.Par., memandang pengembangan kompetensi guru sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Guru perlu terus mengembangkan kemampuan profesional agar mampu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia kerja.

‎“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat komitmen guru untuk terus mengembangkan kompetensinya. Literasi, numerasi, dan karakter perlu mendapat perhatian dalam proses pembelajaran karena ketiganya mendukung pembentukan peserta didik yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki tanggung jawab dan etika yang baik,” ujar Ayu.

‎Ia juga berharap pengembangan kompetensi guru dapat berlanjut pada penerapan nyata di ruang kelas. Hasil kegiatan perlu menjadi bahan refleksi bagi pendidik untuk mengevaluasi praktik pembelajaran, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan diri, dan merencanakan perbaikan secara berkelanjutan.

‎Dari sisi kurikulum, Nina Komariah, S.Pd., menyoroti pentingnya mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam berbagai mata pelajaran, termasuk mata pelajaran kejuruan. Penguatan kedua kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui analisis kasus, pemecahan masalah, interpretasi data, dan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks bidang keahlian.

Baca Juga :  Prof Adang Jumhur Resmi Pimpin IAI Nusintama

‎“Literasi dan numerasi perlu diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari, bukan hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran tertentu. Peserta didik perlu dibiasakan memahami informasi, menggunakan data, dan menyelesaikan masalah secara logis agar pengetahuan yang dipelajari dapat diterapkan dalam situasi nyata,” kata Nina.

‎Selain kompetensi akademik, pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan sosial dan profesional. Kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama perlu dibangun melalui keteladanan serta pembiasaan yang konsisten di lingkungan sekolah.
‎Nizar Maulana Madani, S.Pd., dari bidang kesiswaan, menekankan bahwa pendidikan karakter perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, baik oleh guru maupun peserta didik.

‎“Penguatan karakter tidak cukup dilakukan melalui nasihat. Nilai kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai harus terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Guru memiliki peran penting untuk memberikan keteladanan sehingga nilai-nilai tersebut dapat tumbuh dalam budaya sekolah,” tutur Nizar.

‎Keterpaduan literasi, numerasi, dan karakter juga memiliki relevansi dengan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja. Dunia usaha dan dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu memahami instruksi, menggunakan informasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan menjaga etika profesional.

‎Hamay Hamdani, S.Pd., MOS, dari bidang hubungan masyarakat dan Bursa Kerja Khusus (BKK), menyoroti pentingnya keselarasan pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.

‎“Lulusan SMK perlu memiliki keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama. Karakter profesional juga menjadi bekal penting ketika mereka memasuki dunia kerja. Karena itu, penguatan kompetensi guru perlu mendukung pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” ungkap Hamay.

‎Kegiatan peningkatan kompetensi guru tersebut memiliki lima sasaran utama, yaitu memperkuat pemahaman tentang peran literasi dan numerasi dalam profesionalisme, mengembangkan pemikiran kritis dan pengambilan keputusan berbasis data, memperkuat integritas serta etika profesional, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri, dan menyusun rencana tindak lanjut.

Baca Juga :  Resmi Dibuka, English Study Club IAI Nurul Hakim Lombok Perkuat Jejaring Global Mahasiswa

‎Lanlan menilai tindak lanjut menjadi unsur penting agar pengembangan kompetensi guru tidak berhenti pada pemahaman materi.

‎“Setiap kegiatan pengembangan profesional perlu diikuti dengan refleksi dan rencana tindak lanjut. Guru perlu mengenali aspek yang masih harus ditingkatkan, menentukan langkah perbaikan, dan mengevaluasi penerapannya dalam pembelajaran. Dengan begitu, pengembangan kompetensi dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi peserta didik,” jelasnya.

‎Melalui kegiatan ini, SMK Karya Nasional Kadipaten diharapkan dapat memperkuat budaya pengembangan kompetensi pendidik secara berkelanjutan. Integrasi literasi, numerasi, dan karakter diharapkan menjadi bagian dari praktik pembelajaran yang membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan bernalar, serta tanggung jawab profesional.

‎Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan pendidikan vokasi yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan lulusan yang kritis, adaptif, berintegritas, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja. (Eko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *