Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”
MUNGKIN kita sama. Saya tidak punya rumah yang bisa disebut milik. Tidak ada mobil yang terparkir rapi di halaman kontrakan. Tidak ada motor yang siap menyalakan mesin tiap pagi. Tidak ada surat bantuan dari program pemerintah yang mampir. Tidak ada amplop sumbangan dari organisasi mana pun yang mengetuk pintu. Kosong di daftar harta dunia. Tapi uniknya, dada ini tidak pernah benar-benar kosong.
Saya punya empat anak. Satu duduk di kelas 3 setingkat SMP, dua di kelas 6 SD, tiga di kelas 1 SD, dan yang keempat baru 2 tahun lebih. Bayangkan saja riuhnya: buku, sepatu, seragam, susu, obat, tawa, tangis, pertanyaan yang tak pernah habis. Kebutuhan mereka seperti sungai yang terus mengalir. Dan di hulu sungai itu, ada saya dan istri yang juga haus.
Biaya sekolah tiga anak sekolah bukan angka kecil. Biaya makan empat mulut kecil tidak pernah libur. Ditambah beras, gas, listrik, kontrakan, dan semua hal kecil yang kalau dijumlah jadi besar. Secara logika, seharusnya gelisah. Secara hitungan, seharusnya sesak. Tapi hidup ini tetap berjalan. Dan yang berjalan itu bukan karena kuatnya kita, tapi karena kuatnya tangan Allah yang menuntun.
Ajaibnya, pagi tetap datang. Kami masih bisa beribadah tanpa tergesa, masih bisa belajar walau hanya membaca satu halaman buku, masih bisa berkarya walau dengan tangan yang terbatas. Tidak mewah, tapi tenang. Tidak berlebih, tapi cukup. Dan cukup itu, ternyata seluas samudra kalau dilihat dengan mata syukur. Cukup itu rumah yang tak bocor saat hujan, dan hati yang tak bocor saat diuji.
Kuncinya hanya satu kata yang diulang-ulang hati: syukur. Syukur bukan karena semua sudah sempurna. Syukur karena Allah tidak pernah lalai menimbang napas kita, detak jantung kita, dan rezeki yang datang lewat celah-celah yang tak kita duga. Syukur membuat yang sedikit terasa penuh, dan yang penuh tidak membuat kita lupa.
Allah sendiri yang mengingatkan dalam Firman-Nya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini bukan janji manis. Ini hukum langit. Menambah karena syukur, bukan karena menuntut.
Coba kita audit diri sendiri saat ini. Dari ujung rambut yang masih bisa merasakan sisir, alis yang melindungi mata, mata yang masih bisa melihat wajah anak, telinga yang masih mendengar adzan, lidah yang masih bisa menyebut “Alhamdulillah”. Turun lagi. Tangan yang masih bisa bekerja, kaki yang masih bisa melangkah, perut yang masih bisa kenyang walau sederhana, tidur yang masih bisa pulas. Itu semua bukan barang murah. Itu mahkota yang tidak dijual di pasar.
Kekayaan sejati bukan di rekening. Kekayaan adalah ketika tubuh ini masih berfungsi tanpa harus membayar sewa. Bayangkan kalau tiap hela napas ditagih. Kalau tiap detak jantung dipungut. Kita bangkrut sedetik saja. Tapi Allah memberinya gratis, lengkap, dan terus-menerus. Itulah kekayaan yang tidak akan pernah bisa diumumkan di koran, tapi dirasakan setiap detik di dada.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita: “Barang siapa yang bangun pagi dalam keadaan sehat badannya, aman di tempat tinggalnya, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi). Sehat. Aman. Ada makan hari ini. Bukankah tiga itu sudah kita pegang sekarang?
Maka saya menatap empat anak saya dan berbisik: kita kaya. Kaya karena masih bisa sekolah walau harus menabung pelan-pelan. Kaya karena masih bisa tertawa di meja makan yang lauknya sederhana. Kaya karena ada satu sama lain untuk dipeluk ketika dunia terasa sempit. Rumah bisa ngontrak. Motor bisa tidak ada. Tapi cinta, iman, dan kebersamaan tidak pernah habis masa sewanya.
Orang kaya bukan yang paling banyak mengumpulkan. Orang kaya adalah yang paling sedikit mengeluh karena ia paling banyak melihat. Melihat hujan yang menumbuhkan, melihat anak yang tumbuh, melihat iman yang dijaga, melihat waktu untuk sujud yang tidak pernah ditutup pintunya. Karena yang ia hitung bukan yang hilang, tapi yang masih Allah titipkan hari ini.
Jadi jika hari ini dompet tipis, jangan buru-buru merasa miskin. Periksa dulu gudang nikmat yang tidak terlihat. Selama masih bersama Allah, masih ada napas, masih ada keluarga, masih ada kesempatan untuk bersyukur, maka kita semua adalah orang kaya. Dan orang kaya yang bersyukur, janjinya jelas: akan ditambah. Ditambah tenang, ditambah barokah, ditambah jalan keluar dari arah yang tidak pernah kita sangka. Alhamdulillah. (*)






