Opini

77 Tahun Pak SBY: Pengabdian, Keteladanan dan Karya

17
×

77 Tahun Pak SBY: Pengabdian, Keteladanan dan Karya

Share this article
IMG 20260910 WA0039
Syamsudin Kadir Penulis Buku "Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia" Foto : Dok Pribadi

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia” 

PADA Rabu 9 September 2026, waktu menunduk sejenak. Indonesia memungut kenangan dari lipatan sejarah. Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kini menapaki usia 77. Bukan sekadar bilangan yang menua di dinding kalender. Ia gema langkah dari Pacitan yang teduh, hingga gemuruh tanggung jawab di pusat bangsa. Semua ditempuh bukan oleh kebetulan, melainkan takdir bakti.

Lahir di Pacitan, Jawa Timur, Jumat 9 September 1949, di bawah langit pesisir. Tanah kecil itu menenun kesahajaan menjadi watak. Disiplin ditempa seperti baja, ketekunan disulam pelan. Akademi dan medan tugas menjadi tungku penempaan. Tak ada pintas menuju kepercayaan rakyat yang luas. Yang ada hanya kesabaran berpikir sebelum semesta bergerak. Itulah napas rasional seorang negarawan yang meneduh.

Sebagai Presiden ke-6 Indonesia, 2004-2009 dan 2009-2014, ia mengemudi di tengah gelombang. Demokrasi masih belajar berjalan, ekonomi meraba arah. Stabilitas bukan kemewahan, melainkan napas yang dijaga. Kritik datang bagai hujan, hasil tumbuh bagai panen. Haluan tak boleh goyah meski angin berbeda arah. Konstitusi dijadikan kompas agar negeri tak tersesat. Dialog direntangkan agar retak tak menjadi jurang.

Setelah singgasana ditinggal, yang tinggal adalah cahaya gagasan. Tentang kebangsaan yang dirawat, keamanan yang dijaga. Tentang diplomasi yang merajut, bukan merobek. Tulisan dan suaranya menjadi lentera di ruang publik. Karena bangsa besar hidup dari pikiran, bukan sekadar proyek. Di usia 77, semangatnya berpindah mimbar. Dari ruang kabinet ke pelataran hati anak bangsa.

Usia matang adalah senja yang jernih, bukan redup. Langkah melambat, namun makna berjalan lebih jauh. Kesehatan menjadi sungai agar karya terus mengalir. Keluarga menjadi rumah tempat jiwa berlabuh pulang. Kita titipkan doa: panjang usia yang berkah Pak SBY. Karena negeri masih rindu suara yang menyejukkan. Suara yang mengajak kita menatap jauh ke depan.

Baca Juga :  Mengenal dan Meneladani Buya Hamka

Berkarya tak kenal kata pensiun, ia hanya berganti rupa. Dahulu di garis komando, kini di garis pencerahan. Dahulu menandatangani kebijakan, kini menyulam wacana. Pengabdian bertransformasi seperti air yang mencari muara. Rasional, anggun, dan tetap bermartabat. Pemimpin sejati tahu kapan memimpin, kapan menuntun. Keduanya adalah sayap bagi terbangnya sebuah bangsa.

Kita mencari teladan yang bisa dibaca dari jejak. Bukan dari gema slogan yang cepat padam, bahkan menghilang. Pengabdian pada Ibu Pertiwi memang tak pernah tamat. Selama denyut rakyat masih terdengar. Selama masalah masih mengetuk pintu. Maka panggilan moral akan terus berbisik. 77 tahun adalah bukti: dedikasi itu maraton sunyi. Karya itu lantunan meniti gelombang sejarah.

Mari membaca sejarah dengan mata yang jernih. Tanpa mabuk euforia, tanpa buta oleh benci. Kelebihan dipetik seperti buah, kekurangan dijadikan pupuk. Dari sanalah kedewasaan sebuah bangsa ditempa. Pak SBY adalah bait dalam syair pembelajaran itu. Ia mengajari kita tenang di tengah badai. Dan tegak membawa visi saat badai mereda.

Doa kami sederhana, namun dalam dan bersujud. Semoga Allah SWT menaungi, menjaga, memberkahi. Menganugerahi sehat agar langkah terus mengayomi semua. Menganugerahi hikmah agar nasihat terus menuntun. Karena Indonesia butuh jembatan antar zaman. Butuh saksi sejarah yang mau berbagi cahaya. Agar generasi tak berjalan dalam gelap. Agar penerus melangkah terarah.

Narasi rasional menuntut kita jujur pada cermin. Memimpin 270 juta jiwa, kala itu, bukan perkara ringan. Setiap keputusan menanggung bayang dan sorot. Pujian dan kritik bertaut seperti pasang surut. Yang membedakan adalah niat yang lurus. Komitmen pada demokrasi, peluk pada keberagaman. Dan keyakinan bahwa negeri ini layak tumbuh.

Baca Juga :  Polisi Gagap, Pembegal Bisa Berjaya

Inspirasi lahir dari konsistensi yang dirajut waktu. Ketika kata selaras dengan perbuatan. Ketika jabatan usai, namun bakti tak usai. Itulah pesan paling sunyi di usia 77 ini. Jabatan hanyalah titipan yang akan kembali. Pengabdian adalah pilihan yang menetas jadi warisan. Yang dikenang bukan singgasana, melainkan makna. Bukan keluhan, melainkan gagasan dan karya-karya.

Seorang pemimpin sejati adalah pembaca yang tak pernah berhenti belajar, dan Pak SBY memilih jalan itu. Dari sela kesibukan, lahirlah karya: Selalu Ada Pilihan, Garis Waktu Tak Bertepi, Membasuh Hati di Taman Kehidupan, The Mentor: 9 Purnama di Sisi SBY, Indonesia Unggul dan ratusan artikel yang menebar pikirannya. Di situlah keteladanan: memimpin dengan keputusan, dan mewariskan dengan tinta.

Selamat ulang tahun, Pak SBY. Sehatlah, bahagialah, dan teruslah menjadi lentera. 77 tahun adalah bukti waktu bisa disulam berjuta makna. Indonesia masih haus pikiran, pengalaman dan keteladanan. Mari kita belajar dari panjangnya perjalanan itu. Agar kita tidak mengulang luka, tapi menyembuhkan sedikit demi sedikit. Agar pengabdian kepada bangsa tak pernah mengenal kata selesai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *