Opini

Seruan Dari Waterfront Labuan Bajo: Komunikasi Iman Anak dan Orang Tua

19
×

Seruan Dari Waterfront Labuan Bajo: Komunikasi Iman Anak dan Orang Tua

Share this article
IMG 20260528 WA0075
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Melahirkan Generasi Unggul”

 

KOTA Labuan Bajo kembali menjadi perhatian nasional, terutama umat Islam di Indonesia, bahkan internasional. Hal tersebut karena umat Islam di salah satu daerah tujuan wisatawan lokal dan mancanegara tersebut memadati dan meramaikan rangkaian shalat Iduladha yang berlangsung di Waterfront Area, Pelabuhan Marina Labuan Bajo, pada Rabu 27 Mei 2026.

Para jemaah dari anak-anak hingga orang dewasa memadati Waterfront Area sejak pagi sebelum rangkaian shalat Iduladha dimulai. Bila Ustadz A. Rahman Hemon, S.Pd.I. didaulat menjadi Imam shalat Iduladha , sementara Khotib yang menyampaikan materi khutbah di hadapan ribuan jamaah yang hadir adalah KH. Bachtiar Nasir, Lc., MM. yang dikenal juga dengan Ustadz Bachtiar Nasir atau UBN.

Pelaksanaan rangkaian shalat Iduladha yang berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 08.00 WITA berjalan aman, lancer dan khidmat. Antusiasme jamaah untuk mendengarkan khutbah UBN terlihat sangat tinggi. Mereka bukan saja memilih bertahan di lokasi saat shalat Iduladha, tapi juga ketika khutbah Iduladha disampaikan.

Pada khutbahnya UBN mengingatkan pentingnya peran seorang ayah sebagai pemimpin sekaligus nakhoda spiritual yang bertanggungjawab untuk mengarahkan keluarga menuju Allah. Dalam khutbah bertajuk “Komunikasi Iman Anak dan Orang Tua”, UBN membedah nilai-nilai luhur dan hikmah yang terkandung dalam Alquran Surah As-Saffat ayat 100 hingga 111 yang mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam membangun komunikasi berbasis keimanan.

Saya mencatat beberapa poin penting yang disampaikan oleh UBN pada momentum tersebut. Pertama, komunikasi sebagai medium suksesnya pendidikan keluarga. Menurut UBN, komunikasi antara orang tua dan anak tidak cukup hanya dibangun dengan perintah dan larangan, melainkan harus disertai penjelasan yang menyentuh hati dan menanamkan keimanan.

Baca Juga :  Pesan Literasi Dari Ponpes Santi Asromo

“Berbicara dari hati ke hati tentang shalat anaknya, tentang akhlak anaknya, dan cinta anaknya kepada Allah. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa ayah harus menjadi guru iman bagi anaknya, ibu menjadi madrasah hati bagi anaknya, dan rumah menjadi tempat pertama anak mendengar nama Allah dengan cinta,” ungkap Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu.

Kedua, anak taat karena paham. UBN kemudian menyoroti dialog Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail saat menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya. “Ibrahim berkata, ‘Fanzhur maza tara,’ maka pikirkanlah wahai anakku, apa pendapatmu? Padahal beliau seorang nabi dan perintah itu datang dari Allah, tetapi beliau tetap mengajak anaknya berdialog,” jelas UBN.

UBN menjelaskan, Nabi Ibrahim tidak memaksa dengan kasar, tidak mematikan akal maupun menghancurkan perasaan anaknya, melainkan mengajak Ismail masuk ke dalam ketaatan dengan kesadaran dan cinta kepada Allah.

“Inilah pelajaran besar untuk orang tua. Anak yang taat karena takut dimarahi belum tentu kuat ketika jauh dari orang tuanya. Tetapi anak yang taat karena paham, karena cinta, dan karena iman, akan tetap kuat walaupun orang tuanya tidak melihatnya,” ujarnya.

Ketiga, mendidik dengan hikmah dan penjelasan yang utuh. UBN juga mengingatkan para orang tua agar membesarkan anak dengan penjelasan, bukan sekadar larangan. “Jangan hanya berkata ‘tidak boleh’, tetapi jelaskan, ‘Nak, Allah tidak suka ini.’ Jangan hanya berkata ‘harus shalat’, tapi jelaskan bahwa shalat adalah cara kita pulang kepada Allah,” jelas ulama alumnus Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu.

Keempat, adab anak pada orangtua. Di hadapan lebih dari 6.000 jamaah yang memadati lokasi, UBN turut mengulas jawaban Nabi Ismail kepada ayahnya. “Qala ya abatif‘al ma tu’mar, satajiduni insya Allahu minas shabirin. Ismail menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’,” ucapnya sebagaimana dikutip berbagai media.

Baca Juga :  Mengenal dan Meneladani Buya Hamka

UBN menilai jawaban itu menunjukkan adab seorang anak kepada orang tua. Menurutnya, Nabi Ismail memahami bahwa ayahnya tidak sedang mengikuti hawa nafsu, melainkan menjalankan perintah Allah. Ismail tidak berkata, ‘Lakukan apa yang ayah mau,’ tetapi ‘Lakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu.’ Artinya, Ismail tahu ayahnya sedang taat kepada Allah.

Kelima, mendidik dengan nilai-nilai. UBN berpesan kepada para orang tua agar menjadi sosok yang menghadirkan nilai-nilai ilahiah dalam setiap nasihat dan keputusan kepada anak-anaknya.

“Maka wahai para ayah, jadilah ayah yang ketika memberi perintah, anak merasakan bahwa itu bukan ego ayah, tetapi amanah Allah. Wahai para ibu, jadilah ibu yang ketika memberi nasihat, anak merasakan itu bukan ledakan emosi, tetapi kasih sayang karena Allah,” katanya.

Keenam, pentingnya anak menghormati orang tua. UBN mengingatkan para generasi muda di Labuan Bajo dan Manggarai Barat akan pentingnya menghormati orang tua dan menjaga akhlak kepada keluarga. “Jangan malu menjadi anak yang shalih, jangan malu mencium tangan ayah dan ibu, jangan malu meminta maaf, jangan malu berkata, ‘Mama, Bapak, doakan saya,’” jelas Pimpinan Perkumpulan AQL itu.

Agenda syiar di salah satu kawasan wisata premium Indonesia tersebut diselenggarakan atas kerja sama Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Labuan Bajo dengan dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta berbagai lembaga masyarakat setempat.

Rangkaian perayaan Iduladha di wilayah Manggarai Barat kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan 100 ekor sapi qurban. Program tebar qurban yang menyasar masyarakat di wilayah daratan hingga kepulauan itu merupakan hasil kolaborasi internasional antara AQL Qurban Care dan Hayrat Yardim Turkiye. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *