Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
IA lahir dari dinginnya Garut, Jawa Barat, pada Jumat 5 April 1996. Abdul Rohman, M.Ag. Anak pertama dari enam bersaudara, buah hati dari Baoak Sadar dan Ibu Supitah. Dua orangtua wiraswasta yang menanamkan arti ikhtiar dan doa. Dari rumah sederhana itu ia belajar bahwa rezeki bukan soal banyak, tapi tentang berkah yang cukup dan hati yang qanaah. Dan dari peluh orangtuanya, ia mewarisi semangat: berjalan pelan, tapi tidak pernah berhent
Pendidikan
Sekolahnya ditempa oleh pesantren dan rindu. SD Jatiwangi 2 ia lewati. MTs Miftahul Ulum 94 ia selesaikan tahun 2011. SMA IT Persis 94 ia tuntaskan tahun 2014. STAI Persis Garut melahirkannya sebagai sarjana pada tahun 2018.
Baginya, lembaga Persatuan Islam adalah samudra yang dalam, luas, dan apik. Di sanalah ia belajar bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan hati yang ditundukkan. Dari al-Qur’an ia memungut cahaya, dari hadits ia menimba adab. Fiqih mengajarinya tentang batas, ushul fiqih tentang cara berpikir.
Setiap kitab yang terbuka adalah pintu, dan setiap guru yang bicara adalah kompas. Pesantren mengasahnya dalam sabar, dalam begadang, dalam sujud panjang di sepertiga malam. Dan dari sanalah ia pulang membawa ilmu sebagai bekal, dan akhlak sebagai arah.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan ke jenjang S2 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di ruang-ruang itu ia belajar menyelam lebih dalam ke lautan al-Qur’an dan al-Hadits. Ayat bukan lagi sekadar dibaca, tapi direnungi hingga mengetuk dada. Hadits bukan hanya dihafal, tapi dijadikan cermin untuk menata langkah.
Di antara tumpukan kitab dan sunyi malam, ia menemukan bahwa ilmu adalah amanah. Semakin banyak tahu, semakin ia merasa kecil di hadapan Tuhan, Allah. Salah satu UIN tertua di Indonesia itu menjadi saksi wisuda magisternya tahun 2022. Dari Bandung itu ia pulang dengan satu janji: memahami untuk mengamalkan, bukan untuk merasa paling tahu.
Organisasi
Kampus bukan hanya ruang kelas baginya. Ia pernah menjadi Bendahara Umum HIMA Persis. Baginya, organisasi adalah jalan kader. Di sana ia belajar memimpin tanpa meninggi, belajar memberi tanpa menuntut. Ia dekat dengan dosen, dipercaya jadi asisten. Dakwah kampus pun ia antar ke masyarakat.
Rantau di Kota Kembang mengasah hatinya. Beragam budaya ia jumpai, ritual agama yang berbeda ia lihat. Namun dua pegangan tak pernah lepas: tujuan hidup yang jelas, dan prasangka baik kepada Allah. Ia tetap percaya bahwa al-Qur’an dan Sunah adalah pijakan utama yang tak bisa dipinggirkan.
Kompas dan Karier
Nasihat orangtua menjadi kompas. Ada masa ia jatuh karena keputusan terburu. Air matanya jatuh, tapi dari sanalah tekad tumbuh. Pengalaman paling berkesan adalah menulis. Di atas kertas, pikirannya ditempa. Di antara rujukan, ruhnya dipanggil.
Menjadi manusia yang memberi manfaat. Itulah motivasinya. Sejak 2023 ia mengabdi di Subang, Jawa Barat. Menjadi dosen yang mengajar bukan hanya materi. Ia juga Dai 3T, menjembatani iman di wilayah terdepan. Ia pula Penilai Buku di Kementerian Agama.
Gelar yang disandangnya bukan untuk dirinya. Itu hadiah untuk orangtua yang tak pernah lelah berdoa. Ayahnya adalah cermin pertama. Dari keteguhan ayah ia belajar sabar. Para dosen adalah pelita kedua. Dari mereka ia belajar cara hidup, bukan sekadar cara berpikir.
Untuk semua guru itu ia merakit doa. Semoga umur mereka berkah dan lapang. Untuk orangtuanya ia hanya punya satu doa. Ampuni dosa mereka, ya Allah. Panjangkan umur dalam kebaikan.
