Opini

Dari Mburak untuk Muhammadiyah dan Semesta

50
×

Dari Mburak untuk Muhammadiyah dan Semesta

Share this article
IMG 20260910 WA0072
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Imdonesia: Dari Kampung untuk Dunia”

NAMANYA Muhamad Sahril, S.Pd., M.Pd. Gelar itu bukan hiasan di ujung namanya, melainkan saksi adil dan jujur dari perjalanan panjang. Dari kampung ke kelas, dari murid ke guru, dari rantau ke rumah yang ia bawa pulang dalam karya. Huruf-huruf itu menempel karena keringat dan doa. Karena ia tahu, ilmu yang tinggi harus berpijak rendah.

Ia lahir di Kenari, Rabu 20 Oktober 1993. Sebuah dusun kecil di bagian selatan Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, NTT, tempat jalan masih belajar lebar. Di sana langit lebih luas dari ambisi, dan tanah mengajarkan cara tumbuh tanpa mengeluh. Tangis pertamanya disambut angin dan harapan. Dari sanalah waktu mulai menghitung langkahnya.

Keluarga

Ayahnya bernama Bapak Kalilo, ibunya Ibu Sahara. Dua nama sederhana yang menjadi kiblat hidupnya. Bapak Kalilo menanam disiplin dengan kapur dan papan tulis. Ibu Sahara menyiramnya dengan sabar dan nasi hangat. Mereka tidak mewariskan harta, tapi mewariskan cara bertahan dengan kepala tegak. Dari dua pelukan itu lahir keberanian untuk merantau: menjemput ilmu dan karier.

Bapak Kalilo pensiunan guru PNS di SDI Macang Tanggar. Ia pulang membawa cerita tentang anak-anak desa. Ibu Sahara memilih rumah sebagai madrasah pertama. Tangannya merapikan, lisannya menasihati. Profesi berbeda, tapi niatnya satu: mendidik. Anaknya belajar bahwa guru bisa di kelas, bisa juga di dapur dan di sajadah malam.

Ia anak pertama dari tujuh bersaudara. Muhamad Sahril, Farid Fadli, S.PWK, Asrul Fauzi, S.Pt, Lestari Ainun Saputri, S.Pd, Zaitun, S.Pd, Nani Sugiarti yang telah berpulang, dan Dadang Jaka Perkasa. Menjadi sulung berarti belajar menahan sebelum meminta. Punggungnya ditempa menjadi tempat adik-adik bersandar

Pendidikan

Sekolah dasarnya di SDI Macang Tanggar. Masuk 2000, lulus 2006. Enam tahun ia mengeja huruf dengan sepatu menipis. Jarak jauh ditempuh demi satu pelajaran. Guru menjadi orang tua kedua di siang hari. Papan tulis menjadi jendela keluar kampung. Dan lonceng pulang adalah janji untuk kembali esok.

Lalu ia melanjutkan ke MTs Darussalam Labuan Bajo. Masuk 2006, lulus 2009. Labuan Bajo mengajarinya tentang laut dan rindu. Ia belajar menghafal, berorganisasi, dan bertanya. Asrama menjadi rumah kedua yang keras tapi jujur. Di sana iman dan mental ditempa. Ia pulang membawa bekal ilmu dan keyakinan agama yang lebih kuat.

Baca Juga :  Analisis Sosial; Pemantik untuk IMM

Aliyah ia tempuh di MAN Manggarai Barat. Masuk 2009, lulus 2012. Di bangku aliyah, cita-cita mulai punya arah. Agama dan ilmu ia gandeng berjalan bersama. Ia menulis masa depan dengan tinta keyakinan. Pamitan pada kampung dengan doa yang panjang. Dan kampung melepasnya dengan restu yang kuat.

Tahun 2012 ia merantau ke Mataram. Kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Mataram, UMMAT. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Empat tahun ia hidup di antara buku dan panggung. Lulus 2016 dengan ijazah di tangan yang gemetar bangga. Ijazah itu ia letakkan di pangkuan ayah dan ibunya.

Setelah sarjana, ia lanjut S2. Di Universitas Mataram, Unram, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2018-2022. Ia percaya belajar tidak berhenti di wisuda. Gelar magister adalah pintu, bukan tembok. Semakin banyak tahu, semakin sadar kurangnya. Maka ia terus membaca, terus menulis, terus bertanya.

Organisasi

Di kampus ia tidak hanya duduk mendengar. Ia memimpin Komisariat IMM FKIP UMMAT 2013-2014. Lalu Ketua DPM FKIP UMMAT 2014-2015. Kemudian Ketua DPM Universitas UMMAT 2015-2016. Perjalanan berlanjut ke DPD IMM NTB Bidang Dakwah 2016-2018. Dan PDPM Kota Mataram Bidang Dakwah dan Kajian 2018-2020. Organisasi menjadi kelas yang tak punya bangku kosong.

Mengapa ia berorganisasi? Karena ia tahu kelas mengajar lewat teori, sedangkan organisasi mengajar lewat luka dan tawa. Di sana ia belajar berbicara, mendengar, memutuskan. Belajar bahwa pemimpin adalah pelayan. Belajar menghargai beda dan memikul amanah. Ia masuk bukan untuk jabatan, tapi untuk menjadi manusia yang lebih berguna.

Dampaknya besar pada dirinya. Sosok yang dulu takut bicara, kini berani di mimbar. Sosok yang dulu rapuh, kini tahu mengatur waktu dan konflik. Ia belajar kerja tim, berpikir kritis dan mengambil keputusan. Organisasi mengajarinya bahwa tiap masalah ada jalan. Dengan sabar, musyawarah, dan kebersamaan. Semua itu menjadi modal hidup sampai hari ini.

Hal unik di kampus: kampus bukan hanya soal nilai. Kampus adalah pertemuan banyak wajah dan cerita. Ada teman berkecukupan, ada yang berjuang bayar kuliah. Dari mereka ia belajar tentang semangat. Bahwa keberhasilan bukan soal fasilitas, tapi soal ketekunan dan keberanian bertahan. Dan persahabatan tumbuh dari perjuangan yang sama

Baca Juga :  Refleksi Tanwir 2 Pemuda Muhammadiyah di Bali

Inspirator dan Prinsip Hidup

Sosok inspirasi terbesar adalah orang tuanya. Mereka tak banyak bicara, tapi banyak berkorban. Cinta mereka tampak dalam lelah dan pengorbanan. Selain itu guru, dosen, dan para pejuang dakwah. Mereka menunjukkan ilmu harus diamalkan. Dari keteladanan itu ia belajar meneladan. Dan dari teladan itu ia ingin mewariskan.

“Sosok yang paling berpengaruh adalah orang tua. Kemudian guru dan dosen yang tak pernah ia lupakan jasanya. Mereka tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi mengajar cara memandang dunia. Bahwa ilmu tanpa akhlak akan tersesat. Bahwa jasa baik cukup diteruskan, bukan dihitung. Dari mereka ia belajar menjadi manusia sebelum menjadi pintar,” ungkapnya.

Di perantauan ia menjaga prinsip. Keimanan, kejujuran, kerja keras, tanggung jawab. Kesederhanaan dan menghormati sesama. Sejauh apa pun pergi, ia tak melupakan asal. Pendidikan boleh naik, akhlak harus tetap. Jabatan boleh berubah, hati harus dijaga. Prinsipnya: terus belajar, dan memberi manfaat.

Nasihat orang tua menjadi kompasnya. “Jangan menyerah mengejar pendidikan. Keterbatasan bukan alasan berhenti bermimpi.” Ia diajarkan jujur, sederhana, menghormati. Ia diajarkan mengingat dari mana ia berasal. Setiap jatuh, pesan itu yang mengangkat. Setiap ragu, doa itu yang menguatkan.

Hidup di rantau mengajarinya kemandirian. Tidak ada keluarga yang datang saat sakit mendadak. Ia belajar mengatur uang, kesehatan, dan waktu. Belajar membangun relasi dari nol. Di balik kerasnya, ia menemukan keindahan: orang asing yang menjadi saudara. Rantau memisahkan dari rumah, tapi mendekatkan pada makna kekeluargaan.

Ungkapan yang ia pegang: “Jangan malu berasal dari kampung, karena dari kampung kita belajar berjuang. Pergilah sejauh mungkin menuntut ilmu, tapi pulanglah membawa manfaat.” Keberhasilan bukan sejauh mana ia pergi, tapi seberapa besar ia berguna bagi orang lain. Semangat itu yang ia pegang hingga saat ini.

Pengalaman Berkesan, Impian dan Pesan

Ada masa ia menangis karena keterbatasan. Ada gagal, ada tekanan, ada lelah yang dalam. Hampir ia mempertanyakan dirinya sendiri. Tapi ia ingat perjuangan orang tua di kampung. Ia ingat alasan ia meninggalkan rumah. Air mata menjadi cara menguatkan hati. Dari situlah ia belajar bangkit dan berbenah.

“Saya menyadari bahwa menangis bukanlah tanda kelemahan. Terkadang, air mata justru menjadi cara untuk menguatkan hati dan memulai kembali. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa kegagalan dan kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru dari situlah seseorang belajar untuk berbenah dan menjadi lebih kuat,” ucapnya.

Baca Juga :  Siti Khadija: Dari Ares ke Sarjana

Hal yang paling berkesan adalah perjalanan organisasi. Kepercayaan memimpin dari fakultas ke universitas. Bertemu banyak orang, menyelesaikan banyak persoalan. Berdebat, berdiskusi, menyelenggarakan kegiatan. Tidak semua mudah, tapi semua mendidik. Hal yang paling berharga adalah sahabat yang ditemukan. Mereka menjadi keluarga kedua dalam hidupnya.

Mimpinya untuk kampung dan NTT jernih: melihat generasi muda maju dalam ilmu dan karya. Anak kampung tidak perlu minder karena asal. Justru asal itu harus jadi bahan bakar. Ia ingin melihat lebih banyak anak NTT kuliah tinggi, jadi pemimpin, jadi pembaharu. Karena cahaya juga bisa lahir dari timur.

Untuk adik-adik yang sedang dan akan merantau, ia berpesan. “Jangan takut keluar dari zona nyaman. Akan ada rindu, ada sesak, ada ingin pulang. Datanglah dengan tujuan, bukan ikut arus. Pakai waktu untuk belajar dan bertumbuh. Jaga nama baik keluarga dan kampung. Berdoalah, rendah hatilah, dan banggalah pada asalmu,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Karier dan Penjaga Hati

Kini ia mengabdi di Universitas Muhammadiyah Mataram. 2017-2024 sebagai pegawai, 2025 sampai sekarang sebagai dosen PBSI FKIP. Ia juga aktif di Ortom Muhammadiyah: Ketua Bidang Organisasi PDPM Kota Mataram 2024-2026, Sekretaris Majelis Tabligh PWM NTB 2022-2027.

Ia bertemu dan menikah dengan pnjaga hatinya: Purnawati, Alhafizah, pada Rabu 26 Juni 2019. Kini kedunya dikaruniai tiga anak hebat dan masih lucu-lucunya: Muhammad Nazril Alhazim, Muhammad Rizqulloh Aljadid, dan Aqlan Zaidan Almannan

Terima Kasih

Ia berterima kasih kepada Rektor dan dosen UMMAT. Atas ilmu, bimbingan, arahan, dan pengalaman. Atas pendidikan tentang karakter dan tanggung jawab. Semua itu menjadi bekal dalam hidup. Semoga mereka diberi sehat, berkah, dan kekuatan. Untuk terus melahirkan generasi terbaik bangsa. Karena guru yang baik tidak pernah benar-benar pensiun.

Untuk orang tuanya, ia menunduk dalam syukur. Tak ada kata yang cukup membalas pengorbanan. Setiap langkahnya ada doa yang tak putus. Setiap keberhasilannya ada peluh yang tak terlihat. Ia hanya ingin menjadi anak yang membanggakan. Semoga Allah jaga kesehatan dan umur mereka. Terima kasih telah percaya pada anak kampung yang bermimpi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *