Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku dan Penggiat Literasi Islam
PADA Rabu 15 Juli 2026, saya berkesempatan menyaksikan podcast WendiCagurOfficial yang menghadirkan Dokter Aisyah Dahlan, seorang figur yang aktif bermedia sosial dan menjadi narasumber di berbagai forum. Pada kesempatan yang dipandu oleh Wendi dan Andika ini mengulas seputar psikologi dan pertumbuhan anak dan dinamika keluarga.
Pada dasarnya ada banyak hal yang diulas di momentum tersebut. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Dokter Aisyah mengulas tentang lima bahasa cinta atau lima bateri kasih. Bagi saya, ulasan Dokter Aisyah yang runut disertai contoh praktis dalam kehidupan nyata membuat saya tertarik dan mendapatkan pembelajaran berharga.
Dalam kehidupan ini kita membutuhkan energi yang membuatnya berdaya dan bermakna. Energi semacam itu akan berpengaruh terhadap kehidupan kita, baik dalam lingkup pribadi dan keluarga maupun lingkup karier dan sosial. Bagi anak, energi semacam itu akan bertumbuh pesat hingga tua manakala dibangun sejak usia belia atau usia 0-5 tahun.
Menurut Dokter Aisyah, energi yang dimaksud adalah bahasa cinta atau bateri kasih. Pertama, sentuhan fisik. Setiap anak memiliki bahasa cinta yang dominan dalam dirinya. Salah satunya sentuhan fisik. Biasanya, anak yang bahasa cintanya dominan sentuhan fisik, paling suka bila mendapatkan sentuhan fisik dari orangtuanya, seperti kepalanya dipegang.
Kedua, ucapan atau pujian. Ada juga yang bahasa cintanya didominasi oleh ucapan atau pujian. Anak semacam ini umumnya suka dihargai dalam bentuk ucapan atau pujian. Bila dia melakukan sesuatu, dia sangat senang mendapatkan apresiasi dengan kata-kata positif dan konstruktif. Misalnya, “Nak, ayah senang kamu rajin dan giat belajar”.
Ketiga, pemberian atau hadiah. Selain itu, ada juga anak yang suka mendapatkan pemberian atau hadiah. Itu bermakna bateri kasih yang dominan dalam dirinya adalah pemberian atau hadiah. Maka sebagai orangtua, yang mesti dilakukan adalah memberi hadiah untuknya. Sesederhana apapun itu, berilah sesuatu yang membuatnya merasa senang dan dicintai.
Keempat, waktu berkualitas. Hal ini tentu menjadi salah satu bateri cinta yang berharga. Ada anak yang hanya butuh waktu untuk bercanda atau berpergian dengan orangtuanya. Dia mungkin tak terlalu perlu pujian, hadiah dan sentuhan fisik. Bagi dia, bercanda atau berpergian dengan orangtua adalah segalanya. Maka ajaklah dia bercanda atau berpergian.
Kelima, doa dan dukungan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah doa dan dukungan. Tak sedikit anak yang lebih suka mendapatkan doa dan dukungan. Mereka paling suka bila mendapatkan ungkapan ini: “Nak, aku doakan kamu jadi anak yang sukses belajar”, “Ayah dukung setiap upaya kamu untuk meningkatkan prestasi”, dan sebagainya.
Satu hal yang paling berkesan lagi dari ulasan Dokter Aisyah adalah ketika menyampaikan bahwa asupan lima bahasa cinta pada saat usia 0-5 tahun sangat berpengaruh bagi pribadi anak di tahun-tahun selanjutnya. Dengan begitu, orangtua mesti paham betul apa bahasa cinta yang dominan pada setiap anak. Ini jadi momentum orangtua untuk belajar.
Uniknya, lima bahasa cinta yang ada pada anak juga dibutuhkan oleh orangtua, terutama pasangan suami-istri. Dengan demikian, bila lima hal tersebut kerap dibangun saat usia anak-anak, maka besar kemungkinan akan berdampak pada saat usia tua terutama usia berumah tangga. Bahkan kelimanya bisa mengokohkan dan mengabadikan cinta. (*)






