Opini

Terima Kasih Mas Ivan Gunawan

4
×

Terima Kasih Mas Ivan Gunawan

Share this article
IMG 20260831 WA0074
Foto : Istimewa/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Renungan Ke Harapan”

DI tengah retakan tanah Flores dan isak panjang yang belum juga reda, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belajar berdiri. Rumah runtuh, sawah retak, dan malam-malam warga diisi doa agar esok lebih ringan dari hari ini. Luka itu tidak berteriak, ia hanya duduk diam di sudut dapur yang kosong. Tapi di dalam diam itu, harapan kecil masih dinyalakan, seperti bara yang enggan padam.

Lalu datang kabar yang membuat dada sedikit lega. Bukan kabar besar yang mengguncang, melainkan kabar hangat yang menenangkan, seperti pelita kecil di serambi saat hujan belum berhenti. Cahaya itu tidak menyilaukan, ia hanya cukup untuk menunjukkan jalan pulang. Dan untuk sesaat, orang-orang berhenti menghitung kehilangan, lalu mulai menghitung apa yang masih bisa diselamatkan.

Ivan Gunawan, nama yang selama ini kita kenal di layar dan di atas panggung mode, memilih turun dengan cara yang sederhana. Ia membawa kepedulian, bukan sekadar sorotan. Ia datang bukan untuk tampil, tapi untuk berbagi. Ia menanggalkan gemerlap sebentar, lalu memakai empati sebagai busana utama. Karena ia tahu, ada keindahan yang tidak diukur dari jahitan, melainkan dari seberapa tulus kita menolong.

Di sebuah meja sederhana, diserahkan papan bertuliskan “Donasi Peduli Gempa NTT – Nusa Tenggara Timur”. Di bawahnya tertera angka: Rp250.000.000. Angka itu bukan sekadar nominal. Ia adalah jembatan antara empati dan tindakan. Papan itu ringan di tangan, tapi berat maknanya di hati. Ia menjadi bukti bahwa niat baik, ketika ditulis dan diserahkan, bisa berubah menjadi atap untuk orang lain.

Hari itu Ivan tidak sendiri. Di sampingnya berdiri perwakilan penyelenggara, juga nama-nama yang turut menguatkan langkah: Mandhira, Syar’eva, dan BAZNAS. Tangan-tangan berbeda bertemu di atas satu tujuan yang sama. Tidak ada yang merasa paling depan, karena semua berjalan sejajar. Di sanalah kita belajar, bahwa kebaikan paling kuat ketika ia dikerjakan bersama, bukan sendiri.

Baca Juga :  Apa Kabar Penilaian 360 Derajat?

Donasi ini mengingatkan kita bahwa kemanusiaan tidak menghitung panggung. Kadang ia datang dari dunia glamor, lalu berjalan kaki menuju pelosok yang sedang luka, tanpa menuntut tepuk tangan. Ia tidak butuh sorot lampu, ia hanya butuh sampai. Dan ketika sampai, ia berubah menjadi tenaga baru bagi mereka yang hampir menyerah. Dia menjadi tambahan energi untuk bangkit.

Dua ratus lima puluh juta itu diharapkan menjadi nasi hangat, tenda yang menahan angin, obat untuk demam anak-anak, dan sedikit harapan untuk memulai lagi. Untuk warga yang masih tidur dengan waspada, karena tanah pernah mengkhianati pijakan. Semoga setiap rupiahnya menemukan rumahnya. Semoga ia berubah menjadi senyum yang kembali muncul di wajah ibu-ibu yang sudah lama menahan tangis.

Gempa memang sudah lewat, tapi bekasnya tinggal. Dinding retak bisa diperbaiki, namun rasa takut butuh waktu lebih lama untuk dirapikan. Di sanalah bantuan menjadi bahasa yang paling dimengerti. Bahasa itu tidak berisik, ia hadir dalam bentuk beras, air bersih, dan sapaan. Dan bahasa itu pelan-pelan mengajari hati untuk percaya lagi pada hari esok. Bahwa esok NTT lebih baik dan makin pulih.

Berita tentang bantuan terus mengalir dari berbagai penjuru. Ada yang membawa air, ada yang membawa selimut, ada pula yang membawa doa dari kejauhan. Semuanya menambah satu cerita besar bernama solidaritas. Setiap kiriman adalah surat cinta tanpa amplop. Dan setiap tangan yang membantu adalah tanda bahwa kita tidak pernah benar-benar jauh, walau dipisah pulau dan jarak.

Ketika kabar donasi Ivan Gunawan sampai ke ruang publik, ia tidak menjadi gosip. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah duka, masih ada orang yang memilih menoleh dan bertanya, “apa yang bisa kulakukan?” Pertanyaan itu sederhana, tapi ia memindahkan gunung. Karena dari satu orang yang bertanya, bisa lahir seribu tangan yang menjawab. Dan selama ini sudah menjadi nyata.

Baca Juga : 

Mungkin inilah cara semesta menyeimbangkan luka. Dengan menghadirkan orang-orang yang tidak menunggu diminta, yang datang membawa cahaya kecil agar kegelapan tidak terlalu lama berkuasa. Cahaya itu tidak menghapus malam, tapi ia cukup untuk membuat kita berjalan. Dan berjalan, meski pelan, tetap lebih baik daripada berhenti.

Dan NTT, dengan segala kekuatannya yang diam, akan terus menerima. Bukan karena lemah, tapi karena tahu bahwa hidup adalah tentang saling mengangkat. Dari Jakarta ke Flores, dari panggung ke desa, dari hati ke hati, kepedulian itu mengalir. Seperti sungai yang tidak pernah bertanya siapa yang haus, ia hanya berjalan, memberi. Terima kasih Mas Ivan Gunawan! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *