Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buki “Inspirator Muda Indonesia: Dari Kampung untuk Dunia”
SILVI Juliarni, S.Ag, lahir dari tanah yang sederhana namun menyimpan doa. Tanak Beak, Lombok Barat, NTB, menjadi saksi pertama tangisnya pada Rabu 10 Juli 2002. Di sanalah waktu menuliskan namanya dengan tinta ketulusan. Bukan dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan ia ditempa. Setiap debu kampung mengajarinya arti rendah hati. Setiap angin sore membisikkan bahwa hidup adalah perjalanan. Dan dari perjalanan itu, ia belajar menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Keluarga
Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara, buah hati Herwan dan Saruni. Ayahnya seorang buruh, yang memahat rezeki dengan keringat dan kesabaran. Ibunya seorang IRT, yang merajut rumah dengan doa dan kasih. Dari tangan ayah ia mengenal arti kerja tanpa pamrih. Dari peluk ibu ia mengenal arti cinta yang tidak bersuara. Kakaknya, Ferdi Sarwan Duri, menjadi penopang pertama dalam langkahnya. Keluarga kecil itu mengajarkan bahwa cukup bukan soal jumlah, melainkan keberkahan.
Ibu adalah rumah pertama tempat Silvi belajar tentang kehidupan. Dari kesederhanaannya, ia diajarkan bahwa cinta sering hadir dalam diam. Ibu mengubah luka menjadi ikhlas, dan benci menjadi doa. Ketika dunia membuatnya merasa kecil, ibu mengingatkannya bahwa ia berharga. Dalam tatapan ibu ada sekolah tentang kesabaran yang tidak tertulis di buku. Ibu tidak memberi gelar akademik, tetapi memberi gelar kemanusiaan. Dari sanalah Silvi belajar bahwa pendidikan sejati dimulai dari hati.
Bapak adalah guru tentang keberanian yang tidak pernah menyerah. Ia menunjukkan bahwa hidup memang tidak selalu menyediakan jalan mulus. Ada duri, ada luka, ada hari-hari yang terasa berat. Namun bapak mengajarkan untuk tetap berdiri meski lutut gemetar. Keberanian, katanya, bukan tidak takut, melainkan tetap melangkah. Dari keteguhan bapak, Silvi belajar menenun harapan di tengah badai. Dan dari sanalah tumbuh jiwa yang tidak mudah patah.
Kakak hadir sebagai jangkar ketika badai perceraian mengguncang rumah. Ia menjadi telinga saat hati terlalu penuh untuk dipendam sendiri. Ia menjadi penasihat saat langkah ragu di persimpangan. Kehadirannya tidak selalu menghapus luka, tetapi membuatnya tidak sendirian. Dari kakak, Silvi belajar bertahan ketika harapan terasa jauh. Dari genggamannya, ia belajar bahwa keluarga adalah tempat pulang. Tiga cinta itu—ibu, bapak, kakak—menjadi kompas hidupnya.
Pendidikan
Langkah pendidikan Silvi dimulai di MI Al-Banun, 2009 hingga 2014. Di sana huruf pertama bertemu dengan iman pertama. Ia melanjutkan ke MTs Nurul Hakim, 2015 sampai 2018. Lalu menuntaskan masa aliyah di MA Nurul Hakim, 2019 hingga 2021. Setiap gerbang sekolah bukan sekadar ijazah, melainkan tangga jiwa. Di ruang kelas ia belajar membaca, di kehidupan ia belajar memahami. Dan setiap guru menjadi lentera yang menuntun ke arah yang lebih terang.
Tahun 2021, ia menjejakkan kaki di UIN Mataram. Memilih Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama. Baginya al-Qur’an bukan sekadar hafalan, melainkan cermin kehidupan. Empat tahun ia menimba, hingga 2024 menyandang gelar sarjana. Di kampus ia tidak hanya mencari ilmu, tetapi mencari makna. Setiap ayat menjadi jendela, setiap tafsir menjadi jalan pulang. Dan dari sanalah ia belajar bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kosong.
“Selama kuliah, saya menemukan banyak hal unik yang ternyata tidak hanya mengubah cara saya belajar, tetapi juga mengubah cara saya memandang kehidupan. Saya menyadari bahwa kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai dan mendapatkan gelar, tetapi tentang menemukan diri sendiri di tengah banyaknya ilmu, pengalaman, dan pertemuan dengan orang-orang yang berbeda,” jelasnya.
Organisasi
Di tengah kuliah, ia bergabung dengan An-Nadi, organisasi bahasa Arab. Menjadi anggota di bidang kewanitaan, ia menemukan ruang untuk tumbuh. Baginya bahasa Arab dan al-Qur’an adalah dua sayap yang tidak terpisah. Ia ingin memahami ayat bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati. An-Nadi mengajarinya bahwa kata memiliki ruh, dan ruh itu cahaya. Dari latihan berbicara hingga mendalami makna, ia semakin mendekat. Organisasi menjadi madrasah kedua yang membentuk karakternya.
Berorganisasi mengeluarkannya dari zona nyaman yang selama ini menenangkan. Di sana ia gagal, lalu bangkit, lalu belajar lagi. Kepercayaan diri tumbuh perlahan seperti tunas setelah hujan. Kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan keberanian dipupuk bersama. Ia menyadari potensi bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dibagi. Menjadi mampu adalah penting, tetapi menjadi berguna jauh lebih utama. Dan di situlah ia menemukan arti bertumbuh yang sesungguhnya.
Kuliah mengajarkannya bahwa satu ilmu bisa memiliki seribu wajah. Bahwa pertemuan dengan manusia adalah kitab yang tidak bersampul. Di perantauan ia belajar menjadi rumah bagi dirinya sendiri. Kesendirian melahirkan kemandirian, rindu melahirkan syukur. Perbedaan mengajarinya toleransi, dan perjalanan mengajarinya dewasa. Ia menemukan bahwa jauh dari keluarga bukan kehilangan, melainkan ujian. Dan dari ujian itu lahir manusia yang lebih utuh.
“Hal yang paling saya rasakan, organisasi membantu saya keluar dari zona nyaman. Saya dipertemukan dengan berbagai pengalaman dan tantangan yang memaksa saya untuk terus berkembang. Dari sanalah rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan keberanian dalam mengambil keputusan perlahan tumbuh,” ungkapnya.
Prinsip, Inspirasi dan Pengalaman Berkesan
Prinsip yang ia jaga sederhana: di mana pun berada, yakin Allah ada. Nasehat orangtuanya menjadi kompas di setiap persimpangan. “Jangan jauh dari Allah. Jika lelah, pulanglah dengan doa.“ Jika luka, rawatlah dengan sabar. Jika bahagia, syukurilah.” Ia belajar bahwa hidup adalah pertemuan antara ikhtiar dan takdir. Tidak semua yang hilang adalah kehilangan, kadang itu perlindungan. Dan tidak semua yang tertunda adalah penolakan, kadang itu penataan.
Kalimat yang ia pegang adalah: “Jika Tawa Bisa Kau Ukir, Kenapa Luka Tak Bisa Kau Usir?” Kata itu mengingatkannya bahwa harapan selalu punya ruang.
Sosok yang paling menginspirasi tetaplah ibu. Bukan karena gelar, tetapi karena pengorbanan dan doa yang tak putus. Dari ibu ia belajar bahwa pendidikan sejati adalah keteladanan.
Ada masa ia menangis karena merasa tidak cukup. Membandingkan diri, meragukan diri, hingga lupa pada keunikan sendiri. Namun dari air mata itu ia memilih berbenah dengan ilmu. Ia mengisi kekosongan dengan belajar, bukan dengan keluh.
Pengalaman paling berkesan adalah saat Kuliah Kerja Nyata. Di sana ia melihat bahwa hal kecil bisa menjadi sangat berarti. Mengajar, mendengar, dan hadir tulus ternyata adalah ibadah
Karier, Impian dan Harapan
Kini ia mengabdi sebagai guru di MI Al-Banun sejak 2025. Di tempat yang sama ia dulu belajar membaca huruf. Kini ia membantu anak lain mengeja harapan. Selain mengajar, ia juga memberi les calistung. Baginya mengajar adalah melanjutkan rantai cahaya. Dari murid menjadi guru, dari menerima menjadi memberi. Dan di setiap papan tulis ia menuliskan masa depan.
Mimpinya untuk Lombok Barat sederhana namun dalam. Ia ingin Lombok Barat maju dalam pendidikan dan agama. Anak-anak tumbuh tanpa takut bermimpi karena keterbatasan. Generasi muda berilmu, berakhlak, dan membawa nama daerahnya jauh. Kemajuan berjalan beriringan dengan budaya dan nilai keislaman. Baginya membangun bukan hanya gedung, tetapi membangun manusia. Karena daerah yang kuat lahir dari hati yang berilmu.
Untuk para pelajar dan mahasiswa yang masih menempuh pendidikan, ia berpesan dengan lembut. “Jangan takut pada jarak, karena ilmu memang menuntut keberanian. Bawalah doa orang tua, titipkan langkah pada Allah. Pulanglah, bukan hanya membawa gelar, tetapi membawa akhlak,” ucapnya dengan penuh semangat.
Kepada para guru, rektor dan para dosen, ia menunduk dalam terima kasih. “Jazakumullāhu khairan katsīran atas ilmu dan kesabaran.” Semoga setiap ajaran menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Dan setiap lelah mendidik dibalas dengan keberkahan.
Untuk ibu dan bapak, ia mempersembahkan sujud syukur. “Terima kasih atas doa yang tidak pernah berhenti.” “Atas kasih yang tidak pernah menghitung.” Ia berharap Allah menjaga, menyehatkan, dan memberkahi usia mereka. Jika hari ini ia melangkah, itu karena ada doa yang mengiringi. Semoga suatu hari ia bisa menjadi alasan senyum mereka. Dan menjadi kebanggaan yang tidak mengecewakan.
Gelar sarjananya tidak ia simpan untuk dirinya sendiri. Ia hadiahkan untuk Allah, untuk Agama, Nusa dan Bangsa. Serta untuk seluruh manusia yang hidup di muka bumi. Karena ia percaya ilmu adalah titipan, bukan milik. Dan hidup adalah perjalanan memaknai titipan itu. Dari Tanak Beak, ia melangkah dengan doa dan kerja. Menjadi cahaya kecil yang berharap menerangi banyak arah. (*)