Untuk adik-adik yang akan merantau, ia titipkan pesan yang sederhana. Jangan lemah di tanah orang. Teruslah menuntut ilmu sampai selesai. Keyakinannya tidak rumit.
“Masing-masing manusia akan dimudahkan, sesuai tujuan ia diciptakan,” ungkapnya. Maka tugas kita hanya berjalan, dengan ikhlas dan istiqamah. Tidak membandingkan langkah, hanya menjaga arah.
Penjaga Hati dan Motivasi
Tahun 2019 menjadi tahun baru hidupnya. Ia menikah dengan Ibu Mega Rustianadari asal Pendeuy, Garut, Jawa Barat. Allah lalu menitipkan tiga cahaya untuk keduanya. Mereka adalah Asma Azkiya Sholihah, Hilyatul Auliya Al-Azkiya, dan Azka Muhammad Al-Fatih.
Anak-anak itu adalah alasan. Alasan ia pulang meski lelah. Alasan ia menulis meski malam. Alasan ia mengajar meski suara serak. Karena rumah bukan hanya tempat kembali, tapi juga tempat menanam masa depan. Dan masa depan dimulai dari teladan.
Ia tidak percaya pada kata menyerah. Keterbatasan hanya soal waktu, bukan vonis selamanya. Hal yang penting adalah niat yang terus diperbarui tiap sujud. Hal yang penting adalah langkah yang tetap maju meski kecil, pelan.
Impian dan Karya
Mimpinya untuk kampung, juga Garut sederhana. Ia ingin anak kampung percaya diri. Bahwa desa bisa melahirkan sarjana, bahwa sawah bisa melahirkan pemikir. Bahwa pergi merantau bukan untuk lupa, tapi untuk kembali membawa manfaat. Pulau ilmu harus kembali ke hulu. Ia bukan orang hebat. Ia hanya orang biasa yang memilih jalan sunyi.
Jalan belajar, mengajar, dan menulis. Jalan yang tidak ramai tepuk tangan, tapi ramai doa di sepertiga malam. Jalan yang menuntut jujur, karena Allah melihat yang tersembunyi. Dari tanah yang sejuk ia berangkat. Ke kota ia menimba, ke kampus ia bersimpuh, ke masyarakat ia berdakwah.
Ia percaya, satu baris tulisan yang jujur bisa menjadi jembatan dari gelap menuju fajar. Maka ia menulis bukan untuk dikenal, melainkan agar kebenaran dikenal. Karena baginya, ilmu tanpa disebarkan ibarat sumur tanpa timba, dan dakwah tanpa tulisan ibarat angin tanpa arah. Dan di sanalah panggilannya: menulis, agar hidupnya menjadi huruf-huruf yang terus membaca semesta.
Ia pun aktif menulis buku. Diantara buku karyanya adalah Ragam Metodologi Tafsir Al-Qur’an Era Modern-Kontemporer, Pengantar Ilmu Tafsir Al-Qur’an, Pengantar Pendidikan Agama Islam, Tafsir Nusantara (Era Klasik sampai Modern), Kajian Tafsir Ulama Nusantara, Pengantar Ulumul Qur’an, Metode Penelitian Tafsir dan sebagainya.
Baginya, buku bukan sekadar kertas yang dijilid, melainkan pelita yang menyalakan akal dan menuntun hati. Di antara tinta dan jeda, tersimpan ilmu yang menolak padam meski zaman berganti musim. Menulis baginya adalah sujud panjang pena, mengabadikan cahaya agar tak lekang oleh lupa. Setiap kalimat adalah bisik dakwah, lembut namun menggugah, mengetuk pintu-pintu yang tertutup.
Kini ia berdiri di kelas, dengan buku dan keyakinan. Membawa nama Garut ke mana-mana. Inilah dosen sekaligus inspirator muda Indonesia: Abdul Rohman. Bukan cerita tentang kesempurnaan, tapi tentang keberlanjutan. Tentang anak pertama yang tidak ingin berhenti. Tentang dosen yang masih mau jadi murid. Tentang manusia yang percaya, ilmu adalah warisan yang tidak pernah habis. Maka langkah itu yang ia pilih: merakit peradaban ilmu. (*)






