Opini

Mengenang Ustadz Samiri

332
×

Mengenang Ustadz Samiri

Share this article
IMG 20260525 WA0017
Alm Ustadz Samiri Foto : Dok Keluarga/Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Santri Ponpes Nurul Hakim Kediri 1996-2002

KELUARGA besar Pondok Pesantren Nurul Hakim di seluruh Indonesia kembali berduka dengan berita meninggalnya seorang alumni yang lama berprofesi sebagai guru. Mengenang sosoknya bakal membuat memori para alumni, terutama santri NH medio 1996-2002, bakal terngiang dengan sosoknya. Bukan saja cara mengajarnya yang paten, tapi juga tampilan sekaligus senyumnya yang tulus.

“Innalillahi… Turut berduka cita atas wafatnya Ustadz Samiri, S.Pd. alumni Pondok Pesantren Nurul Hakim-Ponpes NH, (tahun 1990), tenaga pengajar di MTs Putra NH tahun 1990-an dan Kepala SMP Negeri 4 Bayan, Lombok Utara. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan,” begitu pesan WhatsApp yang saya terima Senin 25 Mei 2026.

Ucapan belasungkawa dan doa terbaik untuk almarhum ternyata bukan saja sampai ke saya, tapi sudah menyebar di berbagai grup WhatsApp alumni dan status media sosial alumni Ponpes Nurul Hakim pagi Senin 25 Mei 2026. Ponpes Nurul Hakim sendiri merupakan salah satu Ponpes terbesar di NTB, yang berlokasi di Kediri, Lombok Barat, tepatnya di Jl. TGH. Abdul Karim, Jl. Taruna Nomor 5 dan sekitarnya. Beliau meninggal setelah mengalami kecelakaan di sebuah jalan raya.

Pengalaman, Kenangan dan Kesan

Saya nyantri di NH sejak tahun 1996 hingga 2002, sejak MTs hingga Madrasah Aliyah, program umum. Kala itu, sebagai santri yang baru mengenal pesantren, saya termasuk yang mudah akrab dengan para Ustadz dan kakak senior yang ada di NH. Terutama para Ustadz dan senior yang kala itu lebih sering tinggal di pondok daripada pulang ke kampung masing-masing. Termasuk diantara mereka adalah Ustadz Samiri.

Baca Juga :  Khidmat HMI Untuk Indonesia

Secara khusus, dengan Ustadz Samiri, saya memiliki pengalaman kenangan dan kesan tersendiri. Pertama, ramah dan peduli. Saya mengenal beliau pertama kali ketika momentum pengenalan pondok atau ta’aruf santri baru. Beliau salah satu panitia yang kerap “bolak-balik” di kompleks pondok atau asrama santri putra. Dalam berbagai kesempatan, beliau menyapa dengan ramah. Tak ada jarak, dan ya beliau benar-benar sosok yang “ngemong”.

Bahkan, pada saat liburan tiba, beliau kerap mengajak para santri putra yang tidak bisa pulang libur untuk berlibur ke rumah beliau. Ada beberapa teman yang sempat meng-iya-kan ajakan beliau, namun saya belum sempat karena lebih nyaman tinggal di pondok. Seingat saya, kala itu saya lebih suka tinggal di pondok bersama para senior. Selain karena tak ada biaya pulang kampung, jarak Lombok Barat ke Manggarai Barat, NTT juga cukup jauh.

Salah satu sosok yang peduli pada kondisi saya dan para santri yang memilih tetap berada di pondok kala itu adalah Ustadz Samiri. Beliau kerap membawa beras, nasi dan lauk, juga jajan dan buah-buahan. Bila ada kegiatan keagamaan di luar pondok, beliau kerap mengajak santri terutama saya untuk ikut hadir. Saya masih ingat, beliau sering membonceng saya pakai motor andalannya sebagaimana saat beliau mengajar mata pelajaran geografi di MTs Putra.

Saya berani mengatakan bahwa saya termasuk yang cukup dekat Ustadz Samiri. Dalam beberapa kesempatan saya kerap mendapatkan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) dari beliau. Walaupun kelak tetap saya bayar, namun memberi kesempatan untuk “ambil dulu bukunya, bayar belakangan” adalah sebuah kenangan indah saya bersama beliau. Saat itu, bila momentum liburan, saya sering diajak oleh alumni Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) ini ke tempat kontrakannya di sebelah Utara Masjid Jami’an Baiturahman, di Kediri.

Baca Juga :  Satu Abad NU; Refleksi dan Agenda Abad Kedua

Kedua, telaten dan disiplin. Salah satu yang paling melekat dengan Ustadz Samiri adalah berpenampilan rapih. Beliau selalu berpakaian rapih: baju selalu dimasukkan. Saat mengajar, beliau sangat telaten. Seingat saya, beliau tidak berpindah tema pembelajaran bila masih ada diantara santrinya tidak paham. Beliau juga sosok yang sangat disiplin, terutama disiplin waktu. Seingat saya, beliau selalu tiba di kelas sebelum jadwal pelajaran tiba.

Ketiga, akrab dan murah senyum. Ustadz Samiri merupakan salah satu pengajar di NH era generasi saya yang akrab dengan semua santri. Beliau begitu mudah bercanda, namun tetap menjaga wibawa sebagai seorang pendidik di lembaga pendidikan Islam. Bagi santri yang dianggap nakal selalu beliau ajak bicara dengan senyuman dan pola komunikasi yang menimbulkan rasa nyaman. Sehingga tak sedikit santri yang memilih berbagai cerita pada beliau.

Pembelajaran dan Nasehat

Meninggalnya Ustadz Samiri mengingatkan kita tentang ajal kematian. Dalam Al-Qur’an, ajal (batas waktu hidup) telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah SWT. Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dimajukan atau ditunda walau sesaat, dan datang sesuai waktu yang tertulis. Allah berfirman, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…” (QS. Ali ‘Imran: 145)

Dalam surat lain Allah berfirman, “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. al-A’raf: 34). Atau “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…” (Ali ‘Imran: 185) dan “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (al-Munafiqun: 11)

Baca Juga :  Krisis Empati di Era Hiper-Koneksi: Mengapa Kita Semakin Kebas terhadap Pelecehan Seksual?

Harapan kita terwakili oleh doa terbaik salah satu santri beliau, Ahmad Zakiamani Mochtar (santri MTs Putra NH, angkatan masuk 1997), “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Selamat Jalan Ustadz. Allah mengampuni segala dosa, kuburnya dijadikan taman-taman syurga dan segala amalnya diterima Allah Swt. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi, wa’fu anhu. Beristirahatlah dengan tenang Ustadz Samiri. Kami mengenang Ustadz.” Selamat jalan Ustadzku, Ustadz Samiri! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *