Opini

Eka Sukmana: Benih Cahaya Di Lereng Kuningan

15
×

Eka Sukmana: Benih Cahaya Di Lereng Kuningan

Share this article
IMG 20260910 WA0019
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”

DI kaki Ciremai yang teduh, tanah Kuningan, Jawa Barat, Jumat 30 Januari 1987, menumbuhkan kisah tentang seorang anak bernama Eka Sukmana. Ia kelak menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd.). Ia lahir dari rahim kesederhanaan dan langit luas buah cinta Ibu Oom Romlah dan Bapak Erik Saputra. Dua insan yang menautkan hidup pada wirausaha dan bertani. Dari peluh mereka lahir nilai kerja dan dari doa mereka lahir arah hidup.

Keluarga

Ia anak sulung dari dua bersaudara. Bahu mudanya belajar memikul harapan lebih awal adiknya. Ria Erika menjadi sahabat dan cermin di rumah sederhana. Ia belajar berbagi ruang, belajar mengalah, belajar menjaga keluarga, menjadi kitab pertama yang setiap halamannya ditulis oleh kasih dan setiap barisnya diikat oleh pengorbanan.

Hal yang paling menancap di jiwanya bukan gemerlap, melainkan orangtua dan para guru. Tangan ayah yang kasar karena kerja sabar, ibu yang lembut. Karena doa serta guru yang menulis masa depan di papan tulis. Mereka mengajarkan bahwa ilmu adalah lentera, bahwa keteladanan adalah bahasa paling jujur dan, bahwa hidup adalah tentang meneladani.

Ia membangun rumah tangga bersama Ibu Ika Rosika dan dikaruniai seorang anak bernama Abdullah Faiq. Keluarga menjadi taman kecil, tempat ia mempraktikkan semua nilai yang dulu ia pelajari dari orangtua. Bahwa rumah adalah sekolah pertama, bahwa cinta adalah kurikulum utama dan bahwa doa adalah fondasi terkuat

Pendidikan

Langkah awal menuntut ilmu berpijak di SDN Ciwaru, lulus 1999. Di bangku kayu ia mengeja dunia, menulis harapan dengan pensil yang tumpul. Pulang membawa cerita, luka, dan tawa kelulusan. Menjadi pintu, bukan akhir. Ia belajar bahwa sekolah adalah keberanian. Keberanian untuk melangkah, keluar kampung dan menatap cakrawala yang lebih luas.

Masa remaja ditempa di SMP Negeri Ciwaru, lulus 2002. Antara riuh dan sunyi, antara tugas dan mimpi. Disiplin mulai menenun hari-harinya. Rasa ingin tahu tumbuh seperti padi. Ia mengerti bahwa belajar bukan hafalan, tetapi memahami. Mengapa kita hidup, mengapa kita harus terus bertanya dan mengapa kita tidak boleh berhenti.

Kemudian ia menapaki SMA Negeri Luragung, lulus 2005. Lorong sekolah menyaksikan sayap cita. Di sana ia belajar merangkai tujuan. Belajar bahwa batas hanya untuk dilewati. Kelulusan bukan garis akhir, melainkan kompas yang menunjuk ke atas. Ke tempat ilmu bertemu dengan tanggung jawab, ke tempat pemuda mulai memikul zaman.

Baca Juga :  Krisis Empati di Era Hiper-Koneksi: Mengapa Kita Semakin Kebas terhadap Pelecehan Seksual?

Universitas Kuningan menjadi rumah ilmu. Ia memilih Ilmu Komputer sebagai medan berteman dengan logika, kode, dan algoritma. Namun hatinya tetap mencari ruh. Ia sadar teknologi tanpa nurani akan kosong. Maka ia tidak hanya mengejar gelar. Ia mengejar makna di balik layar dan hikmah di balik setiap rumus. Lulus tahun 2009.

Kerinduan pada pendidikan membawanya kembali. Kali ini ke Ilmu Pendidikan. Ia ingin mengerti bagaimana manusia dibentuk, bagaimana kata bisa menyalakan cahaya. Lulus tahun 2019. Lulus dengan pemahaman baru bahwa mengajar adalah menanam, bukan memaksa. Bahwa guru adalah petani jiwa dan kelas adalah ladang yang harus dirawat.

Organisasi

Kampus baginya bukan hanya ruang kuliah. Ia masuk ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Mengemban amanah sebagai sekretaris. Mencatat, mengatur, dan merapikan gerak. Baginya memimpin adalah melayani. Bukan meninggikan suara, tetapi merendahkan hati untuk mendengar dan menguatkan langkah bersama.

Ia juga berjalan bersama Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Sebagai anggota yang belajar tentang ukhuwah. Tentang persaudaraan yang melampaui jurusan. Tentang iman yang dirawat lewat kerja. Ia percaya ruang kelas terlalu sempit jika hanya diisi angka. Hidup perlu jejaring, perlu empati dan perlu amal yang nyata.

Alasan ia berorganisasi sederhana: ingin berbagi ilmu, ingin menambah pengalaman, ingin memperluas wawasan dan memperbanyak silaturahim. Kampus adalah bengkel karakter, tempat belajar bekerja sama, tempat belajar memimpin dan memahami manusia.

Dampak organisasi terasa dalam. Dirinya dari pemalu menjadi berani bicara. Dari ceroboh menjadi disiplin. Dari sendiri menjadi mampu bekerja dalam tim. Ia belajar bertanggung jawab, belajar mengambil keputusan, belajar jatuh lalu bangkit lagi, belajar bahwa proses lebih penting dari hasil.

“Saya belajar menjadi lebih percaya diri, disiplin, komunikatif, bertanggung jawab, mampu bekerja dalam tim, serta berani mengambil keputusan,” ucapnya.

Prinsip, Inspirasi dan Pesan

Prinsip yang ia jaga selama kuliah sederhana jujur, disiplin, mandiri menjaga silaturahim, menghormati sesama terus belajar dan terus memberi manfaat. Baginya hidup tanpa guna adalah sia-sia. Maka setiap langkah diusahakan meninggalkan jejak. Jejak yang bisa ditiru, jejak yang bisa menumbuhkan orang lain.

Nasihat orangtua menjadi modal hidup. “Bekerja keras, jangan mudah menyerah, hormati orang, jaga nama baik keluarga, selalu bersyukur dalam keadaan apa pun.” Kata-kata itu menjadi kompas di malam gelap, menjadi pengingat saat lelah, menjadi penguat saat hampir menyerah dan menjadi doa yang terus ia ulang.

Baca Juga :  Presiden dan Kapolri, Jadilah Panglima Perang Lawan Mafia Narkoba!

Sosok yang menginspirasinya tetap sama: orangtua dan para guru. Orangtua dengan ketekunan yang diam, guru dengan kesabaran yang menuntun. Mereka membuktikan bahwa ilmu bisa mengangkat derajat, bahwa kasih bisa mengubah arah hidup dan bahwa teladan lebih kuat dari ceramah.

Kalimat yang ia pegang adalah tentang manfaat. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Baginya, keberhasilan bukan soal tinggi, tetapi soal seberapa banyak orang terbantu. Seberapa banyak luka yang disembuhkan, seberapa banyak cahaya yang dinyalakan. Itu yang membuatnya terus berjalan, meski jalan kadang menanjak dan licin.

Salah satu buku yang paling disukai adalah “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy. Buku tersebut, menurut dia, menarik, sebab tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai tentang cinta, kesabaran, keteguhan prinsip, pendidikan, keimanan, dan perjuangan menghadapi kehidupan.

Untuk para pelajar dan mahasiswa di berbagai lembaga pendidikan ia berpesan, “Jangan takut keluar keluar dari zona nyaman. Jadikan sekolah kampus sebagai madrasah, tempat membangun karakter, tempat memperluas jaringan, tempat menemukan potensi yang tidur. Karena besar lahir dari keberanian melangkah.

Pengalaman Berharga

Keunikan selama kuliah adalah pertemuan dengan wajah, latar, dan mimpi yang berbeda. Ada yang keras, ada yang lembut. Ada yang membawa luka, ada yang membawa harapan. Dari perbedaan itu ia belajar toleransi, belajar mendengar sebelum menilai, belajar bahwa dunia luas dan tidak bisa diseragamkan oleh satu cara.

Hidup di kampus menajamkan kemandiriannya jauh dari keluarga. Ia mengatur waktu sendiri. Memutuskan tanpa bertanya. Menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Ia belajar menghargai hal kecil. Sepotong nasi, sapaan, dan doa orang asing yang terasa lebih hangat dari rumah dan lebih menguatkan dari janji.

Pengalaman paling berkesan di bangku kuliah adalah membagi waktu antara kuliah organisasi, belajar, dan membangun relasi. Dari sana ia belajar manajemen diri, belajar tanggung jawab, belajar kerja sama, belajar menghadapi beragam karakter dan menemukan dirinya di tengah keramaian.

Ada fase hidup yang membuatnya menangis. Ketika perjuangan terasa berat. Ketika harapan belum juga tiba. Ketika keputusan salah memberi pelajaran. Namun dari sanalah ia belajar bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan jeda untuk berbenah dan awal untuk memulai lagi dengan bijak.

Baca Juga :  Jadilah Pencipta Konten Media Online!

Karier, Jejak dan Prestasi

Kini ia mengabdikan diri di bidang pendidikan. Menjadi guru di lembaga pendidikan Islam, juga menjadi instruktur di lembaga bimbingan belajar. Di ruang kelas ia menanam, di ruang bimbel ia menguatkan. Karena ia percaya pendidikan adalah jalan sunyi untuk mengubah bangsa dan guru adalah penjaga masa depan.

Pada forum nasional dan internasional ia punya jejak. Misalnya forum literasi nasional dan forum robotika internasional. Dari forum itu ia melihat bahwa pendidikan dan teknologi adalah bahasa global. Bahwa perubahan tidak mengenal batas wilayah, bahwa Indonesia harus hadir sebagai pemain, bukan penonton; sebagai pencipta, bukan sekadar pengguna.
“Saya pernah mengikuti kegiatan dalam Forum Literasi Nasional serta Forum Robotika Internasional,” akunya.

Menurutnya, memajukan Indonesia harus dimulai dari pendidikan yang berkualitas dan pembangunan karakter manusia. Generasi muda perlu ilmu dan teknologi. Kreativitas perlu berpikir kritis. Kepedulian sosial kita tidak cukup hanya memakai teknologi, kita harus mampu menciptakannya dan menyelesaikan persoalan bangsa dengan inovasi juga karya literasi yang memadai.

Ia pun menulis. Tulisannya menjelma menjadi beberapa buku. Diantaranya Generasi Cerdas Bukan Sekedar Digital (2026), Mihrab Doa dan Ikhtiar (2026), Belajar Coding dan Informatika (2025), Andai Aku Jadi Gubernur Jawa barat (Buku Antologi, 2024), Pemuda Negarawan (Buku Antologi, 2024), Santri Negarawan (Buku Antologi, 2023), Cinta Tak Bersyarat (Buku Antologi, 2023), Kapita Selekta Pendidikan (Buku Antologi, 2023

Impian dan Harapan

Mimpinya untuk Kuningan dan Jawa Barat jernih, agar daerahnya maju. Lewat pendidikan, lewat teknologi dan kreativitas anak muda. Agar generasi bukan hanya pengguna tetapi pencipta, inovator, pendidik, pemimpin. Agar nama kampung harum hingga ke penjuru yang lebih luas dan membawa kebanggaan bagi tanah kelahiran.

Kepada guru, rektor, dan dosen ia menunduk hormat. Terima kasih atas ilmu, arahan, dan keteladanan. Aatas nasihat yang tak pernah lelah. Apa yang ia raih hari ini adalah pantulan dari cahaya mereka. Ilmu mungkin berlalu oleh waktu, tapi manfaatnya hidup dalam setiap keputusan dan dalam setiap langkah yang ia ambil.

Untuk ayah dan ibu ia hanya bisa berdoa. Terima kasih atas pengorbanan yang tak terhitung, atas doa di setiap sujud. Semoga kesehatan dan keberkahan menyertai. Semoga ia diberi kesempatan untuk terus membahagiakan, untuk terus membanggakan dengan cara yang diridhai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *